Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Perdebatan


__ADS_3

Bintang, Irsyad dan Risda melangkahkan kaki mereka santai menuju parkiran. Bintang dan Irsyad telah duduk pada tempat mereka masing-masing yaitu Bintang duduk di kursi kemudi dan Irsyad duduk di kursi belakang sedangkan Risda sendiri masih berdiri diluar mobil sambil memegang knop pintu mobil. Risda berdiri terpaku tanpa gerakan, arah mata Risda terpaku pada satu subjek tujuan.


Irsyad yang mulai tidak sabar menunggu Risda sang kakak yang kunjung tak menaiki mobil lantas berkata dengan sedikit teriakan "kakak tunggu siapa lagi. Kalau kakak bertemu orang yang kemarin, lebih baik kakak tunggu di rumahlah. Bisa langsung ketemu sama bapak" ucap Irsyad yang tak sengaja melihat Albert melintas menuju parkiran juga, setelahnya Irsyad bersandar lagi mencari posisi ternyaman untuk tidur.


Risda terus menatap Albert yang berjalan sedikit tergesa-gesa munuju parkiran dan kemudian menyetir mobilnya sampai tepat depan pintu masuk RS untuk menjemput Marliza Selin atau yang sering dipanggil dengan sebutan Liza yang baru saja terlihat duduk di kursi roda yang didorong oleh salah satu petugas kesehatan.


Albert turun dari mobil, mendekat kearah Liza dan menggendong Liza masuk dalam mobil dikarenakan kondisinya yang lemah.


Risda terus menatap Albert dan Liza yang begitu lekat tak ada kedipan yang terlihat.


Sakit. Ya Risda merasakan sakit luar biasa pada hatinya ingin rasanya Risda melabrak Albert dan Liza yang sedang berduan yang begitu mesra terlihat di mata Risda namun logika Risda masih sedikit berfungsi tidak mungkin melabrak, emangnya aku siapanya Albert.


Hati yang telah terpikat dan terikat sangat sulit untuk melepaskan diri. Tersayat hati dikarenakan suatu cemburu tanpa ikatan sungguh memalukan. Cinta tanpa hubungan halal ialah suatu ujian, yaitu ujianku dalam mencintaimu dalam diamku, melatih kesabaranku, meredam amarah cemburuku. Sampai kapan?. Aku tidak tahu yang jelas aku sangat mencintaimu. Ahmad Alfarisi Albert salam cinta berupa mendamba dariku Risda Zay Akli.


Dadaku berdesakan saat dihimpit cemburu, kepalaku mengingat memori kenangan lalu, gerakanku tidak berfungsi untuk menghilangkan cemburu menggebu ini. Aku hanya mampu menatap sedih dikau pergi dengan cintamu itu sedangkan cintaku terbujur kaku tiada fungsi bersemayam di hati seorang diri. Risda Zay Akli.


Albert telah berlalu pergi tanpa melihat Risda yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan seksama. Risdapun masuk dalam mobil dengan membanting pintu kencang sehingga membuat Irsyad yang hampir terlelap tersentak kaget karena ulah Risda itu.


Bintang tersenyum simpul menatap Risda yang menahan kekesalan yang luar biasa itu "bagaimana hasilnya. Pemandangannya sangat indah bukan?" menaik turunkan alisnya "sakitkan?" tanya Bintang kemudian dengan mimik yang sudah berubah serius.


"Diamlah. Kalau hal mengejek kamu tidak segan-segan mengeluarkan kata-katamu ya Bint" menatap tajam Bintang "biasanya kamu ngomong iritnya kebangetan. Udah muka kamu pelit senyum lagi".


"Kakakpun sama kayak abang. Muka kalian sama-sama datar sedatar tembok" sarkas Irsyad sambil membuang muka jengkel karena tidurnya terganggu.

__ADS_1


Sarkas kata dari Irsyad menghentikan perdebatan antara Bintang dan Risda, lantas Risda mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil menatap aktifitas orang lainnya yang sibuk dengan aktifias mereka masing-masing sedangkan Bintang sendiri kini sedang menyetir dalam diamnya tanpa kata namun tidak dengan pikirannya yang begitu berisik seakan memberontak karna hadirnya kecemburuan dan kemarahan.


Dasar Risda bodoh. Dimana otak cerdasmu ha? teriak hati Bintang pada Risda tentu Risda tidak mendengarkannya. Apakah matamu tertutup sampai tidak bisa melihat cintaku padamu yang tulus ini hanya untukmu. Risda Zay Akli sayangku kenapa kamu terlalu bodoh mencintai dia yang tidak mencintaimu.


Serangkaian umpatan Bintang tujukan pada Risda. Bintang melirik sekilas pada Risda yang duduk tenang menatap lurus ke depan memperhatikan jalan.


"Ada apa?" tanya Risda yang memyadari tatapan Bintang untuk dirinya sekilas.


"Tidak ada".


"Waw. Menakjubkan" teriak Irsyad yang semenjak tadi memperhatikan dua sahabat yang baru saja berdebat tidak jelas, tidak jelas menurut Irsyad. "Kakak keren sekali" tepuk tepuk tangan sendiri.


Risda melihat kebelakangnya dan melihat Irsyad yang heboh sendiri "kenapa kamu?".


Hembusan napas frustasi sebagai jawaban dari Risda dan Risda kembali duduk tenang kembali seperti sedia kala.


Bintang tidak menyahut hanya diam menyimak saja. Menurut Bintang hal luar biasa menurut Irsyad sudah biasa bagi Bintang.


Perjalanan pulang kembali terasa hening, ocehan Irsyad juga telah usai karena tidak dianggap lagi oleh Bintang maupun Risda.


Kini sampailah Bintang, Irsyad dan Risda di rumah. Adi, Nur, Rita dan Zay menunggu Risda sampai untuk menyambutnya pulang dan yang pastinya yang paling heboh dalam menyambut kedatangan Risda adalah Rita.


Risda turun dari mobil dan mendekati orangtua, abang dan sahabatnya yang menyambut kepulangannya. Hanya sekitar satu jam saja mereka  berkumpul kemudiannya suara adzan berkumandang menandakan waktu telah memasuki saat shalat magrib. Para laki-laki beranjak melangkahkan kaki mereka menuju masjid sedangkan para cewek cewek menunaikan shalat di mushala dalam rumah saja.

__ADS_1


"Assalamu'laikum" ucap salam kompak Adi, Bintang, Irsyad dan Zay yang saja kembali dari masjid.


Tidak ada jawaban salam yang terdengar. Empat pasang mata menatap Risda heran yang sedang senyum-senyum sendiri di depan layar monitor yang menyala. Risda duduk diruang tamu, kursi sofa sambil memangku laptop dan juga tidak lupa kertas berisikan plot-plot naskah Risda yang berserakan diatas meja.


Biru warnanya, bergerak dan bergelombang tata letaknya. Digenggam tangan tidak tertampung namun bila terjatuh kedalamnya badan bisa megapung.


Terumbu karang menancap dari bawah lautan dalam dua atau tiga mil dibawahnya menjulang tinggi keatasnya yang siap menghantam kapal pesiar yang melintas keatasya. Bencana baru dimulai, bagian bawah kapal retak bocor menyelinap masuk air ke dalam kapal. Ketidaksikron keseimbangan antara beban kapal dengan air laut, perlahan kapalnya karam sampai ke palung mariana tanpa jasad body kapal yang mampu terangkat seolah-olah terkunci untuk kembali.


*Begitu dengan rasaku yang mencintai tanpa dicintai bagaikan bencana. Aku tenggelam dalam lautan cinta berairkan rindu. Aku terperangkap dalam palung mariana hatimu, aku terjerat bagaikan terikat rantai yang panjang dan tekanan yang tak terhingga jumlahnya. Itulah aku yang tenggelam dalam kedalaman hatimu, sayangku. Ahmad Alfarisi Albert. *Risda Zay Akli.


"Ehemmmm" empat deheman keras tedengar kompak di pedengaran Risda, tentu saja kekagetan menghampiri Risda "Astaqfirullah. Albert" ucap Risda sambil melompat di tempat.


Adi, Bintang dan Zay menatap datar pada Risda yang tidak suka kata lontaran kedua yang keluar dari mulut Risda, terlebih Bintang yang begitu kesal menghadapi Risda yang hanya menyebutkan Albert, Albert, Albert saja di pikirannya sedangkan Irsyad hanya terkikik geli seorang.


"Cieeee. Kakak suka sama Albert" goda Irsyad setelahnya.


Adi, Bintang dan Zay menatap Irsyad tajam sekilas dan lalu meninggalkan Irsyad dan Risda berdua.


"Kak. Albert itu siapa?" kepo Irsyad.


" Diamlah" sahut  Risda yang rada-rada malu namun gengsi mengakui.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2