
"Dari kemarin Bintang baik-baik saja pak, cuman di pasar pagi kemarin pada saat Bintang membangunkan Risda untuk berbelanja Bintang mengatakan ada Albert yang sedang menanyakan keberadaan Risda pak" jadi Risda tanya "dimana". Mungkin itu salah satu penyebab Bintang jadi sakit.
Adi, Rita dan Zay menarik napas mereka bersamaan dan menghembuskannya kasar. Mereka sedikitnya tahu kalau Risda menyukai Albert dan mereka juga mengetahui kalau Bintang juga sangat menyukai Risda.
Pandangan Zay kini beralih menatap Rita. Rita yang baru dipandang belum juga Zay menanyakan apapun padanya sudah duluan menjawab "saya tidak tahu apa-apa pak".
"Saya belum tanya apa-apa sama kamu, kenapa langsung kamu jawab tidak tahu apa-apa".
Rita hanya menampilkan mimik wajah cengengesan berharap Zay tidak menanyakan persoalan Bintang pada dirinya. Rita menghembus napasnya perlahan tanda selamat akan pertanyaan yang ingin datang menghampiri dirnya.
Zay yang melihat Rita yang seperti bernapas lega menarik sedikit sudut bibirnya ingin tersenyum namun di tahannya. Zay tidak banyak tanya pada Rita karena Zay sedikit tahu permalasahan anak-anaknya karena secara diam-diam Zay mengawasi anak-anaknya dengan caranya sendiri hanya saja anak-anaknya yang tidak menyadarinya.
Zay setelah menanyakan apa yang terjadi pada Bintang pada anak-anaknya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam perkara ini hanya pernyataan berupa nasehat yang hanya bisa Zay berikan pada anak-anaknya terutama bagi Risda.
"Risda".
"Iya pak".
"Kamu sayang pada diri kamu sendiri".
"Sayang pak".
"Seberapa dalam kamu menyukai Albert dosen kamu itu?".
Risda sebetulnya terkejut bagimana bisa bapaknya ini tahu kalau pekerjaaan Albert ialah sebagai seorang dosen. Tidak ada jawabaan dari Risda hanya menunduk kepala tanda pasrah yang bisa ia lakukan. Jika sudah seperti ini kejadiannya Risda tidak akan membantah hanya akan berdiam diri menyimak setiap nasehat yang di berikan Zay".
"Kenapa diam?".
"Maaf pak".
Zay lagi-lagi hanya bisa menghembuskan napasnya kasar karena menurut pandangan penilaian Zay, Risda sendiri tidak tahu seberapa dalam sudah rasa di hatinya menancap untuk Albert pujaan hatinya.
"Risda".
"Iya pak".
"Cita-cita kamu apa nak?"
__ADS_1
Risda mengernyitkan dahinya tanda bingung karena tadi pembahasan mereka mengenai penyebab Bintang sakit, tadi cinta sekarang kok malah cita-cita persoalannya. Walaupun sedikit bingung Risda tetap menjawab "Polwan pak".
"Lalu kenapa juga kamu sibuk memikirkan cinta yang tidak pasti ada atau tidaknya balasan akan cintamu itu".
Risda diam bungkam tidak tahu harus menanggapinya dengan apa yang bapaknya bilang tidak ada salahnya sedikitpun. Risda menundukan kepalanya dalam dan dalam hati Risda mengikrarkan janji apapun yang terjadi dirinya harus bisa menggapai cita-citanya menjadi Polwan.
Zay melihat Risda yang bungkam dan menundukan kelapa yakin bahwa Risda sedikit sadar cintanya yang tidak pasti itu dan sedikit tertampar dengan pertanyaannya itu lalu Zay beranjak meninggalkan Adi, Risda dan Rita di taman itu dan beralih melangkahkan kakinya kembali dalam ruangan Bintang.
Dua hari sudah Bintang di rawat di RS tetapi masih belum di perbolehkan untuk pulang. Bintang yang tidak pernah merasakan bermanja-manja berleha-leha nyantai tidak melakukakn aktivitas apapun rasa bosan menghampirinya.
Dokter memasuki ruangan untuk memeriksa kesehatan Bintang. "Bagaimana keadaan adek sudah sehat?".
"Sehat dok"
Dokter yang bertugas memeriksa Bintang melihat Bintang yang melamun. "Adek" panggil dokter tersebut untuk menyadarkan Bintang dari lamunannya.
Bintang menolehkan kepalanya sebentar dan sedikit memaksakan senyuman dari wajah datarnya itu.
"Adek lagi putus cinta ya?"
Bintang menaikkan sebelah alisnya menanggapi kebenaran dari tebakan dokter tersebut. "Tidak" jawab Bintang bohong lalu megalihkan pandangnnya.
"Besok sore ya"
"Tidak adakah kompensasi bisa pulang sekarang?".
Dokter dan perawat yang memeriksa Bintang tersenyum dan mengatakan "soal kesehatan mana bisa dikompensasi, ada-ada aja kamu".
Hari yang di tunggu Bintang terlaksa juga. Kemarin Bintang yang meminta kompensasi pulang lebih cepat di tolak oleh dokter. Hari ini Bintang meminta kompensasi lagi untuk bisa pulang lebih cepat. Bintang begitu senang saat diperbolehkan langsung bisa pulang. Bintang begitu jenuh di rawat di RS yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa melakukan aktivitas makan dan tidur saja.
Dokter keluar ruangan setelah sebelumnya mencabut selang jarum infus yang menancap di tangan kiri Bintang, Bintang segera beranjak membereskan barang-barangnya setelah sebelumnya dirinya menelpon Adi terlebih dahulu untuk menjemput dirinya namun Adi tidak bisa untuk dihubungi.
Satu jam berlalu Adi baru terlihat lagi dalam pandangan Bintang. "Dari mana saja bang".
"Kantin. Eh kamu mau kemana kok udah rapi begini, sudah boleh pulang ya?".
"Sudah. Hp abang kemana?. Lebih baik di tarok di pajak gadai aja ya".
__ADS_1
"Ngak mau, sayang aku ini" jawab Adi sambil menunjukan hpnya itu lalu menciumnya.
Bintang hanya berpaling sebentar pada Adi yang sedang menunjukan Hp milik pribadinya itu. Lalu segera melanjutkan mengemas buku dan laptopnya. Bintang walaupun sakit tetap menjalankan tugasnya sebagai asisten dari seorang CEO dari perusahaan kilang padi yang Adi miliki.
"Abang selesaikan administrasi dulu ya".
"Sudah selesai".
"Haa kapan selesainya?". tanya Adi bingung pada Bintang.
"Tadi. Ayok pulang bang".
Adi bertambah bingung. Ini kondisinya kurang stabil aja masih menyelesaikan apapun sendiri. Betul-betul mandiri pikirnya.
"Obat sudah di tebus Bint"
"Ini" Bintang menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan resep obat apa saja yang harus di tebus ke apotik yang di tunjuk khusus oleh dokter yang memeriksa Bintang tadi pagi.
Adi menerima secarik kertas yang di berikan oleh Bintang dan Adi juga mengambil dua tas milik Bintang yang Bintang sangkut di bahu kirinya satu dan bahu kananya satu.
"Ya Allah beratnya tasmu Bintang, apa saja sih isinya ini.
"Buku, baju, laptop".
Adi mendengus kesal akan jawaban Bintang yang terlalu singkat. Adi melihat Bintang yang keluar terlebih dahulu menuju parkiran seolah-olah yang sakit bukanlah Bintang tapi Adi. Setelah sampai pada pintu keluar menuju parkiran barulah Bintang berhenti berjalan dan kembali menunggu Adi terlebih dahulu karena Bintang tidak tahu mobil Adi terparkir sebelah mana.
Adi sudah berjalan duluan mendahului Bintang yang berdiri menunggu dirinya.
Tiit Tiit Tiit bunyi mobil tanda Adi telah membuka kunci pintu mobilnya yang bisa ditekan melalui remote control yang berada di genggaman tangannya.
Adi dan Bintang telah masuk dalam mobil. Kali ini yang menyetir masih Adi. Bintang kembali bersantai dengan menurunkan kursi penumpang yang ia duduki sebelah Adi.
Adi tidak membawa Bintang pulang ke rumah pribadinya pasti di sana tidak ada yang menjaga Bintang. Adik perempuan Bintang tinggal di asrama pesantren yang sedang menduduki kelas dua Sekolah Menengah Pertama.
Bintang mengerjapkan matanya beberapakali kali kala menyadari mobil telah berhenti. "Abang tolong antar aku kerumah saja".
"Ini juga rumah kamu Bintang". Adi mengetahui sedikit permasalahan hati Bintang pada Risda. Adi menyimpulkan jika Bintang tidak nyaman jika harus bertemu Risda dalam beberapa saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG...