Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Sakit


__ADS_3

"Astaqfirullah"


Risda tersentak kaget kala ada yang sengaja menarik kakinya sebelah.


Dengan berat Risda membuka kelopak matanya melihat siapa yang berani manarik kakinya.


"Awaslah abang ngantuk kali ini".


"Bangun udah siang ini


Apalah udah tengah hari anak gadis masih tidur".


"Iya abang, sebentar lagi ya. Lima menit aja lagi ya abangku tersayang yang tampan sejagat raya yang sifat playboy yang belum juga menghilang".


Adi mendengus kesal dengan adik kesayangannya itu, walaupun kesadarannya belumlah penuh sepenuhnya terkumpul tapi mulutnya ....


Adi sampai kehabisan kata kata sama adiknya itu, apa yang Risda katakan memang benar adanya, tetapi Adi sedikit khawatir dengan Risda yang mulutnya spontan yang biasanya irit ngomong sekalinya ngomong mulut nyembur menembus jantung hati para pendengar omongannya.


"Oke abang beri waktu lima menit lagi, awas saja kalau abang kembali lagi ke sini kamu belum bangun juga".


"Hm


Keluar sana, jangan ganggu orang tidur".


Setengah jam berlalu Adi kembali lagi ke kamar Risda untuk memastikan Risda sudah bangun atau belum.


"Astaqfirullah Risda bangun, hey bangun".


Risda yang mendengar suara yang mengusik tidurnya hanya menggeliat kecil lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Adi yang melihat kelakuan Risda kesal bukan kepalang lalu menarik kaki Risda kasar sehingga Risda terjatuh tengkurap ke lantai bersama dengan selimut dan guling yang melekat di badannya.


Phoomm.....


Aduuuhhhh


"Abang apa apaan sih sakit tahu".


"Bangun mentang mentang hari ini tanggal berwarna merah kamu malah asik tidur aja kamu di kamar". Adi terus saja merepet tidak jelas lantaran kesal dengan adiknya itu jika sudah tidur lupa untuk bangun namun jika belum tidur ia juga akan lupa untuk tidur.


Aneh memang adiknya ini pikirnya.


"Iya iya ini juga mau bangun".


Dengan berat dan sempoyongan Risda mengambil handuk dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi lalu menunaikan ibadah shalat Dzuhur yang kebetulan sudah memasuki waktunya.


Setelah siap shalat Risda kembali memposisikan diri untuk merebahkan kembali badannya yang terasa begitu berat.


"Allah hurabbi ini anak malah mau tidur lagi, makan dulu, jangan tidur melulu".


Adi berlalu meninggalkan Risda seorang diri di kamarnya lalu melangkahkan kakinya terlebih duhulu ke meja makan untuk makan bersama.

__ADS_1


"Risssddaa cepatan keluar" teriak Adi dari meja makan memanggil adiknya.


Kepala Risda berdenyut berdenting kesakitan, kerena sudah lebih dari empat bulan selama perkuliahan berlangsung waktu tidur Risda berantakan. Risda memegang kepalanya yang semakin lama semakin sakit rasanya. Aduh abang itu tidak sabar banget sih jadi orang.


Dengan susah payah Risda melangkahkan kakinya menuju meja makan di ruang makan belakang walau pandangan berkunang kantong mata mulai menitam namun Risda tutupi seolah olah keadaannya baik baik saja.


Nur melihat keadaan Risda yang agak nampak lesu bertanya "nak kamu sehatkan".


"Sehat".


"Makanlah".


"Iya mak".


Adi melirik ke arah piring yang ada di depan Risda belum satu suappun makanan yang masuk dalam mulut Risda yang ada makanan yang ada di hadapan Risda tidaklah jelas lagi bagaimana bentuknya karena dari tadi Risda hanya mengaduknya saja.


"Dimakanlah dek itu nasinya jangan diaduk aduk aja dari tadi".


Risda menatap Adi sekilas kemudian tersenyum dan berucap "ngak selera abang".


"Jangan ngomong seperti itu nak di depan razeki yang Allah beri".


"Ma, Risda balik ke kamar ya, ngantuk".


"Ngantuk apanya baru bangun udah ngantuk lagi, jangan ngaco kamu dek".


Risda tidak mengubris lagi apa yang di katakan kakak sepupunya itu. Risda bangun dari kursi meja makan yang ia duduki.


Baru beberapa langkah Risda melangkah pandangannya berputar putar kabur menggelap dan tak sadarkan diri terjatuh ke lantai bawah sana.


Mereka terkejut dengan keadaan Risda.


Adi yang tidak sigap terlambat menangkap badan Risda mengakibatkan kepala Risda terbentur mengenai sudut meja hias yang terbuat dari bahan kaca menjadi pecah dan tentunya kepala Risda ikutan bolong sehingga mengeluarkan darah segar dari pelipis kirinya.


Adi dan Nur begitu panik mendapati ada darah yang mengalir di bagian lantai, mereka dengan tergesa gesa mendekati Risda yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


Adi buru - buru mengangkat tubuh yang tak sadarkan diri itu masuk ke dalam kamar karena kebutulan Risda hanya memakai pakaian kurang bahan yaitu kaos oblong kensi lengan pendek dan sot pendek diatas lutut.


Nur memakaikan baju lengkap Risda sedangkan Adi menelpon temannya yang berprofesi sebagai dokter.


"Siapa yang sakit bro".


"Jangan banyak omong, masuklah periksa adikku cepat".


Rafi yang bertugas sebagai dokter menghela napasnya pelan dalam menghadapi temannya ini, kemana lagi aku harus masuk ngak ada orang di sini


posisi mereka sekarang berada di ruang tamu, Adi menunggu kedatangan dokter sambil menunggu Nur seleaai menggantikan pakaian Risda.


"Ikut aku".


Rafi diam tidak lagi menyahut, hanya mengikuti kemana kaki Adi melangkah ke situlah kaki Rafi juga melangkah.

__ADS_1


Rafi memeriksa dengan seksama keadaan Risda bagaimana dan juga mengobati luka yang ada pelipisnya yang harus di jahit tujuh lapis jahitan.


Nur bergedik ngeri saat melihat Rafi menjahit kening pelipis Risda yang masih tersisa serpihan bening kaca.


Setelah selesai semua proses pemeriksaan dan penjahitan di kening Risda siap selesai semua di lakukan oleh Rafi.


Tidak apa apa kalian tidak usah khawatir, Risda hanya kurang istirahat dan banyak pikiran saja. Tetapi saya sarankan jika dalam satu jam nanti Risda tidak siuman juga kalian bawalah Risda rawat inap di RS namun untuk sekarang semua masih normal terkendali.


Satu jam sudah Risda tidak sadarkan diri Adi semakin panik karna Risda tak kunjung juga sadar. Adi semakin panik kala mendapati tubuh Risda mengeluarkan keringat dingin membasahi tubuhnya.


Adi segera menelpon Bintang dan Zay untuk segera pulang ke rumah.


"Adii telpon teman kamu yang dokter tadi dulu ngapain kamu telpon si Bintang"


Nur kesal bukan kepalang sama Adi yang tidak bisa berpikir jernih di kala sedang panik marasuki jiwanya.


Nur melihat sekilas Adi yang berputar putar di tempat seperti gasing gisa.


"Adi" teriak Nur


"Ngapain kamu"..


"Cari hp Ma".


"Hp ada di tangan kamu itu".


"Oh iya"


Setelah menemukan hp yang ternyata di tangannya, Adi bukannya menelpon temannya yang dokter malah sibuk bengong menatap hp yang berada dalam genggaman tanggannya.


"Adiii" teriak Nur lagi lantaran kesal.


"Iya iya".


"Hallo bro, Risda Risda".


"Apa Risda Risda langsung saja bawa ke RS untuk di periksa lebih lanjut". Rafi segera memotong percakapannya dengan Adi karena Rafi tahu apa yang akan di bicarakan Adi.


"Ma Risda di suruh rawat di RS sekarang".


"Ayok kita bawa Risda ma".


"Adi mau kemana kamu".


"Bawa Risda ke RS ma".


"Apa yang akan kamu bawa, ini Risda masih di sini"


"Ini Risda siapa yang angkat".


"Oh ya"

__ADS_1


Adi kembali lagi mendekati tempat Risda tak sadarkan diri itu lalu menggangkat badan Risda menuju ke mobil yang telah terparkir di depan teras rumah.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2