Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Pengakuan


__ADS_3

Disisi lain, dimana tempat Adi sedang menghabiskan aktifitas kesehariaannya. Waktu telah menunjuk pukul lima sore. Adi yang masih berada di kantornya sedang membereskan lembaran kertas dokumen yang menemani kesehariannya.


Tring. Bunyi hp Adi tanda pesan telah masuk.


Adi melihat pesan yang masuk dalam aplikasi chattingan yang ternyata sebuah pesan foto yang menampil Risda dengan senyum lebar, yang sedang memakai Sparring Gloves atau sarung tangan tinju yang sering dipakai saat latihan.


Adi bergumam lirih dimana ini. Saat melihat foto yang dikirimkan oleh Bintang, Adi merasakan asing dengan tempatnya. Lalu Adi dengan segera menanyakan dimana keberadaan posisi Bintang dan Risda yang hanya dibalas kiriman lokasi oleh Bintang. Dan kemudian Adi menghubungi Rita menanyakan keberadaan Rita untuk menyusul bersama ke tempat yang sedang dikunjungi oleh Bintang dan Risda.


Kembali lagi di tempat keberadaan Bintang dan Risda.


"Tangkap" Risda melempar sarung tinju pada Bintang yang Bintang tangkap dengan gelagapan karena terkejut dikarenakan intruksi dengan tindakan dari Risda, Risda lakukan secara bersamaan namun Bintang dengan gesit bisa menangkap sarung tinju yang dilempar oleh Risda padanya.


"Muhammad Bintang" teriak Risda lantang "bersiaplah sahabatku" mengambil ancang-ancang dengan posisi kuda-kuda.


Tidak ada jawaban dari Bintang namun Bintang menghentikan kegiatannya memakai sarung tangan dan melihat Risda. Bintang mengernyitkan dahinya bingung "kamu mau karate atau boxing tinju?" tanya Bintang.


"Eh" tersadar Risda lalu mengubah posisi yang seharusnya. Waktu yang dibatasi setiap yang bertanding di ring tinju dibatasi sepuluh menit saja. Tidak ada yang menang ataupun kalah dikarena Bintang dan Risda sama-sama gesit menghindar dari pukulan satu sama lain.


"Yah ngak ada yang menang lagi" frustasi Risda.


Bintang melirik Risda sekilas yang sama-sama sedang membuka sarung tinju itu "apa kamu mau membuat wajah tampanku ini lecet dengan tonjokanmu itu" tanya Bintang tanpa mengalihkan pandangan pada tangannya.


"Hheh" tersenyum canggung "tidak kok".


Bintang dan Risda telah turun dari ring tinju. Berjalan beriringan berdua dan kemudian Risda menyodorkan tangannya pada Bintang, yang disambut kebingungan oleh Bintang. "Hp" ucap Risda kemudian.


Hp Bintang telah berada di tangan Risda dan Risda membuka kamera di hp Bintang "lihat sini" aba-aba dari Risda.


Cekrek. Risda membidik kamera hp Bintang mengenai Bintang dan Risda sekalian.


Dalam bayangan pantulan matahari dan ditambah lagi dengan layar hp Bintang sedikit gelap, Bintang tidak bisa melihat jelas hasil jempretan itu, hanya pandang sekilas saja bahwa telah tersimpan di galeri ponselnya gambar dirinya dengan Risda.


"Jadi untuk apa aku diam-diam mefoto dirinya tadi sedangkan sekarang kami malah foto berdua" ucap lirih Bintang dan kemudian menghembuskan napasnya dalam.


"Kamu tidak marah" tanya Bintang.

__ADS_1


"Karena" pura-pura bingung.


"Karena aku tadi mengambil fotomu diam-diam".


Risda tersenyum simpul menanggapi "kalau mau berfoto, ya tinggal foto, jangan seperti yang tadi kamu lakukan" peringat Risda "aku tidak suka".


Hp Bintang masih berada pada genggaman Risda lantas Risda menarik  Bintang mendekat padanya dan menyerahkan hp Bintang pada salah satu pengunjung lainnya untuk meminta bantuan memfoto dirinya bersama Bintang.


"Dek, dek" panggil Risda pada pengunjung disana.


"Ya kak".


"Boleh minta tolong fotokan kami".


"Satu lembar sepuluh ribu kak".


Risda melongo tidak percaya pada kelakuan anak yang ia minta tolong foto dirinya.


"Lima lembar".


"Dengan syarat" sanggah Bintang.


Anak tersebut tidak menyahut tetapi menaikkan alisnya menunggu pernyataan Bintang selanjutnya.


"Kalau tidak bagus, tidak dianggap ada".


"Alah gampang itu kak. Bersiap ya".


Cekrek,


Cekrek.


Cekrek.


Cekrek.

__ADS_1


Cekrek. Suara jempretan kamera.


"Sudah" mengembalikan hp pada Risda yang langsung dirampas oleh Bintang untuk melihat hasilnya "lumayan" ucap Bintang. Bintang merogoh saku celananya, mengambil dompet mengeluarkan selembar uang berwarna merah bergambar tokoh Mohammad Hatta terpampang jelas sehingga anak yang baru saja selesai memfoto Bintang dan Risda jadi tersenyum cerah.


Anak itu menyodorkan tangannya pada Bintang "upah" ucapnya kemudian.


"Jika ada yang meminta tolong, tolonglah dengan seiklas hati. Jangan terlebih dahulu kamu minta upah, baru mau kamu tolong" nasehat Bintang sambil memberikan selembar uang seratus ribu.


"Iya" mengambil uang secepat kilat dan merogoh saku celananya berniat ingin mengembalikan sisa uang Bintang yang ia berikan padanya "bang ini kembaliannya" teriak si anak tatkala melihat Bintang dan Risda sudah berbalik badan meninggalkannya.


Bintang tidak menjawab teriakan anak itu tetapi Bintang mengangkat tangannya keatas dan melambai-lambai. Si anak yang mengerti dengan isyarat Bintang mengucap kata "terimakasih bang" berteriak dan berbalik badan menuju pada tujuannya kembali.


Selama ini aku tidak pernah mengabadikan kenangan kamu dan aku dalam memori ponselku melainkan selalu akan abadi di ingatanku ataupun buku diaryku yang aku sembunyikan rapat-rapat darimu. Hari ini kamu membuat kenangan aku dan kamu tersimpan di memori ponselku. Aku sangat bahagia sayangku, sungguh aku sangat  berterimakasih atas kenangan yang kamu berikan untuk aku, wahai sayangku.


Kini Bintang dan Risda telah duduk dibawah tenda yang berjualankan mie pangsit. Bintang dan Risda duduk dengan posisi yang saling berhadapan.


Risda diam, memantau Bintang dalam diamnya yang tengah tersenyum-senyum sendiri. "Jika sedang merangkai kata dalam kepalamu lebih baik kamu menulis setiap rangkaian itu" sarkas Risda pada Bintang yang tidak nyaman dengan senyuman Bintang. Bukannya Risda tidak senang Bintang tersenyum cuman agak merasa aneh saja Bintang tersenyum karena senyum bagi Bintang adalah yang sangat mustahil yang dilakukan oleh Bintang.


"Aku sedang bahagia. Bahkan sangat bahagia" menatap Risda dalam dan ditambahi dengan senyum.


Risda seorang penulis yang meneliti dan membaca setiap karakter orang yang ia temui, ditambah lagi Risda adalah seorang yang berkribadian introvert dan juga kebiasaan Risda kala jenuh menulis maka Risda akan membaca buku, buku yang sering Risda baca ialah buku spikolog dengan begitu sangat mudah bagi Risda membaca gelagat Bintang, apa yang Bintang pikirkan saat ini.


"Jangan terlalu mengagumi jika tidak mau patah hati, jangan terlalu mencintai  jika tidak mau kehilangan hati atau separuh jiwa. Jika mencintai atau mengagumi cukup sewajarnya saja, tidak usah berlebihan tidak akan bagus untuk spiskismu kedepannya" beri pengertian Risda pada Bintang.


"Walaupun aku mencintaimu" menatap datar Risda namum penuh dengan pengharapan.


"Posisimu dalam hatiku adalah sahabat bukan pasangan" sarkas telak Risda dengan pandangan tajam Risda berikan pada Bintang.


Waktu seakan berhenti seiring berhentinya lontaran kata dari Bintang maupun Risda, keadaan terasa hening dan canggung untuk beberapa saat.


Risda menatap Bintang dan kemudian mengambil tangan Bintang dan menggenggamnya lembut. "Aku mohon tolong posisikan hatimu untukku hanya sebatas sahabat, karena kamulah sahabatku yang paling mengerti aku" mata mengembun ingin menangis "aku tidak mau persahabatan kita runtuh".


Bintang terhentak nyeri pada dadanya melihat Risda untuk pertama kali yang bersedih karena dirinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2