
Perjalanan yang seharusnya tinggal satu jam lagi tidak bisa di lanjutkan kembali. Adi melihat kondisi Bintang yang semakin menurun yang berada di sampingnya dengan bibir membiru pucat, badan menggigil dingin dan badannya bergetar, tanpa konfirmasi dari Bintang, Adi langsung singgah di RS terdekat daerah situ.
Bintang membuka kelopak matanya yang terasa berat saat ia merasakan ada dua pasang tangan yang mencoba menyentuh tubuhnya namun ia tiada daya untuk menepis seperti biasanya yang ia lakukan.
...****************...
Nur dan Zay yang tidak ikut pergi berwisata ke puncak menjadi khawatir melihat jam sudah melewati jam yang seharusnya anak-anaknya sampai ke rumah namun ini anak-anaknya tidak ada tanda-tanda akan sampai ke rumah. Zay begitu pusing melihat istri tercintanya yang berputar putar mondar mandir di hadapannya ditambah lagi kecemasan akan anak-anaknya yang belum sampai rumah sampai sekarang.
"Ma bisa tidak jangan putar-putar seperti itu, pusing saya lihat mama kayak setrika yang mondar mandir aja daritadi, duduklah dulu ma sebentar".
"Sebentar lagi Pa. Anak-anak ini kemana sih, sudah jam segini tidak ada kabar. Mama sudah menelpon Risda sore tadi katanya mereka lagi siap-siap mau pulang tapi kenapa sampai sekarang belum sampai juga" Nur menjawab pertanyaan dari Zay yang tertuju kepadanya dengan sebuah pernyataan dan dengan nada cemas khawatir.
Zay menganguk anguk mengerti atas jawaban Nur istrinya, ada juga rasa khawatir menghampiri Zay namun Zay menutupinya untuk tidak membuat suasana jadi bertambah keruh.
Nur melihat Zay yang menganguk angukkan kepalanya dan sambil membulatkan mulutnya "ooo" tanda mengerti lalu bangun dari kursi sofa kamar dan keluar berlalu pergi entah ngak tahu kemana. Sebelum Zay menghilang dari pandangan Nur segera berteriak "pa mau kemana?".
"Keluar sebentar istriku sayang"
Zay keluar kamar bermaksud ingin menelpon menanyakan keberadaan Adi. Sambungan telepon sudah tersambung, belum juga Zay menanyakan apapun pada Adi namun Adi lebih dahulu mengatakan "pak kami tidak bisa balik pulang malam ini, karena si Bintang sakit dan kami masih di perbatasan kota di RS xx jln xx No.xx".
__ADS_1
Zay yang mendengar penuturan Adi bahwa Bintang yang sakit menjadi cemas dan segera masuk kedalalm kamar kembali dan memberitahukan pada Nur bahwa Bintang lagi di rawat di RS.
Nur dan Zay segera bersiap-siap dan dengan terburu-buru menyusul ke RS di mana tempat Bintang yang sedang di rawat.
Enam jam sudah Bintang tertidur dengan lelap akibat efek cairan infus yang di salurkan melalui nadi di tangan sebelah kirinya. Dengan perlahan Bintang membuka kelopak matanya secara perlahan walau terasa berat. Bintang menyapu pandangan kesekelilingnya, Bintang hanya menemukan Adi yang sedang terlelap di kursi tamu yang berada dalam ruangan.
Bintang mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali saat mengingat Risda yang sangat antusiasnya menanyakan keberadaan Albert padanya lalu menghembuskan napasnya kasar. Arah pandangan Bintang beralih pada pintu yang menghasilkan suara decitan tanda ada orang yang membukanya dan menutup kembali. Bintang melihat Zay datang membawa satu kantong kresek makanan sarapan pagi.
Bintang terkejut mendapati Zay yang berada bersamanya, Bintang menebak-nebak dalam benaknya sejak kapan dirinya tidak sadarkan diri terlelap dalam tidur "bapak kenapa datang nyusul kami kesini" tanya Bintang pada Zay dengan nada lemas.
"Sudah bangun nak, sanggup bangun cuci muka biar bisa sarapan kamu"
Bintang mengernyitkan keningnya bingung kok udah waktunya sarapan, bukannya ini masih malam ya? tanya Bintang dalam hati dikarenakan ruangan yang ditempatinya belum terbuka gorden yang bisa melihat suasana diluar sana.
Zay melihat Bintang yang belum tersadar dari lamunan dalamnya dan kemudian Zay mengarahkan pandangannya kemana mata Bintang mengarah menatap ke arah jendela yang masih tertutupi tirai gorden. Zay melangkah kakinya mendekati jendela membuka tirai gorden yang menghalangi pandangan indah taman yang berhadapan langsung dengan ruangan Bintang tempati.
"Di luar lagi mendung sebentar lagi mau hujan" ucap Zay sambil membuka tirai gorden dan kemudian menatap Bintang dan tersenyum kemudian Zay melangkahkan kakinya mendekati Bintang yang masih terbengong sendiri.
"Bintang" panggil Zay lembut sambil menepuk pelan bahu Bintang.
__ADS_1
Bintang yang setengah karam dari lamunannya kembali tersadar saat ada yang sesuatu yang menyentuh bagian bahunya. Bintang mengalihkan pandangannya dari jendela kemudian mengarah pada Zay yang menepuk pelan bahunya.
"Kenapa? Ada masalah apa cerita sama bapak, mungkin bisa bapak bantu masalahmu nak".
Bintang tersenyum menanggapi Zay yang mengajak dirinya berbicara lalu berucap "tidak apa-apa pak" setelah mengatatakan dirinya tidak apa-apa pada Zay kemudian Bintang memalingkan wajahnya kembali menghadap jendela memandang taman indah yang berada di luar sana.
Bintang bermonolog sendiri dalam hati taman itu begitu indah terlihat dalam pandangan mata kepala ini persis seperti seindah mata hatiku dalam mencintainya namun lagit di taman kelihatan mendung gelap sepertinya langit juga menyadari hatiku sakit karena rasaku padanya tidak terbalaskan.
Logika berusaha keras menyadarkan hati dari keterpurukan karena raga yang akan menjadi korban. Apalah daya hati tetap mempertahankan egonya itu tidak mau melepaskan rasa itu barang sejenak. Baiklah hati jika kamu tidak mau melepaskan cintamu itu bolehkan kamu mengesampingkan dulu rasa itu setidaknya sampai ragamu menemukan energinya kembali.
Zay melihat Bintang yang kembali melamun entah apa yang menjadi sengketa antara hati dan pikirannya, sungguh Zay tidak tahu itu. Satu yang bisa Zay pastikan bahwa Bintang sekarang ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Zay meghembuskan napasnya kasar dan menepuk paha Bintang pelan untuk menyadarkan Bintang dari renungannya itu lalu berucap "okelah jika kamu tidak mau cerita sama bapak, mungkin kamu tidak nyaman atau apalah. Bolehkan bapak minta satu hal padamu nak?".
"Apa itu pak?" jawab Bintang sambil menolehkan kepalanya kembali pada Zay yang sedang mengajaknya berbicara.
Sebelumnya Zay menarik napas kembali terlebih dahulu dan menghebuskannya perlahan "nak, bapak tidak tahu permasalahan kamu apa, jadi bapak minta tolong sama kamu untuk jaga baik-baik kesehatanmu ini dengan sebaik mungkin jangan kamu korbankan kesehatan hanya dengan permasalahan yang hanya bisa menyiksa batinmu sendiri apalagi jika permasalahan utamanya adalah cinta ingatlah tanggungjawabmu pada adikmu yang juga harus kamu tanggung kehidupannya juga.
Bintang menatap mata Zay dengan intens yang sedang menasehatinya.
Zay tersenyum melihat Bintang yang menatapnya intens seperti itu karena besar kemungkinan tebakannya benar jika permasalahan Bintang kali ini mengenai percintaan.
__ADS_1
"Berteriaklah nak jika memang itu membuatmu lega, menangislah nak".
BERSAMBUNG...