
Perkulihan usai sudah untuk hari ini, Bintang dan Risda melangkahkan kaki mereka bersama-sama menuju parkiran dengan tujuan yang berbeda-beda yaitu Bintang akan pergi menyusul Adi di pabrik sedangkan Risda akan balik ke rumahnya.
"Assalmu'alaikum" membuka pintu rumah walau belum ada sautan dari dalamnya. Risda melangkahkan kakinya lagsung ke dalam kamar dan menggerai hambal tebal di lantai kamar kemudian tidur setelahnya.
Risda menatap loteng kamar dengan tidur terlentang pikiran dan hatinya berkelana entah kemana. Yang pasti suasana hati Risda lagi buruk saat ini.
Godaan, rayuan, tatapan terpana cih aku sangat membenci itu semua. Aku tidak aku mau terkenal hanya dengan sekelebat kelebihan yang aku miliki namun saat mereka mengetahui kurangnya diriku lalu mereka menjadikan kurang aku itu sebagai tema becanda mereka. Satu helaan napas terdengar berat.
...****************...
Azan magrib telah terdengar. Hati Nur dihampiri rasa gelisah karena putri kesayangannya belum terlihat sama sekali setelah dirinya melihat Risda pagi tadi saat sebelum Risda belum berangkat ke kampus. Nur melihat Adi dan Irsyad pulang secara bersamaan walau dengan kendaraan yang berbeda.
"Assalalmu'alaikum ma" beri salam Adi yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam".
Adi mengernyitkan dahinya bingung saat melihat Nur seperti gelisah memikirkan sesutau. "Kenapa ma?".
"Adik kamu belum pulang".
"Itu si Irsyad di luar" tunjuk Adi dengan telunjuk jari tangannya pada Irsyad yang duduk di lantai teras sambil membuka sepatu bola yang dikenakannya.
"Bukan Irsyad. Risda mana?, daritadi belum kelihatan. Tidak biasanya Risda tidak ada di rumah jam segini".
"Mama sudah cek dikamarnya? mungkin Risda tidur".
"Sudah" melirik ke jam yang menempel di dinding "kamar Risda kosong dan gelap". Saat memeriksa kamar Risda, Nur tidak terlihat apa-apa, Nur tidak berani masuk walau hanya sekadar menghidupkan lampu saja hanya bermodalan senter dari hp Nur melihat kearah kasur Risda yang masih kosong dan menutup pintunya kembali.
Adzan kembali terdengar dengan waktu yang berbeda, waktu magrib telah terlewati kini memasuki waktunya insya. Suara deru mesin mobil mendekat ternyata Zay yang baru pulang dari dinasnya. Nur segera menghampiri Zay yang bahkan belum turun dari mobil. Tok tok tok bunyi jendela kaca mobil yang di ketok oleh Nur.
Zay menurunkan kaca jendela sebentar lalu bertanya "ada apa maa?" tidak biasanya Nur istrinya terlihat gelisah dan tidak sabaran begini.
"Risda pa" ucap Nur yang ingin menangis rasanya.
__ADS_1
Zay menaikan kaca jendelanya secepat kilat dan keluar dari mobil menghampiri Nur yang mulai menitihkan airmatanya itu. "Risda kenapa?". tanya Zay panik.
"Belum pulang pa".
"Mama sudah telepon Risda atau kawan-kawannya Risda".
"Risda mana ada kawan pa kecuali Bintang dan Rita". Nur baru saja akan menelpon Rita tapi Adi keluar rumah mengatakan Adi sudah menelpon kaawan-kawan Risda, Rita hari ini belum bertemu Risda sama sekali dan tadi Bintang juga mengatakan Risda sudah pulang dari kampus bersamaan dengannya.
"Syut syut syut diam, diam ya, kita cari Risda lagi ya" ucap Zay menenangkan Nur. Mata Zay menatap Adi yang berada di hadapannya "sudah dicek di kamar".
"Mama sudah cek katanya kamar Risda gelap dan kosong".
"Tidak kamu cek ulang?".
"Tidak" ucap Adi lirih dikuti dengan gelengan kepala ringan.
Zay menghembuskan napasnya kasar "mamamu ini takut gelap".
Adi melongo terkejut baru mengetahui fakta bahwa Nur takut gelap. Adi tersadar saat Nur dan Zay melewati dirinya dan kemudian mengikuti langkah Nur dan Zay yang masuk ke dalam tumah.
"Iya".
Cekrek suara pintu yang dibuka oleh Zay. Zay tidak bisa melihat apa-apa dalam kamar Risda yang betul-betul gelap, Zay meraba-raba dinding mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Kamar telah terang kembali dengan bantuan lampu yang telah dihidupkan kembali oleh Zay. Zay melihat tilam kasur Risda yang masih kosong.
Adi yang masih saja mengikuti langkah kaki Zay masuk ke kamar Risda tersandung sesuatu sampai Adi jatuh terjungkal "Astaqfirullah" terkejut Adi.
Zay membalikkan badannya kala mendengar suara ada yang jatuh. Objek yang di sengketakan yang diperkarakan sudah di temukan. Risda teriak hati Adi dan Zay bersamaan.
"Bapak, Adi tidak sengaja, tidak melihat Risda yang tidur di bawah".
Zay melihat wajah Risda pucat dan merasakan suhu tubuh Risda yang lumayan panas.
"Diam dan telepon dokter, cepat".
__ADS_1
Adi keluar dan menelpon temannya Rafi yang berprofesi sebagai dokter.
Calling On
"Hallo broe, cepat datang kerumah sekarang. Risda adik kesayanganku sakit lagi".
"Siap broe, sebentar ya".
"Ceeepaattt" teriak Adi.
"Iya hy".
Calling of
Nur yang mendengar Adi yang mengobrol di sambungan telepon kalau Risda sakit segera berlari menyusul suaminya Zay didalam kamar. Nur melihat Risda yang sedang di pangku oleh Zay dan sambil melepaskan topi dan jelbab yang masih melekat di kepala Risda.
Bintang setelah mendapat panggilan dari Adi bahwa Risda belum sampai kerumah segera menyusul mendatangi rumah RIsda. Bintang segera masuk kedalam rumah walau tidak ada yang meyambut atau menyuruhnya untuk masuk setelah mendengar suara kegaduhan dari dalam. Bintang bisa mendengarnmya karena pintu rumah terbuka lebar.
Langkah Bintang terhenti kala melihat Risda terbaring di pangkuan orangtuanya. Bintang terduduk lemas bagaikan tulang belulangnya yang tiada fungsi, airmatanya langsung keluar dan pikirannya sudah menjalar kemana-mana. Tidak lama kemudian Rafi datang dan langsung menuju kamar Risda karena sebelumnya Adi telah memberi tahu pada Rafi bahwa Risda yanng sakit.
Pemeriksaan sudah selesai Rafi lakukan. Rafi menatap satu perastu orang yang ada disana yang kelihatan sedang menunggu dirinya berbicara memberitahukan keadaan Risda.
"Risda tidak apa-apa hanya tipesnya yang kambuh saja sebaiknya saran dari Rafi, om bawa Risda periksa lebih lanjut ke RS pusat kota sana nanti Rafi urus rujukannya langsung biar cepat ditangani.
Bintang berdiri mata elang tajam menatap Rafi bagaikan musuh "anda bilang Risda tidak apa-apa kenapa harus diperiksa kepusat kota" tanya Bintang dengan ekspresi datar.
Adi menenangkan Bintang dengan menarik Bintang keluar dari kamar Risda "Sudah, sudah. Tenang ya Risda ngak kenapa-kenapa kok".
Bintang mendengar penuturan Adi hanya menanggapi dengan tatapan tanpa eksresi dari Bintang yang membuat bulu kuduk Adi merinding.
Satu jam sudah setelah pemeriksaan akhirnya Risda dalam keadan baju telah berganti dan tempat juga telah berpindah bukan didalam kamar pribadinya lagi. "Astastaqfirullah, sakit sekali". memegang kepalanya sambil bangun dan duduk perlahan.
Risda menyapu pandangannya pada ruangannya yang di tempatinya sekarang. Oh ternyata aku dalam kamar mama dan bapak. Tapi kenapa aku berpindah tempat ya dan ini baju juga kenapa sudah berganti monolog Risda seorang diri dalam hati.
__ADS_1
Risda beranjak bangun ingin kembali ke kamarnya tertahan langkahnya karena merasakan denyutan kesakitan dari kepala yang teramat sangat. Risda duduk lama termenung sambil menunggu denyutan dari kepalanya berkurang.
BERSAMBUNG...