Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Yang Mulia


__ADS_3

"Kalau boleh tahu" aju pertanyaan Rajif pada Bintang, "apa yang terjadi pada Risda".


"Tidak" potong Bintang.


"Si Risda kenapasih?".


"Cemburu" jawab Bintang akhirnya yang tidak tahan dengan setiap pertanyaan yang menghampiri dirinya.


"Karena apa?" lanjut tanya Rajif "bukannya kamu tadi yang cemburu karena Risda tadi berpelukan denganku" menaik turunkan alis menggoda Bintang.


Phom. Tonjok Bintang pada bahu Rajif tepat mengenai cekraman lengan yang ia lakukan tadi sehingga mau tidak mau Rajif kembali lagi terjatuh atas pasir untuk kedua kalinya.


Bintang melihat saja Rajif yang terjatuh dengan posisi terduduk diatas pasir. Rajif bangun dan mengibas-ngibas celananya yang terkena pasir akibat jatuh hasil tonjokan Bintang kemudian duduk kembali duduk disamping Bintang.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit dan seterusnya terasa hening. Bintang kini sedang meyibukkan diri dengan urusan kantor berupa file file yang terkirim pada hp nya sedangkan Rajif begitu sibuk mempertanyakan siapa yang cemburu sebenarnya sampai-sampai kening Rajif terlihat berkerut menyatu tanda sedang berpikir keras.


"Jadi yang cemburu kamu atau Risda. Jika kamu yang cemburu ada alasannya tetapi jika Risda yang cemburu alasannya apa?" tanya Rajif lagi setelah sekian menit terasa hening.


Bintang menarik napas panjang dan mengalihkan pandangan melihat Rajif.


Bintang dan Rajif saling bertatapan tiba-tiba Rajif tersenyum sendiri sedangkan Bintang menaikkan sebelah alisnya mempertanyakan apa yang terjadi pada Rajif.


Rajif tersenyum bukan tanpa alasan. Alasan Rajif tersenyum teringat sepasang pasangan yang menghampiri mereka di counter nya tadi yaitu Albert dengan Liza.


"Hahahah" tawa Rajif tiba-tiba yang disambut tatapan bingung oleh Bintang.


"Mau ke spikiater atau langsung rujuk ke RSJ" tanya Bintang dalam kebingungannya melihat Rajif yang tertawa tiada sebab menurut Bintang.


Rajif yang sedang tertawa tidak merespon tawaran Bintang padanya bahkan dengan beraninya dan lantang Rajif mengungkapkan apa yang telah diklarifikasikan oleh pikirannya "ternyata ada cemburu segitiga, biasanya cinta yang segitiga" ungkap pernyataan Rajif sambil tersenyum-senyum menggoda Bintang sambil menaikkan turun alisnya.

__ADS_1


Respon dari Bintang hanya tatapan datar yang ditujukan pada Rajif.


Rajif tidak lagi tertawa atau tersenyum bahkan kini Rajif menjadi salah tingkah sendiri melihat tatapan Bintang yang ia dapatkan begitu datar.


Tidak lama kemudian Rajif terselematkan dari keadaan canggung itu dengan kedatangan Risda.


Risda melangkah santai menuju Bintang dan Rajif yang masih duduk berdua tanpa mengetahui apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.


Risda terus melangkah, selangkah demi selangkah dengan keringat bercucuran, baju yang ia kenakan sudah basah setengah badan dikarenakan keringat.


Kini Risda telah berdiri tepat di hadapan Bintang dan Rajif. Bintang dan Rajif melihat Risda dari bawah keatas, dari atas kebawah, melihat penampilan Risda yang sedikit berantakan dan basah dengan keringat.


Risda menutup dada dengan menyilang kedua tangannya pas di bagian dadanya "jaga mata kalian" peringat Risda dengan wajah datar ciri khasnya. Dengan Kompak Bintang dan Rajif memalingkan wajah mereka berlawanan.


Risda tersenyum tipis melihat Bintang dan Rajif yang membuang pandangan mereka darinya lantas Risda mengambil asal minum yang berada di tengah antara mereka berdua dan meminumnya sambil berjongkok dibawah.


Baru juga satu teguk Risda minum namun Bintang langsung menghentikan Risda untuk minum "jangan langsung minum".


"Kenapa. Saya haus" menutup kembali botol mineral yang baru siap ia minum sedikit isinya.


Risda tidak menjawab dengan kata namun melihat Bintang intens sambil menaikkan sebelah alisnya mempertanyakan pada Bintang apa alasannya.


"Baru siap lari-larikan?" tanya Bintang.


"Iya" anguk Risda mengiyakan.


"Badan Risda masih berkeringatkan?" tanya Bintang lagi.


"Iya" jawab Risda sambil mengambil tempat duduk paksa di tengah-tengah antara Bintang dan Rajif.


"Jika masih berkeringat diakibatkan baru selesai olahraga berarti jantung masih aktif memompa lebih cepat seperti kebiasaanya, jangan dulu langsung minum karena bisa terjadi pembengkakan jantung".


"Contohnya".

__ADS_1


"Pernah lihat besi panas?".


"Pernah" jawab Rajif dengan Risda bersamaan. Rajif juga ikut mendengarkan dan menyimak pelajaran yang sedang diajarkan oleh Bintang pada Risda yang juga bermanfaat untuknya.


"Besi panas yang yang sudah kayak bara api menyala disiram tiba-tiba dengan air maka besi itu akan retak begitu juga dengan jantung jika masih capek jantung masih terpompa cepat jangan langsung minum karena efeknya bisa jadi pembengkakan jantung".


"Ooooooooo" jawab Rajif panjang tanda mengerti hasil dari penjelasan Bintang sedangkan Risda diam tidak berkata sedang meijimanasikan perbedaan dan kemungkinan lainnya yang terjadi pada besi dan jantung.


Bintang dan Rajif melihat Risda bersamaan yang tidak merespon apa-apa itu yaitu kembali terdiam terapaku sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Sudah bisa kita pulang?" tanya Bintng untuk menyadarkan Risda.


Risda menjawab pertanyaan Bintang dengan anggukan dan mengenai pikirannya tentang kemungkinan atau kesamaan pada jantung atau besi Risda abaikan karena menurut Risda apa yang Bintang ajarkan logis, diterima oleh kepalanya jadi Risda menganggap selesai tidak perlu dipikirkan lagi.


Bintang, Rajif dan Risda jalan berderet bagaikan real kereta api dibuat mereka, Bintang jalan di kolom terdepan, Risda di tengah dan urutan yang paling terakhir adalah Rajif.


Kunci mobil terlebih dahulu telah diserahkan Risda pada Bintang sebelum Risda lari-lari tadi yang berarti bagian kemudi telah Risda serahkan kembali pada Bintang.


Kini ketiga insan itu telah berada dalam mobil, hanya posisi Bintang dengan Risda saja yang berganti sedangkan Rajif tetap di posisinya yang semula.


Rajif sedikit masih merasakan trauma akibat ulah Risda yang menyetir mobil bagaikan orang kesurapan. Rajif memasang lagi seat bealt pada tubuhnya untuk keamanan. Tangan Rajif sedikit bergetar dan kemudian Rajif mengajukan asa pada Bintang "kuharap kali ini yang mulia raja tidak segila yang mulia ratu saat menyetir".


Bintang melihat rajif dengan datar tanpa ekspresi sama sekali. Dan Rajif segera berpaling wajah menatap lurus kedepan mencoba mengabaikan Bintang dan lebih fokus pada jantungnya jangan sampai teruji lagi seperti tadi.


Belasan menit berlalu kini mobil yang dikendarai oleh Bintang telah memasuki areal jalan raya.


Ciit. Bunyi decitan ban mobil akibat tekanan rem yang ditekan Bintang pada pedal rem di kakinya, sampai-sampai Rajif dan Risda yang duduk tenang tiba-tiba terayun paksa kedepan.


Risda duduk tenang kembali tidak ingin bersuara menbantah atau hanya sekadar bertanya. Rajif juga demikan melihat Bintang kesal karena dengan sengaja mengerem mendadak.


"Apa. Ada masalah?" tanya Bintang pada Rajif yang sudah dengan mode ingin mengajak tempur.


Rajif masih diam menatap Bintang tajam. Diam artian dengan kata yang terlontar dari mullut tetapi tidak dengan hati Rajif yang terusĀ  mendongkol dengan tingkah Bintang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2