
Bintang dan Risda keluar dari ruangan beririgan. Bintang dan Risda yang pertama keluar dan yang pertama siap menjawab pertanyaan UAS mereka.
"Berapa mk lagi hari ini?" tanya Risda sambil terus berjalan setapak dan beriringan dengan Bintang.
"Dua" jawab singkat Bintang seperti biasanya.
Tidak ada kata lagi yang terlontar diantara mereka. Bintang dan Risda terus berjalan beriringan dengan tujuan menuju perpustakaan. Kebiasaan mereka kalau ada ruang waktu kosong mereka akan menuju ke perpustakaan, jika waktunya istirahat, perpustakaan tutup mereka akan menunggu mk selanjutnya di kantin kampus.
Bintang dan Risda memasuki perpustakaan bersama-sama. Bintang dan Risda mengisi absen terlebih dahulu baru kemudian memilih buku yang ingin mereka baca dan kemudian duduk membacanya dengan khusyuk.
Satu jam tiga puluh menit terlewati dengan tidak sia-sia, mengisi waktu luang dengan menambah ilmu yang berguna bagi mereka.
Bintang sebelum memulai membaca terlebih dahulu menyetel alarm di hp yang ia modekan mode getar, karena Bintang dan Risda sama-sama mempunyai kesamaan jika berhadapan dengan buku akan melupakan waktu.
Hp yang dikantongi Bintang bergetar dalam saku celana yang ia kenakan, Bintang mematikan alarm dan menyadarkan Risda dalam mendalami setiap kata yang tertulis rapi dalam buku yang ia baca. "Ris" panggil Bintang sambil menyentuh Risda dengan buku yang Bintang pegang.
Belum juga ada kelanjutan kata yang diucapkan Bintang namun Risda sudah paham maksud Bintang untuk menyudahai waktu membaca mereka karena saatnya mereka akan memasuki mk selanjutnya.
Bintang dan Risda kembali keluar perpus dan masuk ruangan mk selanjutnya. Mk kali ini yang mereka ikuti tidak melakukan UAS dikarenakan ada materi yang masih harus mereka pelajari dan untuk mk satu lagi selanjutnya tidak masuk dan sekalian UAS di pertemuan depan.
Siang hari, saatnya makanĀ siang, Bintang dan Risda tidak memakan dikantin kampus melainkan akan berkunjung ke pabrik dan disana Bintang dan Risda akan makan bersama dengan Adi.
Bintang dan Risda langsung menuju pabrik usai jam mk mereka selesai. Bintang melajukan mobilnya santai. Seperti biasa tiada kata yang terlontar atau terucap, suasana hening tercipta namun menciptakan ketenangan bagi keduanya.
Hampir satu jam berlalu perjalanan antara kampus dengan pabrik. Kini mereka berdua telah sampai di pabrik.
Bintang dan Risda masuk dalam pabrik dengan langkah yang beriringan dengan seiring datangnya makanan makan siang yang dipesankan Adi untuk mereka bertiga karena sebelumnya kedatangan mereka telah diberitahu oleh Bintang.
Adi, Bintang dan Risda duduk bersama di sofa dalam ruangan Adi, mereka bertiga makan dalam diam sampai habis makanan yang tersedia dimeja berpindah dalam perut mereka masing-masing masih saja tiada kata yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang saling beradu.
Tidak lama kebungkaman itu terjadi hanya beberapa menit saja. Setelahnya datang ob yang dipanggilkan Adi untuk membereskan sisa makan mereka.
Adi dan Bintang beralih pada kursi kebesaran mereka masing-masing sedangkan Risda masih tetap bertahan duduk di sofa sendirian.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, Risda yang duduk sudah terlalu lama sambil membaca buku yang ia bawa merasakan nyeri diarea punggungnya lantas merebahkan badannya ingin tiduran di sofa, nemun belum juga punggung Risda menyentuh sofa, sebuah suara dengan empat kata menjeda aktifitas Risda "jangan sampai terjatuh lagi" ucap Adi yang melihat Risda ingin tiduran di sofa sedangkan Bintang hanya melihat sekilas apa yang dilakukan Risda.
"Heum" dehem Risda seperti biasanya.
Adi hanya bisa menghembus napasnya pelan, nasib punya adik cewek bukannya bermanja-manja padanya sebagai abang malah setiap saat dicuekin, diajak ngobrolpun jawabnya malah ham hem ham hem, berdehem seperti biasanya.
Adi melihat Risda dengan intens yang nampak kepalanya yang tertutupi jelbab dan tangan yang sedang memegang buku dengan posisi tiduran.
Risda merasakan ada pandangan mata yang tertuju padanya, insting Risda mengatakan itu lantas Risda bangun kembali dalam secepat kilat, ingin mengetahui siapa yang menatapnya demikian, Risda ingin memastikan yang menatapnya, Adi abangnya atau Bintang sahabat terbaiknya.
Risda melihat Adi yang berpaling pandangan sedangkan arah pandang Bintang lurus kebawah menatap setumpuk dokumen. "Kenapa bang" tanya Risda kemudian.
"Tidak ada" melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Risda yang mendengarkan penuturan Adi yang mengatakan tidak ada lantas Risda kembali merebahkan badannya kembali melanjutakan membacanya.
...****************...
Dua pertemuan sudah terlewati UAS terlalu mulus tanpa rintangan bagi Bintang dan Risda yang memang sudah memahami setiap materi yang telah dijelaskan oleh dosen yang mengajar di ruang kelas. Dan hari ini adalah hari terakhir Bintang dan Risda melaksanakan ujian.
Risda menatap Bintang sekilas yang berada di sampingnya dan mengungkap perasaan jenuh dari Risda "bosan" menatap datar lulus arah depan matanya.
"Mau ke gunung, laut, sungai, atau waterbom" tawar Bintang.
"Semuanya".
"Jangan rakus".
"Taman" pilih Risda kemudian.
"Tidak ada dalam draft tawaran" tolak Bintang.
"Tambahkanlah" mengambil tas memasukkan polpen dan hp dalam tas.
__ADS_1
"Baiklah dengan syarat" tawar Bintang lagi.
"Apa?" tanya Risda.
"Hanya kita berdua".
Risda menghentikan aktifitasnya dan menatap Bintang sambil mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum simpul "hanya itu".
"Ya".
"Baiklah. Siapa takut" melanjutkan aktifitas kembali "tapi".
"Apalagi" tanya Bintang lagi.
"Kita pergi sekarang".
Tersenyum simpul dan singkat jawaban dari Bintang. Bintang kemudian melajukan mobil meninggalkan perkarangan kampus dan menuju taman terdekat.
Belasan menit berlalu dengan laju kecepatan diatas rata-rata kelajuan mobil yang dikendarai Bintang sedangkan Risda yang duduk disebelahnya santai-santai saja tidak merasakan ketakutan sama sekali. Kini mereka berdua telah sampai di taman yang menyediakan area khusus olahraga.
Risda baru mengetahui ada tempat semenarik ini di sekitaran kampus. Risda yang masih duduk bersebelahan dengan Bintang, menatap Bintang sekilas dan melihat penampilannya sekilas. Lalu hembusan napas terdengar frustasi dari Risda dikarenakan kustom Risda tidak cocok untuk tempat olahraga ekstrim seperti ini.
Bintang tahu apa yang Risda rasakan yaitu baju gamis yang ia kenakan tidak sesuai dengan yang akan dilakukan Risda nanti.
"Ayok turun" ajak Bintang.
"Tapi Bint" ragu Risda.
"Ambil paper bag di belakang dan ayok ganti baju dulu".
Risda segera memalingkan wajah menatap tujuan yang ditujukan Bintang dan Risda menemukan paper bag dengan sepasang baju couple training. Risda tersenyum merekah lebar tulus sehingga menambah kecantikan berkali kali lipat pada Risda sehingga Bintang yang melilhat Risda tersenyum harus memalingkan wajahnya, tidak kuat jika memandangi terlalu lama dan dalam.
Bintang dan Risda turun dari mobil dan menuju toilet untuk mengganti baju mereka dan mereka kembali lagi ke mobil untuk meletakkan baju yang mereka pakai tadi. Bukan Risda saja yang ganti baju namun Bintang juga melakukan hal yang sama mengganti bajunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...