
Sakit sekali hatiku batin Risda berteriak.
"Sudah tahukan jawabannya" sarkas Bintang yang lagi dan lagi menyadarkan Risda namun Risda belum juga sadar, masih saja menyukai dan mencintai Albert.
"Heum" jawab Risda seolah-olah cuek bebek, tidak peduli, padahal hatinya sungguh sangat sakit.
"Risda, Risda" geleng-geleng kepala "yang didepan matanya gak nampak apa?" tanya Bintang dengan suara lirih pada dirinya sendiri.
Bintang menggandeng tangan Risda menuju parkiran untuk pulang kerumah tetapi sebelumya Bintang terlebih dahulu menjemput Rita yang masih berada di fakultasnya.
Bintang dan Risda telah berada di Fakultas akuntasi.
Bintang melihat Rita yang terlalu fokus menunduk menatap HP nya yang berdiri dibahu jalan.
Tit tit tit. Suara klakson mobil Bintang.
Rita sedikit kaget dengan suara klakson mobil Bintang dan mendongakkan kepalanya kembali, melihat dan memastikan itu benar lah Bintang, baru Rita menaiki mobil.
Phom. Rita menutup pintu mobil Bintang. Rita yang telah berada dalam mobil Bintang merasakan gerah dikarenakan tadi Rita sedikit kepanasan saat menunggu Bintang sampai. "Gerah ya" Rita mengibas ngibas tangan pada area mukanya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hening. Akhirnya Rita menaikan sendiri suhu ac yang berada diatas kepalanya. "Uh, segerrrr" ucap Rita.
Perjalanan pulang tetap berlanjut, keheningan sudah pasti terjadi sepanjang perjalanan.
...****************...
Beberapa hari telah terlewati begitu saja. Hari ini jadwal Risda untuk kembali chek up pada hidungnya untuk menentukan tanggal kapan pastinya akan di operasi, apakah bisa langsung di operasi hari ini atau tidak.
Kesehatan Risda sangat mendukung. Risda selalu fiet dengan kebugaran, yang binsik setiap hari ia lakukan. Besok hidung Risda akan di operasi.
Dua puluh empat jam sebelum di operasi, Risda diharuskan rawat inap. Tidak ada yang spesial, yang ada hanya rengekan Risda ingin pulang tidak mau melakukan operasi. Rengekan Risda seakan tidak pernah terdengar di telinga Nur dan Zay.
Risda telah masuk dalam ruang operasi lampu merah telah menyala tepat diatas pintu ruangan bagian luar. Adi, Bintang Irsyad, Nur dan Zay harap-harap cemas, lafadz doa tidak pernah luntur dari mulut mereka.
Alhamdulillah semua nya berjalan lancar dan Risda sudah di pindahkan ke ruang inap lagi dan kondisi Risda sudah lebih stabil.
Irsyad yang setiap saat jika melihat Risda kakaknya selalu menyemburkan tawa saat melihat hidung kakaknya yang mancung namun sedikit bengkok di bagian tengahnya.
"Hahahha. Hidung kakak udah bengkok" tawa Irsyad.
__ADS_1
Irsyad terus saja mengoceh tentang hidung kakaknya, Risda. Risda tentu mulai terusik dengan ocehan sang adik yang mengganggu konsentrasinya dalam membaca buku.
"Bisa diam tidak?" tanya Risda yang masih sabar mengahadapi ocehan adiknya selama tiga hari ini, mengenai hidungnya yang sedikit bengkok.
"Hahahah. Ngak bisa kak, lucu soalnya".
"Tidak bisa ya?" tanya Risda.
"Tidak. Hahaha" melanjutkan tawa.
Risda masih berada di RS. Kebetulan Risda dalam ruang inap hanya berdua dengan Irsyad sang adik. Risda menatap Irsyad datar, Risda mulai mode garang tidak ada lagi tampang kesakitan yang ia rasakan saat ada yang mengusiknya membaca buku.
Irsyad yang sudah tertawa terbahak bahak tidak menyadari tatapan singa Risda sang kakak sudah aktif kembali.
"Dek" panggil Risda.
"Itu pintu" tunjuk Risda pada Irsyad.
"Tahu kak. Hahah" melanjutkan tawa "hidung kakak mancung sih tapi sayang sekarang sudah bengkok. HAhahah" melanjutkan ejekan lagi.
"Dek mau keluar sendiri atau kakak yang akan melemparmu keluar".
"Keluar".
"Nanti kak, tunggu mamak sama bapak datang dulu" tawar Irsyad yang memang tidak diizinkan sang kakak ditinggalkan sendiri.
"Keluar ngak kamu?" tanya Risda sekali lagi.
"Ngak. Kak". Risda udah mengeram kesal meremas buku yang ditangannya dengan tangan yang masih tertusuk jarum inpus sehingga selang yang semula berwarna bening kini berubah warna menjadi merah kental terlihat. Risda meraba kesamping dan menemukan hp Risda yang terletak diatas nakas
Ceklek. Pintu terbuka secepat kilat dan "AAaaaaa" teriak keras Irsyad yang sudah jongkok diambang pintu yang terbuka beriringan dengan layangan hp yang Risda lemparkan.
Bersamaan dengan pintu terbuka terdapat dua pria tampan yang sedang berjalan bersamaan yaitu Albert dan Bintang.
Albert dan Bintang tidak sengaja bertemu di parkiran tadi.
Haaaappp. Albert menangkap hp yang Risda lempar. Hp tersebut seharusnya mengenai Irsyad adiknya dikarenakan dengan reflek Irsyad yang membuka pintu dan duduk jongkok diambang pintu jadilah hp Risda berada dalam genggaman Albert.
Bintang yang melihat Albert yang menatap dalam Risda yang berada dalam ruangan, duduk di atas ranjang pasien dengan kekesalan yang masih terasa. Albert berdiri diambang pintu Risda sambil melihat hp melayang sendiri dan sekarang berada dalam genggaman Albert gurunya hanya bisa melongo tidak percaya akan tindakan Risda yang sangat frontal.
__ADS_1
Risda memelototkan matanya tidak percaya melihat Albert yang berada diambang pintu tepat disamping Irsyad yang masih jongkok sambil menutup telinganya ketakutan.
Perlahan namun pasti, Irsyad membuka matanya perlahan melihat kesamping ada dua pasang kaki dengan memakai sepatu mengkilap berada di sampingnya lalu Irsyad mendongakkan kepalanya melihat Bintang dan satunya lagi Irsyad tidak mengenalnya.
Bintang segera tersadar, ada yang tidak beres antara adik dan kakak itu.
"Bangun kamu" perintah Bintang.
"Abang. Maaf" mental Irsyad mulai menciut, kini dirinya bukan hanya berhadapan dengan satu singa melainkan dua sekaligus.
Albert yang melihat dua orang yang ia yakini itu adalah dua duanya muridnya menatap datar kemudian menatap pada bocah remaja yang sedang menunduk menahan takut setengah mati.
Kemudian Albert tersenyum hangat menatap Irsyad dan menyentuh pundak Bintang untuk berhenti menakuti.
Bintang melihat Albert menenangkan Irsyad.
Tidak dengan Bintang yang tetap akan mempertahankan kedataran wajahnya "kamu apain kakakmu" tanya Bintang.
"Hidung kakak bengkok" ucap polos Irsyad antara ingin tertawa tapi takut, jika dirinya tidak tertawa tetapi dirinya tidak tahan.
Albert yang mendengar kata yang keluar dari Irsyad segera berpaling wajah menatap Risda yang duduk di brankar pasien. Namun Risda segera berpaling pandangan lantaran malu.
Albert melihat selang inpus yang Risda kenakan sudah dengan dua warna segera memerintahkan Bintang untuk memanggil perawat untuk memperbaiki inpus Risda.
Albert tanpa permisi masuk dalam ruangan Risda dan melerai perlahan remasan buku yang masih tergenggam erat di tangan Risda.
"Ini bukunya jangan terlalu erat di genggam, nanti rusak" ucap Albert lembut dan ditambahi dengan senyuman manis sambil melepas perlahan buku yang tergenggam di tangan Risda.
Deg.
Jantung Risda begetar hebat saat mendengar suara Albert dari jarak dekat dan juga tidak lupa sentuhan tanpa sengaja antara tangannya dengan tangan Albert.
Jantung hati mengungkap rasa, degupan jantung tak lagi berirama, berkejaran entah kemana. Lidah terasa kelu, kata tak ada yang terumbar terasa hambar berputar begitu saja.
Risda menatap wajah Albert sendu ingin mengungkap rasanya namun tidak ada keberanian sama sekali dalam hatiya.
Kedua pasang mata itu saling menatap dalam satu sama lain dan salah satunya wajah tersenyuman dan satunya lagi tetap dengan kedataran.
BERSAMBUNG...
__ADS_1