
Waktu telah menunjukan saatnya makan malam. Risda terlebih dahulu turun sebelum dipanggil untuk makan bersama. Keadaan Risda sudah jauh lebih baik, tidak lagi pusing atau mengeluarkan darah lagi dari hidungnya.
Bintang selepas menjelaskan apa yang terjadi pada Risda segera berlalu pulang ke apartemennya dikarenakan adik Bintang sedang libur dan pulang kerumah masing-masing.
Dua hari libur dikarenakan akhir pekan sabtu dan minggu Risda menghabiskan waktunya berada dalam kamar mengistirahat tubuhnya total dari segala aktifitas tapi kadang rasa jenuh dan bosan akan datang menghampiri maka Risda akan duduk didepan laptop dan menulis sebentar namun Risda tidak akan memaksa tubuhnya beraktifitas karena kadaan Risda masih merasakan sakit pada hidung pada kepalanya.
Dua hari terlewati begitu saja, terasa sangat cepat. Hari senin kembali menghampiri mau tidak mau Risda harus kembali pada aktifitas perkuliahan.
Risda berdiri di depan cermin besar yang berada dalam kamarnya melihat penampilannya yang sudah rapi atau belum. Tiba-tiba satu senyum terukir indah di wajah manis Risda saat bayang Albert melintas dalam pikirannya. Ish, pikirin apa sih aku ini gumam lirih kesal Risda pada diri sendiri.
Rindu mengapalah dikau merayu, mendomisilikan diri di hatiku, menggeparkan isi pikiranku dengan wajah manismu. Apa yang telah dikau lakukan padaku, hatiku telah kau curi pikiranku telah kau racuni dengan rindu yang melanda hati sehingga logika tidak mampu mengatasi.
Aku terkurung dalam ruang rindu dan terkekang dalam mengagumimu. Helaan napasku seiring dengan pacu jantung hatiku, senyum dari bibir hanya saat kamu melintas dalam hatiku. Ahmad Alfarisi Albert segila itukah aku dalam mencintaimu.
Risda keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama dan menuju garasi untuk menuju ke kampus. Risda ingin membawa keretanya sendiri menuju kampus yang kebetulan hari sabtu kemarin keretanya sudah diantar kembali kerumah atas perintah dari Bintang yang diantar oleh salah satu staff security.
Brum Brum brum. Risda meng gas gas sepeda motornya bermaksud untuk memanaskan mesinnya terlebih dahulu.
"Risda" panggil Zay.
"Iya pak"
"Mau kemana?"
"Kampus"
"Tidak boleh".
"Kenapa?" tanya Risda.
"Lagi sakitkan?" tanya Zay.
"Pak, Risda sudah sehat kok. Boleh ya pergi kampus" rengek manja Risda supaya dikasih Izin pergi ke kampus.
Hampir sepuluh menit berlalu dan waktu terbuang percuma, berbagai macam bentuk rayu Risda keluarkan untuk meluluhkan hati Zay dan membiarkannya pergi kampus. Zay yang sekali sudah mengatakan tidak tetap tidak.
__ADS_1
Risda mengerut kesal karena ia paling tidak suka melewatkan pelajarannya, akhirnya Risda memilih masuk kembali dalam kamarnya, mengunci pintu kamar dan meluapkan segala emosinya melalui penulisan naskah singkat dan kemudian Risda melanjutkan dengan membuat lanjutan cerita novel yang ia ciptakan.
Matahari sudah meninggi Risda yang terlalu fokus dalam menulis sampai lupa waktu, melupakan segala aktifitas yang tidak jadi ia arungi pagi tadi, suara ketukan pintu mengalihkan atensinya pada laptopnya yang sejak tadi menyala menemani Risda menghabiskan hari dan melewati waktu.
Tok tok tok. Bunyi suara ketukan pintu kamar Risda.
Risda beranjak meninggalkan laptop kesayangannya, menuju pintu dan membukanya.
Ceklek. Suara pintu terbuka. Adi tersenyum manis kepada Risda "ayok dek. Kita makan sama-sama" ajak Adi.
"Sebentar. Risda matikan laptop dulu y" Risda mematikan laptop izin Risda pada Adi dan tidak lupa mencharger kembali laptopnya supaya nanti saat ia gunakan kembali baterai laptop full kembali.
Adi dan Risda turun kebawah menuju ruang makan bersama. Sesampainya di ruang makan Risda melihat keluarganya lengkap di siang hari mengernyitkan dahinya bingung.
Risda duduk tenang, malas untuk bertanya kenapa Zay, bapaknya tidak pergi ke kantor dan Irsyad adiknya tidak pergi sekolah.
Semua anggota keluarga telah berkumpul di satu meja makan. Semuanya duduk di tempat masing-masing dan memakan masakan yang sudah tersaji yang susah payah Nur masak seorang diri dan Nur hidangkan dengan sepeunuh hati.
"Adi, sudah kamu daftarkan?" tanya Zay sambil menatap Adi.
Tidak ada lagi percakapan yang terdengar di meja makan hanya ada terdengar suara dentingan sendok yang terdengar saling beradu.
Risda yang terbiasa cuek tidak peduli dengan apa yang ditanyakan Zay pada Adi, terlihat biasa saja tidak terpengaruh atau curiga sama sekali.
Setelah selesai makan Zay melihat Risda masih rapi seperti tadi pagi saat ia akan pergi ke kampus dan langsung mengajak Risda pergi.
"Risda ayok kita pergi".
"Kemana?" tanya Risda mulai keheranan tidak biasanya bapaknya mengajak ia pergi, apalagi ini bukan akhir pekan. Risda tahu Zay bapaknya yang super duper sibuk dengan bisinisnya itu.
"Adek ikut pak" sahut Irsyad girang yang tidak diajak.
"Siap-siap sana kamu".
"Okee pak bos" memposisikan diri bagaikan ajudan yang sedang hormat pada atasannya dan kemudian Irsyad segera berlari menuju kamarnya secepat kilat.
__ADS_1
"Kita mau kemana, pak?" tanya ulang Risda.
"Jalan-jalan".
"Ikut ajalah dek, jangan banyak tanya. Abang juga ikut kok" menaik turun alisnya menggoda Risda "sepertinya kamu sudah tertular penyakit kepo sama seperti Rita ya?" tanya Adi, setelahnya Adi mengudarakan tawanya seorang diri saat melihat kekesalan Risda.
Risda hanya menatap datar pada Adi sekilas dan kemudian melangkah menuju kamarnya untuk mengambil hpnya dan juga mencabut charger laptop yang ia sambungkan tadi.
Irsyad dan Nur telah siap dan berjalan menghampiri Adi dan Zay yang duduk di ruang keluarga bersamaan dengan kedatangan Risda dari kamarnya.
Zay melihat anak dan istrinya telah siap segera bangun dan melangkahkan kakinya menuju mobil sedangkan yang lainnya mengikuti.
Adi mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Satu jam berlalu dikarenakan jalanan yang macet bertepatan dengan dengan jam istirahat kantor.
"Ma, ngapain kita kesini?" tanya Risda akhirnya.
"Buat periksa hidung kamu dek" jawab Adi.
"Emang kenapa dengan hidung Risda bang, kan ngak sakit lagi".
"Bapak, katanya tadi mau jalan-jalan, bukan kesini" tanya Risda ikut menyusul turun dari mobil dan berdiri disamping Zay.
"Ini juga jalan-jalan sayang" mengusap pucuk kepala Risda sayang.
Risda mengerut kesal merasa telah dibohongi.
Rontgen baca Risda dalam hati setelah sampai depan ruangan. Ngapain kesini apakah separah itu hidungku? monolog Risda sambil mengusap hidung mancungnya sedikit kasar. "Aww" ringis sakit Risda pada hidungnya.
Instalasi Radiologi adalah salah satu sarana penunjang medis yang memberikan layanan pemeriksaan rontgen dengan hasil pemeriksaan berupa foto/gambar/imaging yang dapat membantu dokter dalam merawat pasien dan menentukan diagnose pasien. Pemeriksaan ini bisa dilakukan di ruangan dokter ataupun ruang khusus karena memerlukan alat dan kondisi khusus demi mendapatkan hasil yang dapat diandalkan. Terdapat beberapa jenis pemeriksaan radiologi, di antaranya: Radiografi atau rontgen: sinar-X untuk menggambarkan tulang, dada, dan perut.
"Pak, Risda ngak mau masuk ruangan itu, takut" tawar ngadu Risda pada Zay.
"Tidak apa-apa. Duduk sini" menarik tangan Risda supaya duduk disebelahnya "ada bapak disini, jangan takut ya. Ini juga untuk kebaikan Risda juga".
BERSAMBUNG...
__ADS_1