
Dari kejauhan dalam kegelapan malam dibawah sinar rembulan, aku mencuri-curi pandang pada kekasih hatiku, dia begitu tampan, aura kewibawaannya begitu luar biasa aku terpesona akan keindahannya, aku juga terkagum-kagum padanya tapi sangat disayang, aku tidak bisa melimilikinya.
Albert sadar, jika Risda sering curi-curi pandang padanya walau tidak ada kata pembicaraan yang terjadi diantara mereka. "Kenapa" tanya Albert tanpa mengalihkan pandangan lurus menatap jalan didepannya.
"Apa" balik tanya Risda sambil melihat Albert. Albert juga melihat Risda. Pandangan bersatu, salah satu jiwa memberontak mengatakan kamu adalah milikku sedangkan satu jiwa lagi mengatakan kamu siapa untukku.
Hanya beberapa detik pandangan saling tatap yang terjadi antara Albert dengan Risda kemudian mereka berdua sama-sama menatap jalan lurus pandangan mereka masing-masing.
"Jangan curi-curi pandang seperti itu" ucap Albert kemudian yang tidak nyaman dengan Risda yang selalu curi-curi pandang, bukan kali ini saja bahkan setiap kali terjadi pertemuan walau berjauhan Risda tetap selalu curi-curi pandang.
"Apakah itu tindakan kriminal?" tanya Risda dengan tatapan mematikannya menatap Albert kesal.
Albert melihat sekilas raut wajah Risda yang memandang tidak enak dipandang. Albert diam tidak menjawab dan kembali menatap jalanan di depannya karena bahaya mengabaikan jalanan disebabkan Albert sedang mengendarai motor walau dengan bantuan dorongan tolak kaki dari Risda tetap saja harus memperhatikan jalanan.
Dari kajauhan gelapnya malam, hanya penerangan lampu menerangi jalan kita sayang. Aku tidak ingin pisah denganmu. Sepuluh menit sudah berlalu tetapi rasanya baru sedetik aku menghabiskan waktu denganmu. Tujuan sudah di depan mata kini saatnya kita berpisah kembali.
"Pak" panggil Risda "itu pom bensinnya".
"Alhamdulillah. Iya, itu dia" jawab girang Albert yang merasa tidak enak pada Risda yang sudah sangat jauh mendorong keretanya.
Risda melanjutkan mendorong atau menolak kereta dengan kakinya. Risda menolak kereta Albert dengan bertumpu pada kaki kirinya yang Risda tetap menaiki dan mengendarai keretanya sendiri. Risda terus mendorong kereta Albert sampai antrian orang-orang mengantri bensin. Setelah itu Risda berlalu pergi begitu saja meninggalkan Albert dalam antrian. Dan tidak lupa pula Albert mengucapkan kata terimakasih pada Risda yang telah membantunya.
Risda hanya menjawab ucapan terimakasih dari Albert dengan senyum tulus dan anggukan kepala saja.
Di lain tempat yaitu di rumah Risda, Nur sangat gelisah karena Risda pergi dari pagi tanpa tahu kemana Risda pergi sedangkan Irsyad dan lainnya telah kembali dari tadi.
"Assalamualaikum, ma" ucap salam Irsyad yang baru pulang di waktu sholat magrib hampir habis bergantikan dengan sholat insya.
"Walaikumsalam" jawab Nur tanpa mengalihkan pandangan pada telpon genggamnya menelpon Bintang dan Rita, siapa tahu Risda bersama mereka. "Kakak kamu mana Ir".
"Ngak tahu maa" melepas sepatu "tadi kakak kayaknya pergi latihan".
"Stadion udah kosong".
__ADS_1
"Kok mama bisa tahu, stadionnya sudah kosong".
"Bintang sudah mengeceknya tadi kesana".
"Ma" panggil Irsyad.
"Kakak, apa ngak ada kawan lain selain abang Bintang dan kak Rita".
"Ngak ada".
"O" Irsyad membulatkan mulutnya tanda mengerti. "Sabarlah ma, palingan jam sepuluh nanti kakak juga pulang" berlalu pergi meninggalkan Nur yang masih cemas dan pergi masuk dalam kamar untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.
Setelah kepergian Irsyad, Adi keluar dari kamarnya melihat Nur yang mondar mandir seorang diri lantas bertanya "kenapa ma?"
"Adik kamu belum pulang. Dari mana saja kamu" pernyataan dan pertanyaan Nur pada Adi karena Nur semenjak tadi tidak melihat Adi.
"Irsyad sudah pulang kok" bingung Adi baru saja melihat Irsyad yang melintasi dirinya.
"Lah tumben tu anak keluar kamar, malah sekarang keluar rumah. Belum pulang pulak, padahal sudah malam begini" ucap lirih Adi.
Plakk. Satu tamparan mendarat di bahu Adi yan dilakukan oleh Nur walau Adi tidak merasakan sakit sama sekali tetapi Adi berpura-pura mengaduh sakit. "Mama sudah telepon Risda" ucap Adi kemudian.
"Itu" tunjuk Nur pada benda pipih milik Risda yang sengaja Risda tinggalkan. Ya, Risda setiap pergi stadion tidak pernah membawa hp, ia hanya akan membawa dompet saja.
"Ahm. Mama tenang ya, sekitar jam sepuluh nanti Risda juga pasti pulang" ucap kata penenang dari Adi walau Adi sendiri kurang yakin karena Risda tipe anak rumahan, yang jarang keluar rumah jika tidak ada keperluan khusus, bukan jarang bahkan hampir tidak pernah.
Risda mengendarai motor besar kesayangannya dengan santai menuju tidak tahu entah kemana. Setengah jam berlalu. Perut Risda menuntut untuk segera diisi, akhirnya Risda memilih singgah di rumah makan siap saji terdekat.
Risda makan dengan lahap seorang diri sambil memerhatikan mobil dan kereta yang berlalulalang. Setelah siap Risda makan, Risda tidak langsung pulang malah semakin intens memperhatikan mobil dan motor yang terus berlalulalang dengan tujuan mereka masing-masing.
Jalan dua alur, arah berlawanan kiri dan kanan. Kendaraan mobil dan motor berlalulalang di jalan yang sama tetapi dengan tujuan arah yang berbeda.
Tampang bisa memanipulasi ketertarikan penasaran sedangkan kecantikan dan ketulusan hati yang selalu diharapkan. Usah dirayu pada yang tidak pasti, usahlah mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk dimiliki.
__ADS_1
Waktu bisa mengukir kenangan indah aku denganmu seperti yang baru terjadi antara kita tadi tentu akan menjadi sejarah aku dengan kamu yang akan aku ingat selalu sayangaku.
Risda memandang jalanan tanpa berkedip, menikmati angin polusi kendaraan yang terus berhembusan, Risda tidak mempedulikan itu semua.
Detik berdenting, waktu berlalu, jam terus berputar, begerak berputar selaras dengan yang seharusnya. Risda duduk tenang depan rumah makan itu dalam keriuhan lalulalang kendaraan namun tiba-tiba suara klakson mobil tronton yang melintas di depannya sengaja di tekan untuk mengejutkan Risda.
Pom pom Pommm.
"Astaqfirullah" terkejut Risda.
Karnet dari mobil tronton itu menyembulkan setengah kepalanya keluar jendela dan berteriak "dek jangan melamun, nanti abang tampanmu ini diambil orang".
Risda hanya menghembuskan napasnya kasar tanda kesal akan candaan itu dan memutar matanya malas dan kemudian Risda beranjak bangun menuju kasir untuk membayar makanan yang telah ia makan.
Setelah membayar, Risda melihat jam arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Bola mata Risda seakan meloncat keluar melihat angka yang ditunjukan jarum pada jam tangannya.
"Pukul sepuluh tepat" lirih Risda.
Pulang larut bukanlah suatu kebiasaan Risda. Jangkan pulang larut, keluar rumah aja jarang kecuali kekampus ataupun latihan atau melatih.
Keterkejutan Risda sangat terlihat kali ini namun hanya sekilas kemudian Risda menetralkan kembali raut wajahnya pada mode normal yaitu datar.
"Tenanglah Risda" ucap Risda pada dirinya sendiri untuk menenangkan.
Risda telah keluar dari rumah makan kini sedang menuju ke tempat parkiran motor.
Helaan napas terdengar kasar dari Risda menyadari posisinya sekarang dari rumah lumayan jauh, satu jam perjalanan dengan lajuan kecapatan normal.
Brum brum brum. Suara deruman mesin kereta Risda.
wajah Risda terukir senyuman manis yang tertutupi kaca helm.
BERSAMBUNG...
__ADS_1