Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Tersayat Hati


__ADS_3

"Bagaimana tugas yang saya berikan


Apakah sudah siap?" tanya Albert pada seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang hadir di perkuliahan meeting zoom di mata kuliah hukum islam.


Risda melototkan bola mata dan menepuk jidatnya sendiri lantaran lupa membuat tugas mata kuliah hukum islam yang di berikan oleh pak Albert setelah itu Risda mengelus dadanya sendiri lantaran teringat jika tugas review yang diberikan oleh pak Albert tidak di kumpulkan hanya di pelajari saja.


Albert yang tidak sengaja melihat kelakuan Risda dari layar monitor laptop yang ada di depan matanya, tersenyum sendiri tidak lama kemudian Albert memanggil nama Risda.


"Risda Zay Akli" panggil Albert.


Risda tidak langsung menyalakan microfont yang ada dalam aplikasi meeting zoom tetapi Risda kembali melototkan kembali matanya sebentar lantaran ia juga lupa untuk meng off kan kamera untuk sementara.


Hati Risda menjerit oh tidak! aku kena lagi, ini tidak mungkin cepat terlepas, pasti akan ada perdebatan panjang.


Hati menjerit ingin menangis tapi tidak jadi lantaran Risda tersadar saat ada suara yang berasal dari laptopnya memanggil namanya kembali.


"Risda Zay Akli" panggil Albert lagi.


"Yang namanya Risda Zay Akli apakah masih bergabung dalam meeting zoom ini? jika tidak ada, akan saya keluarkan".


Risda buru buru mengklik tombol on di microfont aplikasi meeting dan menjawab "aaadaa pak" jawab Risda tergagap lantaran ia tahu kesalahannya yang tidak mengerjakan tugas.


"Kenapa kamu tadi tepuk tepuk jidat" tanya Albert pada Risda, sedangkan teman Risda yang lain yang sempat melihat Risda menepuk nepuk jidat pada ketawa semua sedangkan teman Risda lainnya yang tidak sempat melihat apa yang dilakukan Risda pada bertanya tanya apa yang terjadi.


"Gatal pak" jawab Risda canggung.


"Dan kamu tadi ngusap ngusap dada kenapa?


apa kamu pikir tugas kamu tidak akan saya tanyakan sama kamu gitu?


Semua akan saya panggil satu satu".


"Ayok jawab kenapa kamu ngusap ngusap dada tadi" desak tanya Albert pada Risda.


"Hehehe ngak ada apa apa pak" jawab Risda cengengesan.


"Terserah kamulah


Sekarang coba kamu jelaskan secara rinci dan sedetail mungkin tentang tugas yang saya berikan sepekan yang lalu".


"Baik pak


Tugas yang bapak berikan sepekan lalu tentang kedudukan hakim perempuan."

__ADS_1


Risda menjelaskan apa yang ia ketahui secara bahasa ringan yang mudah untuk di pahami dengan tegas tanpa ada kata kata yang terbelit belit.


"Betul" jawab Albert, apa yang kamu jelaskan tadi sangat pas dan mudah untuk di mengerti tetapi kamu baru menjelaskannya dalam satu hal aspek saja, coba kamu jelaskan dari hal aspek lain atau dari sisi pandangan yang lain.


Risda tidak tahu harus menjawab apa lagi karena tadi ia sudah menjelaskan semua apa yang ia ketahui.


Karena Risda tidak tahu harus menjawab lagi keheningan dan kebisuan mulai tercipta dengan sendirinya.


Risda bermonolog dalam hatinya sendiri, ini orang maunya apa sih, sudah tahu kalau aku tidak buat tugas kenapa juga masih menyudutkan aku dengan berbagai pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya kenapa juga mesti harus tanya padaku.


Ah sudahlah ini juga salahku kenapa juga tidak belajar, ini juga untuk kebaikanku sendiri supaya lebih giat lagi dalam belajar menuntut ilmu dengan bersungguh sungguh.


"Risda Zay Akli" panggil Albert.


"Iya pak" jawab Risda sopan.


"Kamu jawab jujur ya


Tugas yang saya berikan untuk di pelajari, apakah kamu sudah mempelajarinya".


"Hehe Tidak pak" jawab Risda cengengesan sambil menampilkan 2 deret gigi rapi dan putihnya.


"Kenapa?" tanya Albert pada Risda.


"Lupa pak" jawab Risda dengan menggaruk tengkuk kepala belakangnya sendiri.


Risda tidak langsung menjawab tetapi ia terlebih dahulu menyuguhkan senyuman manis nan tulus lalu menjawab pertanyaan Albert


"Tidak pak, saya tidak punya pacar".


Bagaimana saya punya pacar sedangkan hatiku telah terpikat dengan anda tuan Ahmad Alfarisi Albert, saya mencintaimu dengan tulus tapi kau jangankan membalas cintaku tahu aja engak kalau aku suka sama anda tuan.


hahah Albert tertawa melihat raut wajah Risda yang memberikan senyuman manis tapi Albert malah melihat rona merah di wajah Risda, dan Albert mengartikan rona merah tersebut sebagai tanda bahwa Risda malu.


"Saya penasaran sama kamu, bagaimana bisa kamu menjawab sedetail tadi tentang tugas yang saya berikan sedangkan kamu sama sekali tidak mempelajarinya".


"Oh itu karena saya teringat dulu ustasdz saya pernah menjelaskan kedudukan kepemimpinan seorang laki laki dan perempuan".


"Nah di situkan pak saya menyimpulkan seorang pemimpin jika terjadi sesuatu masalah maka pemimpin ini tidak langsung mengambil keputusan dengan tergesa gesa sebelum menyelidiki apa yang telah terjadi, sedangkan para hakim ini juga sama pak mereka akan menyelidiki terlebih dahulu apa yang terjadi baru mereka mengambil keputusan sesuai ketetapan peraturan yang ada".


"Dan untuk kedudukan seorang hakim perempuan itu pak seperti...."


Risda terus menjelaskan apa yang ia mengerti dan pahami sampai semua selesai.

__ADS_1


Albert menganggukkan kepalanya tanda mengerti


Hm oke mantap, karena kamu tidak belajar apa yang saya suruh maka nilai kamu saya berikan C.


Yeh yah paak kok C tadi kan saya sudah jawab semua pak.


"Saya belum habis ngomong kenapa kamu potong, langsung nyaut omongan saya".


"Maaf pak Risda lancang".


Maaf pak waktu mata kuliah kita sudah habis pak ucap Bintang sebagai komisaris kelas mewakili kawan lainnya karena sepuluh menit lagi kami akan masuk mata kuliah yang lain.


Hah kok cepat sekali habis waktunya, saya bahkan belum menjelaskan apa apa pada kalian


Berikan saya waktu sepuluh menit lagi untuk melengkapi penjelasan dari Risda tadi.


Baik pak.


Setelah sepuluh menit Albert menjelaskan tentang materi perkuliahan kemudian Albert mengatakan "saya sering memanggil orang itu bukan berarti saya suka orang itu".


Assalamualaikum.


Walaikumsalam pak terimakasih untuk ilmunya hari ini ucap salah satu mahasiswa yang ada dalam pertemuan online tersebut.


Dheg bunyi detak jantung Risda.


Risda tidak menjawab salam yang diberikan oleh Albert malah Risda terdiam kaku dengan tatapan mata kosong


Hah kok bisa bapak itu tahu kalau aku suka samanya. Hati Risda menjerit menangis pedih belum juga Risda menyatakan cinta tetapi sudah di tolak duluan.


Risda terlupa bahwa ini waktunya sudah memasuki kelas mata kuliah berikutnya malah Risda sibuk memikirkan cinta pertamanya.


Oh inikah cinta pertamaku


oh beginikah rasanya sakit jika hati ini tidak terbalaskan.


Risda tersentak kaget dengan adanya getaran yang ada dalam pangkuannya


Astaqfirullah apaan sih hp ini ngagetin aja, Risda mengambil hpnya dan melihat nama Bintang yang tertera sebagai penelpon.


"Masuk kelas


Jangan asik pikir cinta cintaan selesaikan dulu kuliahmu itu" ucap Bintang di sebrang telpon sana lalu Bintang bergegas mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.

__ADS_1


Sedangkan Risda di seberang telepon sini malu sendiri karena Bintang tahu permasalahan Risda.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2