Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Pertemuan Tanpa Sengaja


__ADS_3

Perkuliahan usai sudah untuk hari ini. Bintang keluar terlebih dahulu ketimbang Risda. Risda membereskan buku dan pulpen lalu mesukannya kembali dalam tasnya. Creeeek Risda mengancing sleting tas, satu helaan napas kasar terdengar kala sletingnya cerai terpisah ulah Risda sendiri yang terlalu keras menariknya.


Bintang masih setia menunggu Risda diluar ruangan. Sudah sepuluh menit lebih berlalu namun Risda tak kunjung keluar juga dari ruang kelas lantas pikiran Bintang sudah menjalar berpikiran yang negatif pada Risda. Bintang menyusul Risda yang masih berada dalam ruangan padahal sudah jelas Risda yang tinggal seorang diri dalam ruangan.


Bintang tercengang dengan penglihatan yang dilihatnya dan ditambah lagi dengan pikirannya yang sudah menebak kemungkinan-kemungkinan buruk yang menimpa Risda. Risda masih duduk dikursinya tadi dengan pandangan tertunduk dalam yang kepalanya ditompa oleh kedua tangannya.


"Riiisdaaaa" teriak Bintang menggema seluruh ruangan dan mungkin entah berapa kilo meter jarak yang akan menembus dengan tembakan suara paniknya itu.


Nyut. Kepala Risda bertambah berdenyut lagi kala mendengar suara teriakan Bintang. Risda perlahan menurunkan topangan tangannya dan mendongak kapalanya perlahan.


Bintang memelototkan matanya dan langsung berlari ingin memeluk Risda saat melihat wajah pucat dan mata agak kemerahan terpampang jelas dari wajah cantik alami Risda.


"Apaansih" mendorong badan Bintang perlahan agar tidak memeluk dirinya. Risda beranjak dari kursi yang didudukinya dan keluar dari ruangan diikuti langkah panik Bintang dan tidak lupa pula pandangan bingung akan rasa penasaran dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


Risda terus melangkahkan kakinya dengan perasaan kesal akan teriakan panik dari Bintang yang mampu membuat denyutan di kepalanya bertambah durasi dan juga malu tentunya.


Risda menghentikan langkah kaki secara tiba-tiba dan dengan reflek Bintang juga melakukan hal yang sama menghentikan langkahnya.


Risda tercengang bagaikan terpaku di tempat. Risda terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat sekarang ini bukan lagi halusinasi cintanya melainkan real kenyataan.


Tampannya monolog hati Risda. Setelah sekian bulan berlalu, hari ini, hari pertama dan untuk pertama kali Risda melihat dosen pujaannya hatinya sekaligus cinta petamanya yaitu Ahmad Alfarisi Albert.


Oh My Darling. Cinta pertamaku Ahmad Alfarisi Albert. Mata Risda yang terus menerus mengarah melihat pak Albert dari kejauhan. Hati Risda bersorak riang kesenangan setelah sekian lama baru inilah takdir mengizinkannya bertemu dengan Albert pujan hatinya.

__ADS_1


Lebih dari enam bulan telah berlalu anda bersemayam dalam hati saya tuan, walau tanpa temu yang terjadi diantara kita. Sungguh gila ya tuan, saya mencintai anda seorang sedangkan anda belum tentu membalas rasa cintaku ini. Jika boleh saya jujur padamu, ingin rasanya aku melempar batu kora yang berbentuh cinta hatiku padamu tepat didadamu supaya anda tahu rasa cintaku padamu benar-benar menghantam jiwa hatiku.


Langkah Bintang bagaikan terpaku dibumi kala langkah Risda terhenti. Bintang memandangi wajah Risda dalam, kemana hilang wajah pucat Risda dan dimana mata merah menahan sakit tadi mengapa berubah berbinar kemerahan berseri-seri malu-malu? monolog hati Bintang berusaha tetap tenang walau masih dalam keadaan bingung.


Bintang mengarah pandangan matanya mencari objek yang mampu membuat sahabat sekaligus kekasihnya itu bisa berubah berbinar dalam sekejap yang tadi sangat kesakitan. Bintang hanya ber oh saja dalam hati setelah mengetahui apa yang sedang dilihat Risda. Bintang sengaja tidak menyadarkan Risa dulu, Bintang biarkan Risda tenggelam dalam imajinasinya sendiri.


Beberapa menit berlalu Risda masih diam terpaku tanpa pergerakan sama sekali hanya kelopak mata yang sekali yang tampak setengah berkedip. Bintang menyadari sudah beberapa pasang mata memandang mereka aneh yang masih terpaku di tempat, jadi mau tidak mau Bintang harus menyadarkan Risda dari buaian keterlenaannya seorang diri.


"Risda" panggil Bintang sambil menepuk pelan bahu Risda.


"Iya sayang" tersenyum tulus. "Eh, Astaqfirullah, maaf maaf" membekap mulutnya sendiri lantaran malu.


Bintang menanggapi kata sayang dari Risda dengan senyuman binar kebahagian bercampur kecewa.


Muka Risda tambah merah warnanya setelah mendapatkan teriakan dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Risda membalikkan badannya menghadap arah orang yang meneriakinya dan kemudian Risda tersenyum sekilas lalu membalik haluan langkahnya menuju parkiran dengan tetap mempertahankan ketenangan walau malu setengah mati karena diteriaki.


Kata panggilan yang keluar dari bibirmu kasih, sungguh hatiku sangat senang berbunga-bunga tidak dapat aku kuasai diri ini karena hanya satu saja kata sayang yang keluar dari bibirmu. Risda Zay Akli cinta hatiku, aku tahu kata sayangmu bukan untukku tapi pada dosen itu yang telah merampas hatimu dariku. Aku tidak sepenuhnya ikhlas jika kamu bersamanya namun percayalah aku akan berusaha untuk mengiklaskan kamu bersamanya walau hatiku akan terkikis rasa yang namanya cinta.


Muhammad Bintang


Sebelum teriakan godaan itu terdengar di pendengaranku, aku melihat sekilas tatapan mata yang kamu pancarkan sobat padaku, ada cinta dan kecewa yang kamu satukan dalam tatapan yang kamu pancarkan padaku walau sekilas aku bisa melihat itu semua.


Bintang, aku sudah berusaha untuk menempatkan kamu dalam ruang khusus seperti rasa yang telah kamu berikan padaku namun maaf hanya ruang kamar persahabatan yang mampu aku berikan untukmu. Aku mohon janganlah kamu membenci atau menjauh dariku karena balasan rasamu aku balas dengan rasa sahabat. Percayalah aku menyayangimu selayaknya sahabat.

__ADS_1


Risda Zay Akli


Tanpa kata dari Bintang melihat Risda meninggalkannya seorang diri lantas Bintangpun juga melangkahkan kakinya mengikuti langkah Risda menuju parkiran. "Mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu" tanya Bintang pada Risda setelah Bintang dan Risda masuk dan duduk dalam mobil yang siap melaju.


"Pulang" jawab Risda singkat.


"Riis kamu sakit?" tanya Bintang saat melihat wajah Risda yang mulai memucat kembali.


"Sedikit".


"Kita periksa ke RS ya?".


Risda menaikan alisnya sebelah kiri lalu bartanya pada Bintang "mau ngapain?, ngak usah, aku cuma kurang istirahat aja".


Wajah datar Bintang kembali dipasangkan Bintang, menatap Risda tidak percaya dengan apa yang dikatakan Risda bahwa Risda baik-baik saja.


"Aaah" geram Risda "jangan liatin aku seperti itu" teriak Risda sambil memukul bahu Bintang sedikit keras. "Awas kalau kamu bawa aku ke RS" menuding Bintang jari telunjuk diikuti dengan sorot mata tajam khas dari Risda. Risda merendahkan standar kursi untuk kenyamanan ia berbaring.


Satu helaan nafas kasar yang Risda dengar jawaban dari Bintang sebelum Risda memejamkan matanya.


Kendaraan yang beroda empat dikemudikan oleh Bintang terasa sunyi diselimuti rasa khawatir Bintang kepada Risda yang akhir-akhir ini sering berwajah pucat lesu dan ditambah lagi sering kali pingsan juga menghampiri Risda.


Risda tipe keras kepala yang tidak mudah mengakui jika dirinya lemah. Itu yang membuat Bintang frustasi bagaimana caranya membujuk Risda untuk periksa lebih lanjut RS untuk mengetahui penyebab Risda yang sering demam dan pingsan akhir-akhir ini.

__ADS_1


BERSAMBUNNG...


__ADS_2