
Risda membereskan buku-buku, kertas-kertas yang berisikan plot dan juga tidak lupa menutup laptobnya. Risda beranjak menuju kamarnya meninggalkan Irsyad seorang diri yang masih bertanya-tanya siapakah Albert itu?.
"Kak" panggil Irsyad "jawab dulu. Siapa Albert?".
Tidak ada jawaban dari Risda hanya bantingan pintu yang terdengar keras.
Phoom. Suara bantingan pintu.
"Astaqfirullah" kaget Irsyad sambil mengelus dadanya sendiri.
Risda masuk dalam kamar, menyimpan apa saja peralatan menulis diatas meja belajar dan kemudian Risda melompat naik atas ranjang.
Risda tidur terlentang sambil menatap langit loteng kamarnya mencari alasan dalam benaknya, mengapa ia mencintai Albert sampai demikian, bukan lagi sehari dua hari cinta itu bersemayam bahkan malah sudah berbulan-bulan cinta itu bersemayam dan kini cintanya untuk Albert makin bersemi tumbuh subur.
Huftt. Helaan napas panjang sebagai jawaban karena jawaban sesungguhnya Risda tidak menemukannya. Ya. Risda tidak memiliki alasan khusus mengapa ia mencintai hal yang tak pasti sampai serumit ini.
Secara logis Risda sadar cintanya untuk Albert itu adalah hal yang tiada pasti tetapi disebabkan apa, entahlah Risda begitu dalam sudah menyelam dalam kolam beralaskan cinta berdinding rindu begitu menggebu.
Helaan napas panjang nan keras terdengar lagi untuk kedua kalinya.
Tok Tok Tok. Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Risda pada langit loteng kamar dan juga menghentikan perdebatan sekelebat pertanyaan mengapa, mengapa dan kenapa.
Belum juga Risda membuka pintu namun pintunya telah terbuka duluan. Irsyad muncul dibalik pintu yang telah terbuka dengan senyum cengengesan tanpa dosa demi kepenasarannya terjawab, tidak mengapa, Irsyad akan melawan rasa takut kemarahan sang kakak.
Irsyad terus mendekat dan berdiri sampig ranjang Risda, Risda juga sudah duduk, bangkit dari permbaringannya semenjak suara ketukan pintu terdengar.
__ADS_1
"Apa" tanya Risda ketus.
"Albert siapa?" tanya Irsyad langsung to the point.
"Abang ipar kamu. Puas" jawab Risda kesal.
"Puas kak. Tapi kapan kakak nikah dengan Albert" mengetuk ngetuk kening sendiri "biar resmi jadi abang aku, jadikan kakak harus nikah dulu sama Albert" mode serius.
Risda menanggapi ucapan Irsyad adiknya juga tak kalah serius. Risda jika membahas hal pernikahannya dengan Irsyad jadi tambah semangat mendapat angin cerah karena sang adik menyetujui hubungannya dengan Albert. "Nantilah dipikirkan lagi tanggal pastinya kapan". Tanggal pasti apanya, dia tau aja ngak kalau aku suka sama dia monolog batin Risda berteriak.
Buku diary itu batin Irsyad mengatakan setelah tanpa sengaja melihat buku diary Risda terletak rapi diatas meja belajar disamping laptop.
Untuk menjawab keseluruhan atas kepenasaran Irsyad. Irsyad harus terlebih dahulu menggelabui kakaknya dan mengecoh sang kakak untuk bisa mengambil buku diary yang terpampang jelas, terletak diatas meja belajar. Irsyad tetap terus mempertahankan keseriusannya.
Perlahan namun pasti, pelan dan pelan kaki Irsyad melangkah menjauhi sang kakak dan menuju meja belajar.
Haaap. Buku diary Risda telah berpindah pada tangan Irsyad. Kemudian Irsyad melangkahkan kaki sedikit lebar karena tidak sabar, ingin segera membaca isi dari buku diary itu yaitu isi kata hati sang kakak pada sang kekasih.
Baru saja satu langkah Iryad melangkah Risda langsung tersadar dari ilusi imajinasi angan-angan antara dirinya dengan sang kekasih pujian hati. Dengan reflek Irsyad menyembunyikan tangan yang ia gunakan untuk mengenggam buku diary yang hanya berukuran setapak tangan saja.
"Ngapain kamu" menatap Irsyad tajam dan pandangan Risda beralih pada tangan Irsyad yang tersembenyi ke belakang. Mencurigakan batin Risda "apa itu yang kamu ambil".
"Tidak ada kak" tersenyum lebar sampai dua baris gigi Irsyad terlihat jelas, bersinar, sampai-sampai semakin memancing amarah dan menguji kesabaran Risda.
"Tiiiidaaaaakkkkk" teriak Irsyad keras berbalik badan, berlari kenjang menuju keluar rumah.
__ADS_1
"JANGAN LARIII KAMUUU. OYYYY".
Phooom. Risda terjatuh merosot kebawah samping ranjang. Risda melompat dari ranjang namun keadaan tidak berpihak pada Risda kali ini, saat Risda sudah duduk diranjangnya tadi selimut Risda masih melilit di bagian kaki Risda.
"IIIRRRRSYAAAD" kesal Risda bertambah-tambah berkali-kali lipat.
Sekali tendangan dari Risda selimut yang tidak bersalah terlempar, melayang-layang di udara terjun bebas dan jatuh lagi atas kepala Risda yang sudah berdiri tegap, napas Risda naik turun. Belum juga berganti menit selimut yang semula tidak bersalah juga melakukan kesalahan dengan mendarat diatas kepala Risda.
Kemarahan sudah membuncak diatas ubun-ubun siap meledak memuntahkan laharnya. Tidak ada lagi kata atau teriakan terlontar lantang dari mulut Risda.
Irsyad baru lari sebentar sudah terengah-ngah berdiri diambang pintu utama melihat kebelakang sang kakak sudah terlihat menyusulnya dengan langkah tiga kali lipat kecepatan ia lari. Mati aku batin Irsyad berteriak keras. Dasar Irsyad yang lemah dalam hal berlari entah dari mana kekuatan yang ia miliki sekarang Irsyad kembali berlari kencang bahkan pagar rumah yang tinggi melebihi ketinggiannya mampu Irsyad lompati saat melihat tatapan mematikan dari sang kakak.
Irsyad terus berlari di jalan gang depan rumahnya melihat ke belakang sang kakak tidak mengejarnya lagi mengucap syukur sangat-sangat dalam hati dan kemudian melangkahkan kakinya normal kembali sambil mengatur deru napasnya yang kian berkejaran.
Sedangkan Risda sendiri tersadar akan pakaian yang ia gunakan tidak layak untuk keluar dari rumah. Risda hanya mengenakan baju kaos lengan pendek dan juga celana ponggol diatas lutut. Karena pada dasarnya walaupun gaya dan penampilan Risda tomboy, Risda tetap memperhatikan pakaiannya agar tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Risda masuk kembali dalam rumah dan langsung dikejutkan pertanyaan dari Adi yang berdiri tepat di belakang Risda yang berdiri diambang pintu "ada apa" tanya Adi.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Adi, Risda terlebih dahulu menghembus napas kasar dan berucap "Jika dia pulang, tolong kabari saya" berlalu pergi masuk dalam kamarnya kembali. Adi hanya melongo bingung sebentar kemudian tersadar dia yang dimaksudkan Risda adalah Irsyad.
Sedangkan Irsyad sendiri terus berjalan mencari tempat nyaman dan terang untuk membaca isi dari buku diary yang kini telah berada dalam genggaman. Setelah lima menit berjalan Irsyad menemukan penerangan lampu, pas tepat di depan Irsyad ada kursi panjang kosong tanpa ada orang yang duduk. Irsyad duduk di depan swalayan.
Irsyad duduk santai tanpa terasa satu jam lebih ia duduk sambil membaca diary. Halaman terakhir diary telah tuntas ia baca dan saatnya Irsyad meregangkan otot sendinya yang mulai kaku. Irsyad mempautkan jari-jari tangannya dan menaikan tangannya keatas kepala sampai badannya terasa rileks kembali. Jangan tanyakan bagaimana saja ekpresi Irsyad pada saat membaca diary sang kakak. Kadang-kadang Irsyad menangis tersedu-sedu, tertawa terbahak-bahak. Orang lain yang yang melihat Irsyad menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan memiliki pendapat yang sama "sayang ya, padahal masih muda tapi sudah tidak betul". Orang yang melihat Irsyad yang sedemikian tidak ada yang menghentikan Irsyad hanya memandang aneh dan prihatin pada Irsyad.
BERSAMBUNG...
__ADS_1