
Phooom sura tonjokan dinding terdengar kembali.
"Bisa diam tidak" sambil membalikkan badan menghadap arah sumber suara. Mata melotot kaget, mulut terbuka menganga lebar ingin mengucapkan "maaf kak" namun seakan suara Irsyad tercekat dikerongkongannya sendiri tidak ingin beranjak keluar.
"Keluar" ucap Risda singkat dengan tatapan dingin.
Tanpa kata dari Irsyad langsung mengambil langkah seribu keluar dari kamar Risda kakaknya. Irsyad tahu kakaknya tidak suka jika ada yang memegang barang pribadinya tanpa izin darinya. Irsyad keluar dari kamar Risda dengan wajah pucat pasi Bintang yang melihat Irsyad dengan tampang pucat seperti itu lantas bertanya tanpa suara yang hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat wajah Irsyad yang pucat ketakutan itu.
"Ada harimau gila" jawab Irsyad yang paham maksud tatapan Bintang.
Bintang mengerutkan dahinya bingung harimau gila monolog Bintang dalam hati seorang diri mana ada disini. Tanpa ambil pusing Bintang mengetuk pintu kamar Risda niat ingin menyerahkan bubur yang ia beli didepan komplek rumah tadi.
Risda membuka pintu dengan tatapan datar masih tersisa kejengkelan pada adiknya itu yang dengan beraninya membaca isi naskah penulisannya.
Bintang mellihat Risda dengan tampang bodoh. Bintang melihat Risda membuka pintu kamar dengan hanya menggunakan sot dan tantop. Rambut hitam lebat panjang terburai indah dan handuk yang sudah tersangkut di bahu kiri Risda.
Phoom pintu kamar tertutup lagi dengan bantingan keras seolah-olah pintu dan kosen akan izin pamit undur diri dari dinding. Satu kedipan mata reaksi dari Bintang setelah pintu kamar tertutup. jangan tanyakan bagaimana keadaan jantung hati bintang berapa km perdetik berpacu.
Memandangmu dalam diam tanpa kata seolah telah mengungkapkan rasa, tanpa bicara diri ini seperti telah menyatakan cinta. Cinta, apakah itu cinta?, entahlah aku tidak tahu cinta jenis apa yang menghendap dalam hatiku. Dalam sujud lima waktuku tersemat namamu untuk menjadi teman halalku, dalam ingatanku terbayang akan wajahmu, terkenang setiap moment yang telah kita lewati bersama. Rasa ini tidak mudah kulepas apalagi kuhempas, semakin lama bukannya berkurang malah bertambah.
Menyembunyikan rasa seolah tidak ada cinta yang bersemayam dihati ialah hal terberat. Cinta mampu merayu hati ini untuk menyelam dalam rasaku untukmmu. Aku ingin selalu bersamamu kasih namun status kita yang kadang membuatku terapung tersadar bahwa kita hanya sebatas sahabat bukanlah sebagai pasangan kekasih.
Jangan tinggalkan aku kasih, sungguh aku tidak sanggup bila berjauhan denganmu. Tidaklah mengapa jika hatimu bukan untukku asalkan kamu bahagia dengan cintamu itu. Aku akan selalu ada untukmu kasih yang kusayang.
"Cepatnya sampai. Tunggu sepuluh menit lagi aku siap" teriak Risda dari dalam kamarnya.
Sambil menunggu Risda bersiap, Bintang melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyajikan bubur yang telah ia belinya untuk Risda.
"Bintang" teriak Risda lagi setelah ia bersiap dengan pakaian feminim sesuai arahan dosen yang menegurnya kemarin.
__ADS_1
"Dapur" teriak Bintang juga yang ikut-ikutan. "Duduk dulu. Ini makan" menyodorkan semangkok bubur.
"Gak mau".
"Mau makan sendiri atau aku yang suapin".
"Sendiri" merebut bangkok yang berisi bubur.
Bintang tersenyum sekilas melihat Risda yang makan dengan lahap padahal tadi sok-sok ngak mau makan. Bintang bangun dari kursi yang ia duduki dan kemudian mendekati Risda dan memegang kening Risda hanya untuk memastikan Risda sudah betul-betul sehat atau belum.
Alhamdulillah sudah hangat tidak lagi terlalu panas seperti semalam monolog hati Bintang yang direspon tatapan bingung dari Risda. "Yakin mau ke kampus Riss" tanya Bintang memastikan.
"Yakinlah!, emang kenapasih?"
"Semalam kamu pingsan Ris, badan kamu panas".
Risda mengerutkan keningnya bingung, sakit darimananya nih aku ini baik-baik aja kok, tidak ada yang sakit hanya saja semalam kepalaku saja yang sakit namun itu hanya sebentar monolog hati Risda yang tidak mau memberitahukan kondisinya pada Bintang.
Mobil yang dikendari oleh Bintang dan ditumpangi oleh Risda membelah jalan ibu kota menuju tujuan yang telah di rencanakan sebelumnya. Mobil terpakir dengan sempurna di parkiran khusus roda empat. Bintang dan Risda keluar dan turun dari mobil bersam-sama.
Risda memperhatikan kesekelilingnya masih juga tatapan aneh tertuju padanya. Risda mendekati Bintang dan mempautkan jari tangannya dengan jari tangan Bintang lalu Risda berbisik dengan nada lirih "lihat mereka menatapku aneh setiap dandanan aku feminim".
Bintang yang mendengar bisikan Risda yang demikian menghentikan langkah kakinya dan memperhatikan Risda dengan seksama "cantik kok sayang" mengeras volume suara.
Risda meelototkan matanya kaget sekligus malu karena diteriaki "cieeeeee" oleh segelintir mahasiswa dan mahasiswi yang mendengar pujian Bintang padanya dirinya "apaansih" memukul bahu Bintang keras lalu Risda segera berlalu meninggalkan Bintang seorang diri menuju ruang kelasnya.
Seulas senyum tipis terpancar dari wajah tampan datar Bintang yang dari tadi Bintang tahan senyuman itu dari Risda, saat Risda mempaut jari tangannya dengan jari tangan Risda.
Bagaimana bisa aku melupakan cintaku padamu walau hanya sekadar mengabaikan saja aku pastikan tidak akan mampu melakukannya. Kamu sendiri yang semakin dalam menyelam dalam hatiku tanpa kamu sadari kasih. Risda cintaku padamu tidak mudah layu apalagi sayu walau nihilis hatiku tanpa balasan rasa darimu. Namun aku akan menikmati cintaku seorang walaupun dikau tidak menganggap sekalipun.
__ADS_1
Bintang dan Risda keluar dari ruang kelas setelah jam mata kuliahnya selesai tanpa sengaja dosen yang menegur pakaian Risda kemarin berpapasan kembali dengan Risda. Risda mengangguk kepalanya sopan "pak" tersenyum. Yang dibalas dengan anggukan dan juga senyuman dari dosen yang menegur pakaian Risda.
Bintang melirik jam arloji di pergelangan tangannya sekilas sudah waktunya makan siang monolog hati Bintang "Ris waktunya makan siang"
"Terus".
Satu helaan napas ringan dari Bintang kemudian Bintang langsung menarik tangan Risda menuju kantin kampus dengan berjalan kaki beriringan tentunya.
Moment seperti inilah yang selalu kunantikan yaitu berjalan dan duduk berdua dengamu tanpa gangguan apapun walau hanya sebatas kupu-kupu yang singgah memandangi kecantikanmu sayang.
"Nasinya tidak akan habis jika hanya dilihat aja" wajah datar Bintang yang selalu terpasang.
Risda mendengus kesal dan dengan terpaksa makan. "Sudah" mengelap mulut dengan tangannya sendiri setealah menghabiskan seporsi nasi makan siangnya.
Bintang yang melihat Risda mengelap mulutnya dengan tangannya langsung menyodorkan tangannya yang memegang selembar tisu yang dibalas tatapan bingung oleh Risda. Kemudian Bintang mengelap mulut Risda yang belepotan dengan tetap mempertahankan wajah datarnya karena tidak ada respon dari Risda.
Mulut Risda terbuka sedikit sangking bingung dirinya pada tingkah Bintang hari ini.
"Tampan sekali ya aku?" tanya Bintang sambil tersenyum sekilas.
Risda melongo terkejut yang lagi-lagi buat dirinya tambah bingung. Risda merasa hari ini Bintang yang duduk dihadapannya bukanlah Bintang yang biasanya.
Bintang beranjak bangun melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar apa saja yang telah dimakannya dikantin tersebut bersama Risda sedangkan Risda masih memperhatikan Bintang dengan tatapan bingung sampai Bintang kembali ke meja kursi yang ia duduki untuk menjemput Risda yang masih terbengong seperti raga tanpa nyawa.
Bintang memegang pergelangan tangan Risda dan menyeret Risda keluar dari kantin sampai menuju ke ruang kelas mata pelajaran berikutnya. Plak suara tamparan yang mengenai bahu Risda yang disebabkan Bintang.
"Sakit tahu" Risda mengusap bahunya sendiri yang terasa perih.
"Sudah siap bengongnya".
__ADS_1
Risda mengerucutkan bibirnya sekilas dan disambut senyum samar dari Bintang.
BERSAMBUNG...