Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Bisa


__ADS_3

"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu" mengecup sayang pucuk kepala Risda "Jika kamu pergi lebih dulu, aku akan menyusulmu karena aku tidak akan mampu jika kamu tiada disisku".


Entah berapa menit telah terlewati pertolongan belum sampai menghampiri mereka berdua. "Bintang apakah kamu Bisa menggerakkan badanmu?".


"Bisa. Tapi aku tiada bertenaga saat ini".


"Baiklah kita akan menunggu bantuan tiba".


Suasana kembali hening, cuaca dingin tidak terasa lagi seakan kebal mengenai tubuh mereka berdua.


"Risda, lihatlah bulan itu" menunjuk bulan yang berada di langit sana.


Risda melihat bulan yang ditunjukan Bintang kepadanya "iya, itu bulan. Kenapa".


"Bulan itu adalah kamu dan bintang itu adalah aku. Kamu bersinar menerangi malam, aku mendampingi dan menemanimu, menyempurnakan sinarmu, menambah kesan cantik langit malam yang menghiasi pandangan mata itulah seumpama kecil bentuk cintaku padamu".


Risda diam tidak bisa berkata-kata tetapi airmata tidak bisa diam terus meluncur keluar mengenai baju Bintang. "Hey, kamu menangis?" mengusap pipi Risda, menghapus airmata yang keluar dari pelupuk mata Risda.


"Stop Bintang. Jangan membuatku tambah bersalah dengan pengakuanmu saat ini".


"Pengakuanku hanya sekedar supaya kamu tahu, selebihnya terserah padamu karena cinta tidak mungkin bisa dipaksakan. Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk berhenti mencintaimu, begitupun dengan kamu, aku tidak bisa memaksa cintamu hanya untukku, mungkin jika aku memaksa cintamu hanya untukku, bisa saja aku mendapatkan ragamu tetapi tidak dengan hatimu. Aku tidak bisa hidup dengan rasa penyesalan akibat pemaksaan rasa. Aku kembalikan padamu, terserah kamu membalas rasa cintaku atau tidak, yang jelas cintaku hanya untukmu, sayangku".

__ADS_1


"Diamlah Bintang, kamu terlalu banya bicara, banyak kata bukanlah kebiasaanmu" masih saling berpelukan.


"Aku serius dengan apa yang aku katakan".


"Aku juga serius, diamlah sebentar".


Udara pegunungan terasa dingin, apalagi dimalam hari namun Risda merasakan dingin yang berbeda yang terasa lebih dingin dibagian kakinya. Risda sedikit melonggarkan pelukannya dari Bintang dan sedikit mengintip pada area kakinya dalam seketika Risda memelototkan mata terkejut melihat seekor ular cobra sedang melata di kakinya dan dikaki Bintang.


"Bintang" panggil Risda "terlalu mesra ungkapan hatimu sehingga seekor ular juga ikut mendengar rasa cinta hatimu untukku". Dalam seketika Bintang bangun berdiri dan menarik Risda kebelakangnya namun kecepatan Bintang masih kalah cepat dengan patukan ular tersebut. Patukan ular tepat mengenai kaki Risda. Risda mengeram kesakitan menarik Bintang membalikkan posisi dan dengan segara Risda menangkap ular tersebut dengan memegang di bagian kepala dan melempar ular tersebut jauh, sejauh mungkin. Dan kemudian Risda terduduk sambil menarik jelbabnya sendiri, yang kebetulan Risda memakai jelbab segi empat dan mengikat kakinya sendiri guna untuk memperlambat bisa ular menyebar di sel-sel saraf dan pembuluh darah.


Bintang melongo melihat aksi Risda saat menangkap ular dan lagi, saat Risda melempar ular itu seakan Risda sedang melempar lembing, tetapi itu hanya sementara setelahnya Bintang tersadar karena suara Risda yang meminta tolong padanya. "Bintang. Tolong kamu tarik-tarik lagi talinya. Aku tidak bisa banyak gerak ini".


"Ah lama, geram Bintang karena bantuan tidak kunjung datang". Lantas Bintang membuka bajunya dan mengikat kaki kiri Risda di bagian paha sekitar sejengkal dari ikatan yang Risda ikat sendiri tadi. "Mau ngapain?" tanya Risda mulai lemas kala melihat Bintang kembali mengikat kakinya lagi yang padahal Risda sudah mengikat sendiri.


"Kita tidak cukup waktu menunggu bantuan datang" memeluk Risda erat dan mulai mendaki naik kepermukaan jurang. Baru juga setengah jalan sampai bantuan baru tiba "kemana aja kalian hah?, baru sampai. Risdaku dipatok ular" lantang bentak Bintang geram marah.


Salah satu tim evaluasi yang kebetulan memakai kalung penarik bisa ular yang ia sembunyikan didalam baju seragamnya lantas melepaskan kalungnya dan memberikan pada Bintang "tempelkan pada bagian yang patuk itu".


"Batu apaan ini" membolak balik kalung batu yang sudah berada ditangan Bintang.


"Tempelkan saja, tidak usah banyak tanya" balik marah. "Tim satu, tim satu kirimkan tandu" ucap salah satu anggota tim pada HT yang tersambung pada anggota ya g setiap anggota difasilitasi satu.

__ADS_1


Tidak lama setelahnya tandu telah diturunkan satu untuk menaikkan Risda kepermukaan kembali sedangkan Bintang yang gengsi tidak mau mengaku dirinya juga lemah tetap lebih memilih memaksa diri naik dengan hanya memakai bantuan satu tali memanjat keatas.


Sesampainya Bintang diatas, Bintang melihat Risda yang sudah ditangani oleh dokter. Nur duduk disebelahnya menjaga Risda lantas Bintang berjalan dan melangkah kaki mengahampiri Adi yang juga berjalan menghampiri dirinya.


Adi mempercepat langkah saat mulai menyadari bola mata Bintang mulai memutih tanda hendak hilang kesadaran. Dan alhasil tebakan Adi benar bahwa Bintang jatuh pingsan namun Adi langsung bisa menangkapnya dan meminta bantuan untuk mengangkat Bintang masuk dalam ambulance juga.


Risda sudah dipindahkan terlebih dahulu ke mobil pribadi Adi yang dikendari oleh Risda tadi sedangkan di ambulance digantikan Bintang yang tidur di brankar pasien. Adi ikut bersama Bintang dalam ambulace, sedangkan mobilnya dikendarai oleh  Zay dan ditumpangi oleh Nur dan Risda yang sedang tertidur istirahat di mobil. Risda tidak perlu dibawakan ke RS lagi cukup dengan batu itu saja, walaupun begitu Zay tetap membawa putri kesayangannya ke RS juga.


Wi wiw wiw wiw. Suara sirene ambulance. Dan diikuti oleh mobil Adi yang dikendarai oleh Zay.


Kini sampai mereka ke RS. Bintang dan Risda langsung dimasukkan keruang UGD sementara, sebelum ditentukan ruang mana yang akan mereka tempati. Zay yang selaku kepala keluarga memesan satu ruangan VIP. Bintang dan Risda ditempatkan dalam satu ruangan yang sama untuk memudahkan mereka dalam mengawasi dan menjaga mereka berdua.


Tulang belulang Bintang aman-aman saja tidak ada yang patah ataupun retak, hanya luka-luka lecet saja dan kini kondisi Bintang sedang demam tinggi sampai-sampai badan Bintang menggigil kedinginan. Suhu AC sudah dimatikan. Yang menjaga Bintang pada berkeringat kepanasan sedangkan Bintang malah semakin menggigil kedinginan. Sedangkan Risda masih tidur cantik saja dari semenjak ia berada di ambulance.


Beberapa jam terlewati dan matahari sudah meninggi tanda siang telah menghampiri, kondisi Bintang juga sedikit normal kembali tetapi belum pulih sepenuhya. Zay mendekati brankar tidur Risda. "Princess bapak, sudah saatnya bangun, sudah siang ini".


Risda menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan dan "Astaqfirullah" lirih terkejut Risda melihat wajah Zay yang berjarak lima centi dari wajahnya".


"Nah, putri tidur sudah bangun. Ayo makan dulu" ucap Zay sambil menyodorkan sesendok makan pada mulut Risda.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2