Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Keseharian 2


__ADS_3

Nur menggelengkan kepalanya pelan menatap sedih kepada anak gadisnya itu.


"Mama, mamak" panggil Risda.


"Iya nak".


"Kenapa mak".


"Oh tidak ada apa - apa"


Nur buru - buru menghapus jejak air matanya dan meninggalkan Risda untuk melanjutkan beres - beres di kamarnya.


Risda mengernyitkan dahinya bingung melihat reaksinya ibu kesayangannya.


Mama kenapa ya ? entahlah ngak tahu.


...****************...


Hari demi hari perkuliahan terus berlanjut, tiada hari tidak dipusingkan kepala karena kuliah walaupun angka yang tercatat dalam kalender berwarna merah tetapi tetap kepala pusingkan oleh tumpukan tugas.


Andai dulu daku lulus di seleksi militer, tidaklah mungkin seribet ini kepalaku dengan tugas.


Ini daku pikir dengan mengambil jurusan hukum tidak ada yang namanya pelajaran bahasa inggris dan matematika tetapi ini ketemu juga dengan mereka. Huft lelah pikiranku, ingin mengeluh ngak guna, ingin berteriak takut dianggap gila.


Aduh kepala bertahanlah untuk sementara supaya dikau terbiasa akan keadaan hal ini.


Risda Zay Akli panggil Risda pada dirinya sendiri, Risda kamu harus kuat mungkin dibalik ini semua, ada kejutan yang tidak kamu sangka - sangka yang telah Allah persiapkan untuk dirimu.


Esok harinya.


calling On


Rita ~ "Risda".


Risda ~ "Hm ada apa".


Rita ~ "Jalan jalan yok, stress aku".


Risda ~ "Ayok, pas sekali kepalaku juga rasanya, uh saket. Jam berapa kita berangkat ?".


Rita ~ "Sekarang broo, mumpung itu kereta kesayanganku lagi nganggur tidak ada kerja".


Risda ~ Risda tertawa cekikin mendengar jawaban Rita tentang keretanya yang nganggur. "Eh Ta baru dengar aku ada kereta yang pengangguran".

__ADS_1


Rita ~ "Halah jangan banyak omong sana mandi satu jam lagi kujemput ya".


Risda ~ "Iya iya bawel".


Calling off


Tiit tiit tiit Rita menyembunyikan klakson motornya sebagai penanda kalau dia sudah sampai di rumah Risda, setelah itu barulah Rita memberhentikan motor kesayangannya tepat di depan rumah Risda.


"Assalamualaikum Ma", ucap Rita pada Nur sambil menyalami dan mencium punggung tangan Nur. Rita juga memanggil Nur dan Zay dengan sebutan mamak dan bapak seperti panggilan Risda sehari hari karena Zay dan Nur sudah menganggap Rita bagai anaknya sendiri.


"Ma si Risda mana ?"


Sudah siap belum ya tu anak ucap Rita seorang diri.


"Risda daritadi belum keluar kamar, kamu liat aja sendiri di kamarnya".


"Siap mamak", ucap Rita dengan gerakan tangan hormat layaknya seperti yang dilakukan pemimpin upacara kepada inspektur upacara pada saat upacara resmi di lapangan terbuka.


Nur hanya menanggapi sikap Rita dengan gelengan kepala.


Riisdaa Riisdaa teriak Rita dari awal pintu masuk sampe dapur, Rita bukannya memanggil Risda di kamar tetapi Rita malah berbelok arah ke dapur karena perutnya sudah keroncongan menuntut untuk di isi.


Risda yang mendengar teriakan dari luar kamar mempercepatkan proses siap siapnya. Risda mengernyitkan dahinya bingung lantaran suara Rita saat pertama ia masuk rumah begitu keras, lama kelamaan suaranya mengecil dan menghilang.


Risda bertanya pada dirinya sendiri kemana si Rita pergi kenapa suaranya menghilang atau mungkin si Rita tersesat. Ah tidak mungkinlah tersesat inikan cuma rumah bukan istana mana mungkin si Rita tersesat.


"Ma ada liat si Rita datang kesini, tadi suaranya ada tapi orangnya ngak ada".


Nur dengan bingungpun menjawab


"Loh bukannya Rita tadi sudah masuk ke dalam, mama sudah suruh Rita masuk ke kamar kamu tadi".


"Ngak ada Ma".


"Di dapur sudah kamu cari".


"Belum".


"Cari di dapur dulu".


"Baik ma".


Riiiitaaaa panggil Risda dengan suara lantang tegas selayaknya biasa suara itu yang sering Risda keluarkan saat melakukan latihan olahraga di lapangan.

__ADS_1


Astaqfirullah terkejut semua orang yang ada di rumah, baik Nur yang ada di depan rumah, si Rita berada di dapur dan adik Risda yang juga berada di dapur sama sama terkejut suaranya Risda.


Terkejut berjamaah yang gays saat mendengar suara lantang tegas Risda yang begitu menggelegar.


Saat Risda tiba di dapur dua makhluk insan manusia itu menatap Risda dengan tatapan tajam bagai tatapan mata elang yang siap memangsa mangsanya, sedangkan Risda dengan sikap acuh tak peduli seolah olah tidak memiliki rasa bersalah setelah membuat orang sekelilingnya terkejut berjamaah dengan suara tanpa microfont yang ia keluarkan.


"Ayok Ta kita pergi sekarang".


Rita geram sama Risda bukan kepalang, langsung saja Rita melemparkan tepung yang ada di tangannya pada Risda tepat di bagian mukanya tetapi Risda dengan ilmu beladiri yang ia miliki sempat mengelak sehingga tepung itu hanya mengenai percikan sedikit di bagian bahunya.


Aduh Rita kenapa di lempar tepung sih jadi kotorkan bajuku, baju warna hitam lagi ini. Risda mengambil kain lap yang ada di meja langsung mengelap bajunya yang kotor di bagian bahu sambil bertanya pada adeknya yang bernama Irsyad Zay Akli


"Dek lagi buat apa".


"Timphan" jawab adek Risda ketus.


"Oo" jawab Risda


"Dek nada suara adek kenapa kayak gitu".


"Kak bisa ngak sih kalau suara terobong krempeng kakak itu jangan di keluarkan di rumah, udah rumah kita kedap suara bisa bisanya pecah gendang telinga kami yang dengar".


Risda tidak menjawab ocehan adiknya cuma hanya melihat saja pada adeknya itu dengan pandangan mata seperti saat ia menjelma sebagai pelatih di lapangan.


Irsyad sedikit takut melihat tatapan mata kakaknya itu lalu langsung mengatakan "pergilah kalian buat hal gila seperti yang kalian rencanakan".


"Diam" ucap Rita dan Risda serentak secara bersamaan kemudian mereka bertiga saling bertatap tatapan melirik satu sama lain tidak lama kemudian terdengar suara tawa yang begitu membuncah yang di keluarkan secara bersamaan serentak mereka bertiga.


Bhuahhhhhaaaaa


hhhaaaaaa haaaaaaa haaaaaa.


saat tawa mereka sedikit mereda


Rita berkata lagi "ini yang salah duluan siapa?, yang mencari gara gara terlebih dahulu siapa?, dan menjadi korban siapa?".


"Entahlah ngak tahu" jawab Irsyad dan tanpa sengaja secara reflek Irsyad melemparkan tepung yang ada di hadapannya pada Risda dan Rita tanpa mereka sadari sehingga baju mereka berdua kotor dan berubah warna.


Tawa Rita dan Risda seketika lenyap hilang entah kemana dan mereka saling bertatapan dengan mengisyaratkan suatu hal, hanya mereka dan Allah yang tahu apa yang mereka rencakan.


Insting Irsyad mengatakan oh tidak, ini akan ada bencana. Irsyad buru buru munurunkan kakinya dari kursi yang ia duduki untuk mengadon adonan timphan yang ia buat.


Belum satu langkah Irsyad melangkah suara teriakan dari Rita mengatakan tangkap Riiss, gara gara dia baju kita kotor tidak bisa keluar jalan jalan lagi.

__ADS_1


Byuur satu baskom tepung mendarat diatas kepala Irsyad. Irsyadpun tidak tinggal diam juga membalas melempar telur pada kepala dua sahabat gila itu lantaran tepung sudah habis dalam baskom atas meja, tidak ada tepung telurpun jadi. Pecahan telur mendarat sempurna dan meleleh dari pelipis Rita sedangkan Risda bisa mengelak dan lemparan tersebut terkena orang lain yang baru muncul di balik pintu dapur, Risda tidak mengetahui ada orang lain selain mereka bertiga di dapur langsung tertawa terbahak bahak melihat kondisi si Rita sahabatnya itu. Sedangkan si Irsyad sudah berdiri membeku di tempat tanpa ada gerakan sama sekali.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2