
"Iya-iya akhir pekan kita pergi".
"Yess horee, makasih Bintang sahabat balok esku tersayang" ucap Rita kegirangan sambil melompat lompat di tempat. Kemudian Rita langsung berlari kala menyadari tadi lidahnya sedikit keseleo memanggil Bintang balok es, langsung berlari berteriak manggil Risda yang berada di dalam kamarnya.
Bintang yang mendengar ucapan Rita yang mengatakan dirinya balok es melotot kesal pada Rita, tanpa ba bi bu saat Rita menyadari kesalahannya dan melihat Bintang yang melotot padanya langsung melarikan diri, hanya dengusan kesal yang bisa Bintang lakukan.
"Riiisdaaa sahabatmu yang paling cantik ini datang" teriak Rita yang baru masih berada di pintu masuk rumah.
Rita, Rita, sekali saja kalau tidak berteriak emang ngak bisa tu anak. Risda keluar kamarnya dan berdiri di pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Ada apa, ngak usah teriak-teriak pendengaranku masih normal kali".
"Hehehe jangan marah dong, aku cuma mencari perlindungan sama kamu dari amukan singa liar yang ada di luar".
Singa liar? Risda mengernyitkan dahinya bingung, mana ada singa di rumah ini pikirnya. Kamu jang...
Eh kemana orangnya, kemana hilangnya, bingung Risda karena tidak lagi mendapati Rita berdiri di depannya. Dasar Rita datang dan pergi sesuka hatinya. Tanpa mempedulikan apa-apa lagi lalu Risda masuk kembali lagi ke dalam kamarnya.
Astaqfirullah kaget Risda melihat Rita dengan santainya menghidupkan televisi yang berada dalam kamar Risda sambil memakan cemilan yang selalu ada dalam kamar Risda.
"Sejak kapan kamu masuk kesini" tanya Risda bingung.
"Sejak tadi kamu melamun Ris".
"Udah ah biasanya kamu juga tidak banyak omong, lanjutkan saja penulisanmu itu" ucap Rita santai dengan matanya mengarah pada laptop Risda yang sedang terbuka kemudian Rita memfokuskan dirinya kembali pada televisi yang telah ia hidupkan.
Risda mendengus kesal bagaimana ia bisa berkonsentrasi jika ada orang lain yang berada di dalam kamarnya.
Rita yang sedang asyik menonton film kartun favouritnya melirik sekilas pada Risda yang sedang membereskan tumpukan buku dan kertas yang berserakan di lantai dan menonaktifkan kemudian menutup laptopnya.
"Lah kenapa di simpan buku-bukunya, sudah siap?".
"Siap darimananya, ngak bisa nulis aku, ngak konsen kamu berisik".
"Ngak berisik, dari tadi aku cuma diam aja kok".
"Itu suara televisi yang sedang kamu lihat itu yang berisik".
"O, berarti tinggal tutup aja telinga kamu Ris".
Risda yang mendengar solusi dari Rita menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Oh ya Ris".
"Apa".
__ADS_1
"Akhir pekan ini kita pergi ke wisata yang di puncak gunung, tadi aku udah nagih janjinya sama Bintang akhir pekan ini katanya".
"Terus".
"Nabrak, lihat kiri kanan juga dong".
"Apaan sih Jawaban kamu itu ngak nyambung tahu".
"Lah kamu juga ngapain tanya Terus
Yang pasti kamu harus ikutlah, awas aja kalau kamu ngak mau ikut"
"Hankutem kadang".
Rita mengernyitkan dahinya bingung, ngomong apa kamu Ris, jujur aku ngak paham.
"Haa masih ngak paham bahasa Aceh padahal sudah hampir delapan tahun kamu sekeluarga pindah ke sini, ngapain aja kamu bahasa daerah yang kamu tinggali aja ngak paham".
"Yah kan, bukan salah aku juga, ngak ada yang ngajak aku ngomong bahasa Aceh, jadi ya wajarlah kalau aku tidak paham. Kamulah yang sebagai sahabat aku yang ngajarin aku bahasa daerah sini".
"Iya-iya nanti aku ajarin, kalau tante sama om bisa ngak bahasa Aceh".
"Kalau mama sama papa sih paham kalau ada orang yang ngomong bahasa Aceh tapi ngak bisa jawab dalam bahasa Aceh mesti jawab bahasa Indonesia karena ngak ngerti jawabnya gimana".
"Lah habis" ucap Rita dengan ekpresi sedih.
"Film sama kuenya habis Ris hehe" jawab Rita cengengesan, "keluar yok Riis bosan aku kalau cuma di kamar terus".
"Kalau bosan kenapa juga masuk ke sini kamu".
"Hehehe ayoklah Riis".
"Iya-iya sebentar, kamu duluan aja sana".
Rita keluar dari kamar Risda menuju ke depan bagian teras rumah, dimana dari situ terdengar suara riuh kegaduhan.
Sesampainya di teras rumah Rita celangak celinguk mencari keberadaan orang, tetapi tidak ada orang sama sekali disana, dengan kebingungan bercampur ketakutan ia kembali berteriak "Riiisdaa sini cepat".
"Apa ha?"
"Kamu hobi sekali teriak-teriak, ini rumah bukan hutan Rita".
"Kamu dengar suara orang ribut-ribut ngak?".
__ADS_1
"Dengar, kenapa emangnya".
"Suaranya dekat sinikan?, tapi kenapa orangnya tidak ada".
Risda tersenyum kemudian berbisik sesuatu kepada Rita "coba kamu lihat pohon mangga dan pohon jambu yang di dekat pagar depan sana".
Rita yang mendapatkat bisakan dari Risda menyuruhkan lihat ke arah pohon jambu dan mangga malah ketakutan sendiri jadinya.
"Riis takut".
"Siang-siang bolong begini takut kamu". Risda tidak mempedulikan Rita yang takut bercampur bingung melihatnya mendekati pohon jambu.
Astaqfirullah kaget Rita setelah melihat ada dua manusia diatas pohon, satu diatas pohon jambu satunya lagi diatas pohon mangga.
Rita yang melihat Risda yang kemudian juga ikut memanjat pohon jadi bengong sendiri.
Risda yang sudah berada diatas pucuk pohon melempar buah jambu segar pada Rita yang masih bengong dibawahnya.
"Apa sih Riis sakit tahu".
"Masuk sana ambilin kecap asin, gula sama cabe rawit yang banyak, sekalian sama ceper dan pisau ya".
"Iya-iya".
Adi dan Bintang yang berada diatas pohon berusaha keras menahan tawa mereka saat melihat Rita terkejut setengah mati karena lemparan buah jambu mengenai perutnya.
"Lah abang kenapa, kalau mau ketawa ya ketawa ajalah kenapa mesti ditahan-tahan, kan tidak ada larangan untuk tertawa". Risda tidak lagi mempedulikan apa-apa karena ia sedang mencari tempat duduk yang nyaman diatas pohon.
Sepuluh menit berlalu, Adi yang melihat Risda duduk dengan nyaman diatas pucuk sana sambil memetik buah jambu langsung di makannya sedangkan Adi dan Bintang capek bukan main memetik buah lalu mereka simpan di kantong kresek besar biar bisa di makan di meja yang berada tepat di bawah pohon mangga bersama - sama.
"Dek jangan dimakan dulu, nanti kita makan sama-sama di bawah".
"Ngapain juga Risda ikutan petik lalu simpan, itu di kantong kresek abang udah penuh. Kalau banyak ngak akan habis abang kita makan, nah kalau sedikit nanti kita ketagihan dan bisa memetiknya lagi"
Adi hanya bisa mendengus kesal sedangkan Bintang yang di seberang pohon sana hanya bisa berteriak "sabar bang, resiko punya adik".
"Diam kamu Bintang".
Bintang hanya terkekeh ringan melihat kekesalan Adi pada Risda.
"Ini bumbu rujaknya sudah siap, turunlah cepat aku juga mau makan" ucap Rita mengisyaratkan pada yang diatas pohon sana untuk segera turun.
Bintang yang terlebih dahulu sampai bawah menjitak kepala Rita pelan kemudian berucap "emang kami sudah makan, cuman orang yang di pucuk sana yang sudah makan" tunjuk Bintang pada Risda dengan dagunya.
__ADS_1
Rita mendelik kesal, itu orang menyuruh aku buat siapin bumbu rujak sedangkan dia duduk nyantai diatas sana dengan nyamannya sambil makan lagi. Sok sibuk bantu metik padahal ngak.
BERSAMBUNG.......