Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Ungkapan Kata Malam


__ADS_3

Bintang melihat Risda yang berbalik badan dan masuk kembali dalam kamar hanya bisa mendengus kesal pada kekasih hatinya itu, lalu Bintang lebih memilih mengabaikan Risda dan duduk dikursi taman dengan juga memangku laptop menyelesaikan beberapa tugasnya sebagai asisten.


Suara adzan shubuh mengalihkan atensi Bintang pada laptop yang berada di pangkuannya. Bintang menutup laptopnya kembali dan beranjak melangkahkan kakinya membersihkan diri dan menuju ke masjid.


Risda juga yang mendengar suara kumandang adzan, juga menutup laptopnya dan beranjak membersihkan diri dan wudhu untuk sholat terlebih dahulu.


Setelah sholat Risda lanjut membangunkan Rita dari keterlelapan tidurnya. "Rita" panggil Risda sambil menggoyangkan tubuh Rita pelan.


Rita tersentak kaget dan kembali hendak berteriak seperti sebelumnya "aaaa, gemmpppp".


Belum juga Rita menyelesaikan teriakannya namun Risda dengan sigap menahan tubuh Rita tetap terbaring diatas kasur dengan patokan paku oleh kaki dan tangannya sambil menbekap mulut Rita rapat.


Perlahan Rita mulai tersadar dan menampilkan senyum cengengesan. "Heheh, maaf Riis". Rita sedikitnya sadar bahwa dirinya tadi berteriak keras.


Perlahan Risda melepaskan dekapan tangannya pada mulut Rita dan perlahan juga menurunkan kakinya yang menahan tubuh Rita supaya tidak lari seperti yang sudah-sudah.


"Sudah sadar kamu" sarkas Risda. "Sana mandi, wudhu dan sholat".


"Iya, mama" jawab ejek Rita.


Lirikan maut, Rita dapatkan dari Risda, segera Rita berlalu kekamar mandi meninggalkan Risda seorang diri.


Dasar Risda, tatapannya sungguh menakutkan seakan mampu membelah tubuhku ini dengan tatapan tajamnya. monolog Rita sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu. Risda yang kembali fokus pada penulisan novel sedikit terusik dengan suara gertakan gigi akibat menggigil yang disebabkan oleh Rita.


Risda melirik sekilas pada Rita yang menggigil kedinginan dengan susah payah payah menggelar sajadah dan memakai mukena. Satu senyuman tersungging dari bibir Risda tanpa sepengetahuan Rita.


Jam terus berputar sama dengan waktu juga terus berlalu Risda yang terlalu fokus pada penulisannya tidak menyadari matahari sudah terlihat sejak tadi dan bahkan kini matahari sudah tinggi yang sedang bertugas menyinari setiap pelosok bumi dengan sinarnya.


Tok Tok Tok. Bunyi ketukan pintu kamar Risda.


"Iya sebentar" Risda beranjak membuka pintu kamarnya yang terkunci.


Risda membuka pintu melihat Bintang yang berdiri diambang pintu kelilhatannya baru siap mandi yang menandakan rambut Bintang yang masih kelihatan basah.


"Dipanggil mama" ucap Bintang langsung the to point.


"Heum" dehem Risda tanda dirinya mengerti.


Risda masuk ke kamarnya kembali tanpa menutup pintu lagi. Risda mengerutkan kening bertanya dalam hati kenapa cepat kali mama memanggil dirinya.


Risda melihat Rita yang kembali tidak sadarkan diri alias terlelap kembali diatas sajadah dan dalam keadaan mukena masih melekat sempurna dikepalanya.


"Rita" panggil Risda lembut sambil menggoyangkan tubuh Rita perlahan.


Rita menggeliat kecil dan duduk diatas sajadah dengan mata yang masih terpejam.


Risda menarik napas dalam mengumpulkan kesabaran dalam membangunkan Rita. Risda hanya saja tidak sadar lebih susah lagi membangunkan dirinya saat tidur.

__ADS_1


Risda yang irit berbicara begitu malas jika dirinya harus dipaksa berbicara, tidak ada pilihan lain bagi Risda selain beranjak menuju kamar mandi, membasuh tangannya dan mengelap muka Rita supaya tersadar dari tidur lelapnya.


Seketika bola mata Rita terbuka lebar dan "diiingiiinnnnn" teriak Rita lantang.


"Turun, dipanggil sama mama". Risda meninggalkan Rita seorang yang masih bekerja keras mengumpulkan kesadarannya.


Risda kembali duduk dihadapan laptop dan melihat jam, Ohh pantaslah dipanggil mama, sudah waktunya sarapan pagi rupanya monolog Risda.


Risda menutup laptopnya lagi dan membereskan kertas hvs yang berisikan berbagai topik plot naskah yang sedang dirilis olehnya.


Risda turun kebawah dan menuju ruang makan dimana anggota keluarganya telah berkumpul menunggu dirinya untuk makan bersama.


"Maaf" ucap singkat Risda dan Rita yang datang bersamaan.


"Ayoo makan nak" Nur menatap Rita yang seperti tidak enakan karena telah membuat orang-orang menunggu karena dirinya.


"Iya ma" jawab Rita.


Selesai sarapan dan semua piring kotor telah Risda bersihkan bersama dengan Rita. Risda kembali keruang makan mendapati Bintang yang duduk menatap fokus pada laptop dihadapannya. "Bint" panggil Risda.


"Iya" jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan.


"Jam berapa masuk mk kita?".


"Satu jam lagi".


"Barengan ya"


"Bint, Riiss" panggil Rita, "aku duluan ya, ada mk sekarang soalnya".


"Iya" sahut Bintang dan Risda berbarengan.


Rita menuju kedepan meminta bantuan pada Adi untuk mengantarnya kerumah terlebih dahulu dan kemudian menuju kampus dengan kereta kesayangan Rita.


Dengan senang hati Adi mengantar Rita, kemanapun Rita mau.


Sedangkan Risda sendiri memilih mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan diri setelah terakhir ia mandi pagi kemarin.


Empat puluh menit berlalu Risda keluar dari kamarya sudah dengan pakaian rapi dan wangi. Risda menghampiri Bintang yang masih tidak bergeming terlalu fokus pada layar monitor laptopnya.


Risda duduk tenang tanpa bersuara dan tanpa mengganggu Bintang.


Wangi semerbak masuk dalam indra penciuman Bintang dan mencari titik harum yang menjalar itu, Bintang menemukan Risda yang duduk tenang berwajah datar fokus pada kertas kerjaan Bintang yang membacanya dengan seksema.


"Riis" panggil Bintang.


"Ya. Maaf aku lancang".


"Mau berangkat sekarang?" tanya Bintang.

__ADS_1


"Pekerjaan kamu gimana?"


"Bisa dilanjutkan nanti" senyum langka Bintang hanya diberikan pada Risda.


"Baiklah. Ada yang bisa kubantu" tanya Risda.


"Tidak ada". Bintang men shut down laptopnya dan memasukkan dalam tas sekalian dengan sekumpulan berkas yang sempat berserak di meja makan tadi.


"Sudah, ayok" ajak Bintang sambil menenteng tasnya.


Risda mengikuti langkah Bintang menuju garasi hendak mengambil mobilnya.


"Bint" panggil Risda menghentikan Bintang masuk dalam mobilnya.


Bintang diam menyimak kelanjutan kata apa yang akan dikatakan oleh Risda.


"Kita naik motorku saja, karena cuma kita berdua. Sayangkan motorku itu yang udah lama nganggur".


Tidak ada sahutan dari Bintang namun Bintang segera beralih melangkahkan kakinya menuju motor Risda yang terpakir cantik di sudut garasi rumah.


Bintang menaiki motor besar kepunyaan Risda dan memanaskan mesin sebentar.


"Bint, siniin tasnya. Biar aku saja yang pakai" menyodorkan tangan meminta alih tas Bintang.


Bintang menyerahkan tasnya pada Risda dan Risda segera memakainya bagaikan tas selempang.


Tiga menit berlalu Risda telah menaiki motornya yang lumayan tinggi bagian joop belakang. Risda menaiki keretenya dengan memegang bahu Bintang sebagai tumpuan supaya dirinya tidak terjatuh dan ini pertama kali ia duduk dibagian belakang biasanya dirinya sendiri yang menyetirnya.


Brum brum brum


"Sudah?" tanya Bintang pada Risda.


"Sudah".


Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka berdua telah sampai di perkarangan kampus. Risda turun dari motorĀ  dan kemudian jalan beriringan menuju ruangan.


Kelas hari ini telah usai, kini waktu telah menunjukan saatnya makan siang.


Bintang dan Risda melangkahkan kaki mereka menuju kantin kampus untuk mengisi perut mereka yang telah waktunya untuk diisi.


"Riss, mau makan apa".


"Samain aja".


Bintang menuliskan pesanan mereka berdua dan menyerahkan kembali draft pesanannya pada pelayan kantin.


Bintang dan Risda duduk di pojokan kantin yang berdekatan dengan ruang kelas. Dari kejauhan Risda melihat Albert yang berada pas didepan ruang kelas. Risda menatap Albert tanpa penghalang dengan tetap mempertahankan kedataran wajahnya.


Albert juga memperhatikan balik Risda yang memperhatikan dirinya yang begitu dalam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2