Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Baper


__ADS_3

"Bapak" rengek manja Risda yang hanya tertuju pada Zay.


"Risda Zay Akli" panggil salah satu staff yang yang bertugas di sana.


"Bapak. Risda tidak mau. Takut bapak" ucap Risda dengan mata yang sudah mengembun ingin menangis.


Tidak ada jawaban dari Zay tetapi Zay berdiri dan mengenggam tangan anak gadis kesayangannya dan membawanya masuk kedalam. Mau tidak mau Risda mengikuti langkah Zay yang masuk dalam ruangan sambil menahan tangis.


Zay duduk manis menunggu didalam ruangan pemeriksaan sambil melihat aktifitas para petugas yang memeriksa Risda.


Segenap pemeriksaan sudah terlaksa dan Risda juga sudah mulai tenang. Satu jam berlalu hasil dari ronsen tersebut sudah keluar dan hasilnya menunjukan bahwa tulang hidung Risda mengalami keretakan ringan.


Zay membawa seluruh keluarganya jalan-jalan hari ini seperti janjinya pada Risda tadi siang kecuali Adi dikarenakan Adi harus konsul lagi pada dokter tulang menanyakan tindakan selanjutkan apa yang harus dilakukan pada Risda selanjutnya.


Zay membawa kedua anaknya dan istrinya ke pantai. Irsyad dan Risda yang begitu antusias saat melihat air laut yang begitu jernih langsung menyebur  masuk laut dan berenang sepuasnya.


Lebih dua jam sudah, Irsyad dan Risda berenang di air laut. Kini Adi datang, menyusul Zay sambil membawa baju ganti untuk Irsyad dan Risda yang disiapkan oleh bibi yang biasa membersihkan rumah Risda. Zay yang menyuruh Adi datang menyusul untuk membawakan baju ganti untuk Irsyad dan Risda,.


Matahari mulai tenggelan namun Irsyad dan Risda seakan tidak ada puas-puasnya bermain air, berenang kesana kemari.


Zay Berdiri di bibir pantai menatap dua anaknya yang berenang sedikit ke tengah dan juga tidak ingat waktu. Zay berdiri dengan menyelipkan jari-jari tangannya kedalam kantong celana yang ia pakai dan tidak lupa kaca mata hitam yang ia pakai menambah ketampan Zay.


Dari kejauhan Risda melihat Zay yang berdiri menatap dirinya bersama sang adik akhirnya menyudahi acara berenangnya dan berenang ketepian menemui sang bapak yang menantinya.


"Sudah cukup?" tanya Zay.


"Sudah pak" jawab Irsyad dan Risda bersamaan yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Ganti baju kalian" suruh Zay.


"Kami ngak ada baju ganti pak" jawab Irsyad dan Risda kompak dengan senyum cengegesan.


"Minta sama abang kalian atau sama mama sana".


"Baik pak".

__ADS_1


Irsyad dan Risda segera berlalu meninggalkan Zay seorang diri di bibir pantai sambil melihat matahari terbenam.


Irsyad dan Risda sudah selesai mengganti pakaian mereka masing-msing dan melihat Zay telah kembali menghampiri.


Risda dan sekeluarga pulang kerumah, sebelum sampai rumah mereka terlebih dahulu singgah di masjid terlebih dahulu untuk menunaikan sholat magrib.


Pukul sembilan malam tepat Zay sudah tiba di rumah. Irsyad dan Risda langsung masuk dalam kamar mereka masing-masing untuk mandi dan istirahat. Sedangkan Adi, Nur dan Zay duduk di ruang keluarga membahas hasil  pemeriksaaan Risda siang tadi.


"Bagaimana hasilnya, Di?" tanya Zay.


"Keretakan ringan, pak" menghembus napas pelan "kata dokter tadi, penyembuhannya bisa langsung di operasi atau dengan cara tradisional tapi penyembuhannya lama".


Nur dan Zay saling pandang.


"Saran dari Adi, lebih baik kita pakai cara operasinya aja, mak, pak".


"Bisa juga" jawab Nur dan Zay kompak.


Hari senin telah terlewati dan hari ini adalah hari selasa. Pagi pagi sekali setelah siap shubuh Bintang telah sampai di rumah Risda untuk menjemput Risda pergi ke kampus bersama dan tentu saja atas perintah dari Risda langsung menyuruh Bintang untuk untuk menjemput dirinya.


Bintang dan Risda ingin masuk kedalam perpus namun dering telpon hp Bintang menghentikan langkah mereka berdua "haloo".


. . .


"Emm" hanya dehemen saja yang terdengar dari Bintang dan kemudian sambungan teleponpun terputus.


"Riis" panggil Bintang.


"Ya".


"Si Rita minta jemput. Kamu mau tunggu disini atau ikut".


"Disisni aja".


Bintang melangkahkan kakinya menjauhi perpus menuju parkiran kembali dan mengendarai mobil untuk menjeput Rita sedangkan Risda sendiri memilih masuk dalam perpus membaca buku yang menurutnya yang perlu di baca.

__ADS_1


Jam terus berputar tanpa Risda sadari alarm hp Risda berbunyi tanda mk akan dimulai. Risda menyudahi membacanya dan keluar dari ruangan setelah sebelumnya memberitahu Bintang untuk menunggu dirinya dalam ruangan saja.


Ciiiit. Decitan pintu kaca yang dibuka oleh Risda mengalihkna atensi seorang pemuda yang juga sedang membaca buku, duduk tenang di deretan kursi tunggu yang tersedia di depan ruang perpus.


Dua pasang mata saling tatap, terpaku mengunci pandangan. Satu mengagumi dalam diam dan satu lagi hanya diam saja mempertanyakan apa yang terjadi pada seorang gadis yang belakangan ini selalu melihat dirinya bagaikan terpana antusias, entahlah ia tidak bisa mendeskripsikannya.


"Eheeem" Albert berdehem keras menyadarkan Risda dari kebekuan pandangan dan kakinya.


"Ehh" terkejut Risda dan menampilkan senyum canggung "maaf pak, permisi". Risda langsung kabur berlari kecil menuju ruangan menghindari sang pujan hati Ahmad Alfarisi Albert yang mampu membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.


Albert melihat kelakuan Risda hanya menggeleng kepala ringan dan melanjutkan agenda membacanya yang tertunda karena Risda.


Risna yang sedang berlalu menjauhi Albert, merutuki dirinya sendiri kenapa pulak dirinya terlihat bodoh saat berhadapan dengan Albert.


Risda tiba di ruangan mk nya sekarang dan menghentikan omelan untuk dirinya sendiri dan melanjutkan langkah kakinya masuk dalam ruangan beriringan dengan langkah dosen yang akan mengajar di ruangannya.


Bintang lebih dulu sampai dalam ruangan mengamati Risda yang baru masuk ruangan, terlihat muka seperti kesal, Bintang hanya diam enggan bertanya karena sudah pasti tidak akan ada jawaban yang Bintang dapatkan.


Pelajaran telah usai. Mahasiswa dan mahasiswi pun keluar dari ruangan tanpa sengaja Risda melihat Albert lagi dari kejauhan memperhatikan dirinya.


Melihat Albert yang semakin memperhatikan Risda, membuat Risda jadi salah tingkah sendiri. Menunduk salah, mau lihat kedepan juga salah, apapun yang Risda lakukan tetap Risda tidak nyaman dalam kondisi diperhatikan seperti ini.


Bibir Risda terus ingin tersenyum namun logika Risda mengatakan "jangan sampai kamu senyum-senyum sendiri Risda".


Bintang menepuk bahu Risda sedikit keras. Bintang berdiri tepat dibelakang Risda namun fokus mata Bintang pada Albert yang berdiri agak sedikit jauh di depan sana.


"Astagfirullah hal'adzim al lazi la ila hailla" kaget Risda beristiqfar dengan suara keras sehingga menghentikan aktifitas orang lain dan memperhatikan Risda seksama.


Bintang mengernyitkan dahinya bingung dan lantas bertanya pada Risda "sejak kapan kamu menjadi latah?".


Risda segera berbalik badan melihat siapa yang menepuk bahunya dan mendapati Bintang yang bermuka datar sedatar tembok. " Kenapa? " tanya Risda kemudian.


Tanpa sengaja Risda melihat sosok perempuan lain yang Risda ketahui namanya Marliza Selin sedang menatap Albert juga sambil tersenyum manis.


Dada Risda berdenyut sakit seperti tertusuk tusuk jarum halus ternyata perhatian Albert bukan untuk dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG . . .


__ADS_2