Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Kerinduan


__ADS_3

Aduh malunya ketahuan sama si Bintang lagi, kalau aku suka sama pak Albert.


Hiks hiks hiks


Risda pura pura nangis lantaran malu.


Di mata kuliah selanjutnya Risda tidaklah konsen lagi di karenakan pikiran Risda tertuju pada Albert yang mengatakan saya sering memanggil orang itu bukan berarti saya suka sama orang itu.


Risda terbayang bayang bagaimana mimik wajah pak Albert saat mengatakan sesuatu yang membuat hati Risda terguncang sedih.


Dalam hati Risda bermonolog sendiri belum apa apa sudah di tolak duluan huft.


Risda tersentak kaget mendengar ucapan salam dari google meeting zoom yang berasal dari layar monitor laptop di depan matanya, Walaikumsalam warahmatullah hibawabarakatuh ucap kompak seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalamnya.


Astaqfirullah sudah habis pertemuaannya, tadi dosennya ngomong apa aja ya, entahlah ngak tahu yang penting topik utamanya ada di tangan nantilah belajar sendiri.


Setelah perkuliahan selesai Risda menonaktifkan laptopnya dan kemudian menchanger daya baterai yang ada pada labtopnya.


Huft Risda menghembuskan napasnya kasar karena kesal pada dirinya yang tidak bisa membagi waktunya, kapan seharusnya ia bisa serius dan kapan waktunya bisa main main.


Nah sekarang dari mana letaknya keseriusan jika pikiran selalu saja tertuju pada hal yang tak pasti, mengapa harus serumit ini jika mungkin nanti keputusan akan menyayat hati.


Ayolah Risda kuliah dulu, selesaikan dulu kuliah yang telah kamu mulai ini, tolonglah singkirkan yang namanya cinta yang sama sekali tidak bermanfaat bagimu


Tolonglah logika dan hati kerja sama kalian, jangan terus terusan seperti ini.


Untuk mengalihkan perasaan galaunya Risda kembali membuka diary untuk mencurahkan isi hatinya.


Tentang aku, daku dan diriku


Siapa suruh kamu terpikat akan dirinya


Siapa suruh kamu menahan rasa untuknya.


Cinta membuat seseorang konslet akan otaknya


Aku kemanakan dulu logika ini, saat awal bertemu denganmu.


Mengapa hati ini harus tertarik dan terpikat seorang diri padamu sedangkan dirimu jangankan untuk membalas rasa yang ada di hatiku, tahu aja enggak kalau aku suka dan cinta padamu tuan.


Bodohnya aku padahal hati ini diriku sendiri yang mengelolanya tanpa ada campur tangan insan lain lantas mengapa hatiku ini harus terpeleset melenceng pada hati yang tidak mungkin untuk aku miliki.


Kini hati dan batinku tersiksa hanya karna cinta seorang diri.


Setelah menuliskan semua apa yang menganjal di hatinya kemudian Risda ingin melakukan olahraga seperti biasanya tetapi tidak bisa di karenakan kondisi hatinya tidaklah sedang menahan amarah, Risda menyimpan kembali matras dan peralatan olahraga lainnya kembali.


Risda melirik jam di dinding yang menunjukan pukul hampir memasuki jam shalat ashar. Risda mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu setelahnya.

__ADS_1


Setelah siap selesai semuanya barulah terdengar suara adzan yang terdengar merdu yang di kumandang oleh muadzin masjid.


Risda shalat dengan khusyuk dan kemudian membaca ayat suci Al-Qur'an untuk mengembalikan hatinya yang gundah untuk menjadi tenang kembali


Risda mencurahkan segala isi hatinya pada sang pemilik hati di atas hamparan sajadah, mengeluarkan setiap keluh kesahnya yang ada.


Hari hari berlalu dua pertemuan sudah pak Albert tidak masuk dalam pertemuan online selalu saja tugas yang di titipkan pada komisaris kelas, Risda jadi uring uringan sendiri karena tidak melihat kekasih pujaan hatinya dalam diam.


Bintang yang memperhatikan perubahan sikap dari Risda mencoba untuk mengiklaskan hati tetapi Bintang tidak sampai hati melihat senyuman Risda yang kian meredup dan menghilang hanya karena merindukan seseorang dan orang itu bukanlah dirinya sungguh hati Bintang tersayat pedih. Ya tapi mau bagaimana lagi Bintang bisa apa, tidak mungkin jika dia harus memaksa hati Risda untuk dimilikinya seorang.


Bintang menghembuskan napasnya pelan kemudian berucap "sudah sudahlah cinta seorang diri, mencintai seseorang yang tidak mungkin kamu miliki".


Risda melirik kesal suara yang berada di sampingnya dengan tatapan mata tajam


"apa kamu bilang?" ucap Risda kesal.


Kemudian mimik wajah Risda langsung berubah dan minta bantuan pada Bintang untuk menghilangkan rindu yang menghendap dalam hatinya.


"Bintang bolehkan aku sahabatmu ini meminta bantuan padamu".


"Apa".


"Tolong bantu aku menghilangkan rindu ini, tolong bantu aku menghilangkan rasa cinta ini dan tolong ajarkan aku untuk memberikan rasa cintaku pada dia yang mencintaiku".


Bintang tercengang mendengar penuturan terakhir Risda yang mengatakan "Tolong ajarkan aku untuk memberikan rasa cintaku pada dia yang mencintaiku" Bintang tahu siapa yang Risda maksud itu.


Setelah sesaat kemudian Bintang menetralkan kembali detak jantungnya.


"Ayok" ucap Bintang pada Risda.


"Kemana" jawab Risda kebingungan.


"Kemana yang sampai untuk menghilangkan rindu yang berkabung di hatimu itu.


Hanya mengalihkan rasa rindu yang bisa kulakan Risda, yang lain mohon maaf aku tidak bisa, hanya hatimu sendiri yang bisa melakukan itu".


Risda menatap mata Bintang untuk beberapa saat, dalam mata itu Risda melihat ada rasa sedih, kecewa dan cinta bergabung menjadi satu tetapi semua itu tertutupi dengan senyuman yang selalu tertuju padanya.


"Sebentar ya telepon si Rita dulu" ucap Bintang.


"Ngapain" tanya Risda.


"Ada deh".


"Ish Bintang".


"Siap siap sana bawa baju ganti untuk berenang ya sepasang".

__ADS_1


"Untuk siapa ?".


"Untuk kamulah memangnya untuk siapa lagi".


Horeee Yes yes berenang berenang ucap Risda kegirangan sambil loncat loncat di tempat.


Bintang yang melihat kelakuan Risda hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum dalam hati berkata


Kenapa juga aku suka sama bocah itu ya.


"Apa" tanya Rita di sebrang ujung sana.


"Kamu ini belum apa apa udah marah duluan


Mau jalan jalan ngak sama kami".


"Ya maulah kenapa ngak bilang daritadi sih".


"Kemana


Ooke siip dalam setengah jam aku sampai ke rumah Risda ya".


Hm jawab Bintang.


Setelah semuanya siap tinggal berangkat. Bintang yang telah menghidupkan mesin mobilnya terpaksa mematikan kembali karena Adi berdiri tepat di bagian depan mobil.


Risda mengeluarkan sebagian kepalanya dari jendela mobil dan berteriak "awas abang kami mau lewat".


"Tidak boleh kalian mau kemana hah" ucap Adi garang.


Bintang heran kenapa Adi pulang cepat hari ini, padahal jam baru menunjukan jam 14:36 biasanya setelah pulang dari pabrik bersama Bintang, Adi melanjutkan kencan tidak jelasnya itu.


"Abang naik aja ke sini ikut bareng kami" ucap Bintang pada Adi.


"Kalian mau kemana ha?" tidak boleh pergi berduan.


Bintang menatap kesal Adi yang masih berdiri di depan


"Bang kalau mau ikut silakan gabung sama kami, kalau tidak mau ikut awas kalau ngak saya tabrak abang ini".


Adi bergedik ngeri melihat tatapan tajam Bintang Kemudian Adi buru buru masuk ke dalam mobil sedan milik Bintang


Setelah Bintang naik dan duduk dengan nyaman dengan entengnya Adi mengatakan "ayo jalan".


Tiga pasang mata menatap kesal pada Adi.


Adi tersentak kaget mendengar suara dengan bunyi kacau yang berasal dari sampingnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2