Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Di goda emak emak


__ADS_3

"ke baiklah, sampai ketemu besok Lusi" kataku mengakhiri perbincangan kami.


"Oke! Sampai jumpa" jawab Lusi mematikan Handphone-nya.


Karena lelah aku pun tertidur, ya tentu saja lelah karena perjalanan hari ini, karena besok akan bekuliah kembali.


***


Ke esokan harinya ketika aku ingin berangkat, sudah standby sebuah mobil berwarna merah yang tak asing bagiku lagi.


"Hmmm, itu pasti Riko, ngapain dia datang pagi pagi begini?" Tanyaku penasaran.


Kulihat Riko keluar dari mobilnya menggunakan kaca mata hitam, ya emang keren sih, dan setiap cewek-cewek lewat melihatnya, mereka langsung terpukau karena ke tamvanannya, tidak terkecuali emak-emak, bahkan ada yang mengodanya.


Ketika aku mendekati Riko, namun masih berjarak tidak jauh, ada dua orang emak-emak menghampirinya.


"Wah tampan sekali kamu, boleh donk minta nomor WhatsApp-nya" kata salah satu ibuk-ibuk.


"Boleh" kata Riko, dan ibuk itu memberikan ponselnya kepada Riko dan Riko pun mecatat nomor WhatsApp-nya.


"Terima kasih tampan" kata ibuk-ibuk itu genit.


Aku tersenyum geli melihat kelaukan ibuk-ibuk tadi.


"Kamu tau ngak bedanya kamu sama jarum?" Gombal salah satu ibuk-ibuk itu.


"Sngak" jawab Riko tersenyum kecil.


"Kalo jarum menusuk jariku, kalo kamu menusuk hatiku" kata ibuk itu sambil tersenyum genit.


Riko pun tersenyum lucu.


Ingin rasanya aku mutah di depan ibuk-ibuk itu, tapi ya sudah lah, mungkin dia bosan lihat yang di rumah pada kriput-kriput.


Aku mendekati Riko ketika ibuk-ibuk genit tadi sudah pergi.


"Ternyata kamu doyan juga ya sama emak-emak" kataku mengejek.


"Membuat mereka bahagiakan juga pahala" jawabnya tenang.


"Hmmm, trus ngapain kamu disini?" Tanyaku penasaran.


"Jemput kamu" jawabnya enteng.


"Aku ngak butuh dijemput, jalan kaki malah lebih sehat" ujarku.


"Emang aku menjemputmu akan jadi supirmu apa?"

__ADS_1


"Jadi?" Tanyaku binggung.


"Mulai sekarang kamu jadi supirku, kamu pandai nyetirkan?" Tanyanya.


"Mana bisa aku nyetir" kataku mengelak.


"Heehh, jangan bohong, kemaren aku udah nanya temanmu, katanya kamu pernah jadi supir taksi dua bulan, jadi kamu ngak keberatankan kalau jadi supirku, dan lagi tadi malam temanmu bilang kalau kamu lagi cari kerja paruh waktu iya kan?" Tanyanya.


"Aduh Lusi, dia ngak tanya dulu sama aku , apa aku setuju dengan pekerjaan ini apa ngak?" Kataku dalam hati sambil menepuk jidat.


Dia bilang dia yang ingin mendekati Riko, tapi malah dia menjerumuskanku untuk dekat lagi dengan Riko, sungguh teman yang payah.


"Nih ambil" kata Riko melempar kunci mobilnya kepadaku, ia pun naik di kursi penumpang di sampingku.


Aku pun menarik tuasnya, dan perlahan lahan menjauhi rumahku.


Aku terlalu fokus menyetir mobilnya, sehingga tak sempat bertanya apapun padanya.


"Lambat amat" katanya memulai pembicaraan.


"Berisik lu" jawabku sambil fokus didepan.


"Laju siput ketimbang kamu, kalo ada kura kura, udah menang dia" katanya mengejek.


"Ih banyak bacot lu, udah lu aja yang nyetir" kataku mulai kesal.


"Kamu 'kan supirku masa bos yang nyetir, kariyawan yang dapat gaji" katanya nyinyir.


Aku langsung memberhentikan mobilnya secara mendadak, untungnya kami menggunakan sabuk pengaman, dan di jalan sedikit sepi.


"Hey, kamu kalo mau ngedugem jangan di jalanan donk, sana di cafe" kataku marah dan mematikan musiknya.


"Ngerusak kesenanganku aja kamu" ocehnya tak terima.


"Oke" aku pun melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil, ketika hendak keluar Riko pun memegang tanganku.


"Lepasin, aku mau keluar" kataku marah.


"Udah masuk, aku ngak gangguin kamu lagi" ujarnya mengalah.


Aku kembali duduk di kursi supir, Riko menarik sabuk pengaman dan memasangkan untukku.


"Ayo jalan" katanya melemah.


Aku kembali melajukan mobilnya dan kami hanya terdiam saja tanpa pembicaraan apapun, dan karena bosan dia pun memainkan ponselnya membalas Chat sambil cekikikan.


"Dasar orang gila" kataku melihatnya dengan menyinyir, tapi di dalam hati.

__ADS_1


Dia tertawa terbahak-bahak melihat melihat isi Chat-nya, sesekali ia tersenyum, ya sudahlah biarkan saja, ketimbang dia membuatku kesal nantinya, dan aku cukup fokus menyetir saja.


Dan tak berapa lama kami pun sampai di kampus, dia pun merengang tubuhnya.


"Wah enak ya kalau ada yang tukang setir, jadi aku bisa santai" jawabnya mulai membuat ku kesal, namun aku lebih memilih untuk diam dengan wajah manyun, ketimbang di ladeni malah nanti dia ngerjaiku lagi.


Aku pun hendak keluar dari mobil, belum sempat aku menginjakkan kakiku di lantai kampus.


"Mau kemana? Parkir dulu mobilnya" perintahnya.


Aku tetap diam dan kembali masuk ke mobil dan memarkirkan mobil miliknya, setelah kuparkir aku pun keluar dan mengembalikan kuncinya dan ingin segera meninggalkannya.


"Tunggu, bawa tasku" katanya melemparkan tasnya padaku, fiks... aku sudah resmi menjadi pembantunya.


Dengan manyun aku membawa tasnya.


"Jangan marah-marah donk nanti ngak dapat jodoh" katanya yang sedang melihatku manyun.


Aku tetap terdiam, karena lagi ngak mood buat menyahuti ocehannya, dia mengikutiku dari belakang dan sedang selfi-selfi, aku tak menghiraukannya terserah dia mau melakukan apa.


Aku tetap berjalan dengan wajah manyunku, ketika sampai di ruangannya, aku menaruh tasnya seperti biasa, ketika aku berbalik ada seorang perempuan yang menghampiri Riko.


"Riko ini kue buatanku, aku membuatnya sepanjang malam sambil memikirkanmu, semoga kamu suka dan mau memakannya" kata perempuan itu berharap.


Aku sungguh miris dengan perempuan itu, ia tau jika Riko tidak menerimanya namun ia tetap berharap Riko menerimanya.


"Berikan kepada asistenku" jawab Riko datar.


"Tapi..." kata perempuan itu ragu-ragu sambil melihat ke arahku.


"Kamu ingin aku menerimanyakan? Berikan padanya" perintah Riko.


Perempuan itupun datang ke padaku dan menyerahkan kue tersebut, aku menerimanya dengan kasihan, tentu saja aku kasihan, karena belum tentu Riko akan memakannya. Riko pun duduk di kursinya.


Aku membuka kotak kuenya dan menyodorkannya kepada Riko agar ia memakannya.


"Nih makan" suruhku.


"Untuk kamu saja" katanya yang sudah kuduga.


"Apa kamu tidak bisa mengargainya sedikit saja, dia membuat kue ini untuk mu sepanjang malam, kenapa kamu tidak mencicipinya sedikit saja" nadaku sedikit kesal namun aku mengatanya dengan pelan.


"Baiklah, tapi suapin aku" katanya memberi syarat.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya dengan pelan, ya sudahlah anggap saja aku membantu perempuan tadi.


Dari kejauhan perempuan yang tadi tersenyum melihat kuenya di makan oleh Riko, ketika aku menatapnya, ia belari dengan wajah memerah, sepertinya dia senang sekali, aku pun senang bisa membantunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


__ADS_2