
Ternyata di bawakan Riko adalah sebuah jam dan sepatu keren, dan harganya ya lumayan bagi mereka orang kaya, tapi bagi kami muahal buanget.
Ayah mengangguk-angguk menerima hadiah dari Riko.
"Ayah mau ngak Riko kasih modal buat usaha jualan bakso Ayah, biar Ayah ngak usah jual keliling lagi, nanti kita cari tempat yang strategis, bagaimana apa Ayah setuju," Tanya Riko dengan mata yang berbinar.
"Boleh, kapan?" Tanya ayah mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kapan Ayah Mau?" Tanya Riko lagi.
"Besok," jawab ayah.
"Oke besok, kalau gitu aku pulang dulu Ayah," ujar Riko.
"Ya hati-hati," kata ayah lupa yang sebenarnya ayah ingin memarahi Riko.
Ya sudahlah aku langsung masuk kamarku. Lelah, letih, capek, emang tempat tidurlah obatnya.
"Coba aku telpon Lusi dan Putri apa kabar dua anak itu, apa jangan-jangan langsung di bawa kehotel sama bocah tengil berdua itu," kataku dan meraih ponselku.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Kok ngak diangkat, apa beneran mereka di bawa?" Tanyaku curiga dan coba telpon lagi.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Halo," jawab seseorang yang mirip suara laki-laki. ''Ini pasti Radit,'' pikirku.
"Kalian di mana?" Tanyaku.
"Di rumah sakit," jawab Radit.
"Apa? Ngapain?" Tanyaku kaget.
"Tiba-tiba saja Lusi merasa sakit lukanya tadi," jawab Radit.
"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyaku khawatir.
"Udah di obati, ini aku juga mau ngantarnya pulang," jelas Radit.
"Oke, kalo ada apa-apa kasih tau ya," ujarku.
"Iya aku baik-baik saja," kata Lusi tiba-tiba ada suaranya.
"Kukira setelah berbunga-bunga, sudah sembuh lukamu, ternyata masih juga terasa sakitnya," ujarku mengejek.
"Bunga ya bunga, luka ya luka, beda kali," celoteh Lusi.
"Mana Putri apa ngak pingsan juga dia karena cinta?" Tanyaku.
"Ngak aman-aman aja selagi Ari bersamanya," goda Lusi.
__ADS_1
"Tutup mulutmu," teriak Putri karena malu.
"Ya udah, Laras kita mau pulang dulu," pamit Lusi.
"Iya pulangnya jangan nyangkut kehotel dulu, langsung pulang," pesanku.
"Kami ngak punya hotel kaya Riko, mana bisa kesana, emang kamu bisa kehotel sesukanya," kata Lusi. Meskipun merendah tapi kelihat mengejek.
"Udah sana pulang, besok kuliah," kataku dan langsung menutup panggilannya. Ketimbang panjang ejekannya.
Aku terbaring karena lelah dan tanpa sadar aku ketiduran. Ternyata aku lupa mandi.
****
"Laras, bangun udah pagi nih," bangun ayah.
"Ha?" Dengan wajah yang masih semeraut, mata terpejam aku duduk di atas kasur, tak rela meninggalkan tempat tidur yang empuk ini.
"Laras, ayo berangkat," serbu Putri dan Lusi masuk kekamarku.
"Ntar aku mandi dulu," kataku masih sempoyongan berdiri dan mengambil handuk.
"Wah, kamar Laras, benar-benar luas kalau cuma di tempati 1 orang," kata Lusi.
"Iya, udah gitu mewah lagi, aku iri banget," kata Putri memukul-mukul tubuh Lusi.
"Ayo kita jelajahi kamarnya," ajak Lusi,
"Hehehe," Putri terkekeh.
Mereka berduapun berpetualang.
Aku membiarkan mereka berpetualang dengan dunia mereka sendiri.
"Aku belum rela meninggalkannya," ujar Lusi yang masih ingin melihat-lihat kamarku.
"Lain kali aja, sekarang kita harus berangkat," ujarku.
Berangkat kuliah dengan motor baru milik Lusi dan putri. Aku taunya cuma nebeng.
Aku, Lusi dan putri sudah lama sampai di kampus, dan Riko baru saja datang.
"Laras, ayo sini dulu," kata Putri menaril bajuku untuk bersembunyi.
"Hey somplak mau kemana kamu,"teriak Putri dengan suara pelan kepada Lusi.
Aku menarik baju Lusi untuk bersembunyi juga.
"Apaan sih?" Tanyaku penasaran.
"Tuh lihat," kata Putri menunjuk kearah Riko.
Seorang gadis memberi Riko kotak hadiah, yang tak tau apa isinya. Diakan tau jika Riko punya kekasih, tapi masih berani dia memberi hadiah kepada seseorang yang sudah punya pasangan. Inilah nasib jika punya pasangan yang terkenal dan tertamvan, harus kuat iman.
"Wahhh... cewek itu sungguh berani, jika aku jadi kamu, kulabrak dia" kata Putri mengompor-ngompori.
"Iya, kalo aku tadi udah kupenyet-penyetkan dia," tambah Lusi memprovokasi.
"Aaaaa... kalian mau aku harus berbuat apa?" Tanyaku bingung.
__ADS_1
"sana samperin," kata Putri.
Terpaksa aku jalan mendekati Riko yang masih bersama gadis tersebut.
"Hay adek manis, kamu ngapain?" Tanyaku dengan tersenyum yang kubuat-buat.
Gadis tersebut langsung meyembunyikan coklatnya.
"Kamu bawa apa? Coklat? Mau kamu berikan sama siapa?" Tanyaku dengan mengandeng tangan Riko. Riko tersenyum ketika aku mengandengnya.
Cewek itu diam dan menundukan kepala.
"Kamukan tau jika dia sudah punya pasangan, kenapa kamu dekati," ujarku.
"Kan selagi dia belum menjadi suami kakak, masih milik bersama, orang sudah nikah saja bisa cerai, apa lagi yang masih pacaran" ujar cewek itu memberanikan diri.
"Wah... nyalinya sungguh besar," kata Lusi mengeleng kepala memandang dari kejauhan.
Mendengar ucapan cewek itu aku rasanya ingin menjambaknya.
Aku melihat kearah Riko.
"Ehem... sebenarnya kami sudah bertunagan, aku harap kamu jangan mendekati aku lagi, ini tandanya" kata Riko memperlihatkan cincin yang ada di jariku dan di jarinya.
"Padahal kakak dulu ngejar-ngejar kak Riko dan malah rela menjadi pembantunya dulu, kenapa sekarang bisa jadi tunangan?" Tanya cewek itu lagi.
"Aku? ngejar-ngejar dia? Dulunya? Mana ada aku ngejar dia, dia yang ngejar-ngejar aku duluan," jawabku tak terima.
"Butul kata adek ini kamu yang ngejar-ngejar aku duluan, dulunya kamu yang ngekor aku terus," ujar Riko bangga.
"Eh buntat, kapan aku ngejar kamu, jangan ke-ge-er-an deh kamu," kataku tak mau kalah.
"Nyatanya kamu sering bawa tas aku," ujar Riko lagi, bener-bener ya, bikin aku tensi.
"Lho-lho, kenapa malah mereka yang jadi berantam?" Tanya Putri yang masih bersembunyi.
"Gawat nih," ujar Lusi.
"Eh somplak, itukan kamu yang nyuruh," jawabku sebal.
"Terus kamu juga rela nyuapi aku makan di restoran," katanya lagi.
"Itu perintahmu bantat, aku mah ogah, tanganmu juga ngak lagi patah," jawabku melipat tangan sambil memayunkan mulutku.
"Iya deh, iya, kamu benar semua, ini kulakukan karena aku sayang kamu," kata Riko mengalah dan memelukku lalu mencium rambutku. Si cewek malah nonton orang sedang bermesraan.
"Di mananya yang sayang, aku kamu jadiin pembantu," kataku masih ngambek.
"Iya karena aku ingin dekat sama kamu terus, kamu jangan ngamek donk, akukan cuma becanda," kata Riko membelai rambutku.
"Becanda macam apa itu," jawabku lagi.
"Huh syukur mereka baikan lagi," kata Putri mengelus dadanya.
"Kamu mau makan apa, aku yang suapi ya, oh ya ayo kita keshowroom beli mobil, aku udah janji mau belikan," katanya membujukku.
"Bangsat, orang ini bermesraan di depanku pula," batin cewek itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
TERIMA KASIH