Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Menemui Laras di ruang kosong


__ADS_3

Lisa menagis lagi, sepertinya ia meratapi dirinya saat ini. Hampir 1 jam ia menagis, aku merasa pegal duduk di kursi dengan tangan terikat.


"Ehem... apa boleh kau melepaskanku?" Tanyaku membuat Lisa menatapku. Astaga tatapannya seram sekali, ia seperti mau membunuhku. Ia terus menatapku dengan tatapan kosong.


"Lisa, sadarlah, kau yang seperti ini akan menyakiti dirimu sendiri," ujarku menyadarkannya. "Tarik nafasmu dan tenanglah pikiranmu kau akan menjadi lebih baik nanti. Lisa hanya terdiam menatap lantai dengan kosong. Aku takut jika dia kerasukan setan dan malah mencekikku, sedangkan aku dalam posisi terikat.


Di sisi lain, Riko mencoba menghubungiku tapi di karenakan ponselku rusak karena di banting Deri tadi. Hari semakin sore, Riko terus menghubungi nomor yang setiap ia kenal.


Riko menelpon Lusi dan Putri mereka tidak tau, Riko juga menelpon Radit dan Ari dan mereka mencoba menghubungi teman-teman yang lainnya, namun tidak juga ada hasil.


Akhirnya telpon tersebut sampai kepada Mona.


"Ada ketemu Laras Mona?" Tanya Riko panik.


"Tadi pagi ia datang kesini tapi ia sudah pulang sejak tadi siang, tapi habis itu aku ngak tau lagi, ponselnya ngak bisa di hubungi karena rusak di banting Deri tadi karena membelaku. Aku minta maaf," ujar Mona merasa bersalah.


"Ini bukan masalah bersalahnya, kita harus menemukan Laras dulu," kata Riko.


"Baiklah, aku akan ikut bantu mencarinya, kamu tidak apa-apakan jika di tinggal dulu," ujar Doni yang masih di sana.


"Iya, ngak apa-apa, cepat temukan Laras," kata Mona khawatir. Doni mengangguk dan pergi.


Mereka segera pergi dan mencari kesana kemari, namun belum di temukan.


"Apa yang harus kita lakukan lagi?" Tanya Radit kepada Riko.


"Bagaimana jika kita mengecek cctv di jalan saja, seperti waktu Laras di culik," saran Riko.


"Baiklah," Radit segera menghubungi Doni untuk mengecek cctv waktu mulai aku keluar dari rumah Mona.


Mulai dari keluar rumah, tidak terjadi apa pun dan berkendara seperti biasanya. Namun di persimpangan jalan Ada motor dan sebuah mobil mengikuti dan menculik. Sayangnya plat mobil tersebut di tutup hingga tidak bisa di lacak, terpaksa mereka harus melihat setiap cctv yang ada di jalan dan terus mengikuti petunjuknya.


xxx


Di sisi lain.


Mona berdiri dan pergi keluar dari kamar kosong tersebut.


"Buka ikatannya dan jangan biarkan dia keluar," perintah Lisa.


"Baik," jawab pria itu membuka ikatan tersebut dan langsung menutup pintunya.


"Lisa... keluarkan aku Lisa, percuma saja jika kau mengurungku, tapi hatimu tidak tenang," teriakku. Sayangnya tak ada jawaban.


"Lisa jika Riko tau kau mengurungku, dia pasti akan sangat membencimu, keluarkan aku Lisa dan aku tidak akan mengatakan apa pun padanya," Teriakku sambil memukul-mukulkan pintunya.


"Lisa, sekalipun kau membunuhku, berharap ia kembali padamu, jika ia tidak menyukaimu itu percuma saja," ujarku. Meskipun aku tak tau dia di mana, aku berharap agar ia mendengarkannya.

__ADS_1


Perutku sangat lapar sekali, tadi hanya sarapan dan belum makan siang, dan sekarang sudah hampir malam.


"Ini sudah jam 7 malam, dan bentuk mobilnya sama dengan mobil yang lain, jika di pikir-pikir lagi, ini jalan mengarah ke suatu rumah yang aku kenal," ujar Riko mengingat-ingat.


Mereka pun mengikuti petunjuk dari cctv tersebut ke arah mana mobil tersebut pergi. Sampailah pada suatu rumah.


"Ini rumah Lisa, tapi apa mungkin Lisa yang melakukannya?" Tanya Riko penasaran.


"Oke! kalian tunggu di sini biar aku masuk ke rumah Lisa, kalian coba cari di manapun tempat barang kali Laras beneran di bawa ke sini," usul Riko.


"Oke! kamu jangan sampai ketahuan," kata Radit mengingatkan.


"Sip," Riko pun masuk.


"Permisi," salam Riko.


"Iya," jawab Lisa dari dalam rumah. Ia datang dan membukannya.


"Riko, kok kamu datang kesini?" Tanya Lisa melihat ke kiri dan kanan.


"Iya, mau main aja," jawab Riko tersenyum.


"Ya udah, ayo masuk," ajak Lisa. Riko mengangguk dan mengikuti Lisa dari belakang.


"Kamu mau minum apa?" Tanya Lisa sesampainya di sofa.


"Tunggu sebentar ya," kata Lisa dan ia pun pergi ke dapur.


Riko celingak celinguk dan menchat teman-temannya.


"*Bagaimana? Apa ketemu?"


"Belum, cuma di sini ada ruangan yang ngak di pake, jadi kami coba lihat di sini dulu*," balas Radit.


"*Oke, kalau ketemu cepat kasih tau aku."


"Siap*."


"Ini di minum," kata Lisa meletakkan gelas di meja.


"Terima kasih," kata Riko meminumnya.


"Tapi ngomong-ngomong, kamu malam begini datang?" Tanya Lisa tersenyum seolah-olah tak terjadi apa pun.


"Oh, aku datang mau minta maaf sama kamu soal kemaren, karena aku udah nolak kamu, aku jadi ngak enak sama kamu," kata Riko mencari alasan.


"Oh gitu, ngak apa-apa, tapi ngomong-ngomong Laras ngak cemburu kamu datang ke sini?" Tanya Lisa berusaha menyembunyikan kejahatannya.

__ADS_1


"Aku ngak lihat dia hari ini ngak tau dia kemana, kamu ada lihat dia?" Tanya Riko mencari informasi.


"Hm... ngak tau, mana mungkin aku tau dia di mana," jawab Lisa pura-pura tak tau.


"Hm... gitu ya, aku juga bingung dia kemana, ku kira kamu tau, mungkin jika kamu tau kasih tau aku ya," kata Riko.


"Iya, aku kasih tau," ujar Lisa dengan tersenyum yang di paksakan.


"Aduh bagaimana ini, kalau aku lepasin Laras sekarang, pasti ketauan, apa besok saja aku lepasin Laras, tapi... aku masih pengen bersama Riko, jika Riko lama di sini aku takut tiba-tiba saja Laras berteriak dan di dengar oleh Riko," batin Lisa ketakutan.


"Tapi ngomong-ngomong, matamu kenapa bengkak begitu?" Tanya Riko penasaran.


"Oh ini... aku kanget sama mama dan papa, jadi suruh mereka cepat pulang," jawab Lisa ngasal.


"Di mana orang tuamu?"


"Mereka ke london, jadi aku tinggal sendiri di rumah," ujar Lisa.


"Mau aku temanin?" Tawar Riko.


"Eh... ngak usah terima kasih, aku baik-baik saja di rumah," tolaknya.


"Ayo kita dobrak saja pintunya," ujar Radit.


"Ayo," kata Ari. Doni mengangguk. Untungnya tidak ada penjaga karena pria tadi hanya bayaran saja.


"Laras," panggil Radit. Namun tak ada jawaban.


Tintin...


Tintin...


Tintin...


"Halo," jawab Riko.


"Riko, kami sudah menemukan Laras pingsan di ruangan kosong," kata Radit.


"Apa! Kalian di mana sekarang?" Tanya Riko langsung berdiri. Lisa ikut berdiri. Sepertinya ia ketakutan.


"Di belang rumah di dalam ruang kosong," kata Radit memberi arah.


"Oke aku kesana sekarang," kata Riko dan langsung beranjak pergi, Lisa mengikuti Riko dari belakang.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2