Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Menang di perlombaan


__ADS_3

Tintin...


Tintin...


Tintin...


Aku terdiam menatap ponselku.


"Siapa Laras?" Tanya Radit.


"Riko," jawabku yang masih nenatap layar ponselku.


"Terus ngak di angkat?" Tanya Radit lagi.


Aku segera mengangkatnya.


"Ya," jawabku.


"Kamu di mana?" Tanya Riko.


"Di taman," jawabku.


"Pulang," perintahnya.


Aku tidak menjawabnya.


"Pulang," ulangnya lagi.


"Sini biar aku yang bicara," kata Radit mengambil ponsel dari tanganku.


"Kenapa?" Tanya Radit.


"Aku menyuruh Laras pulang," jawabnya.


"Biarkan dia bersantai untuk menghilangkan rasa jenuhnya, karena dari tadi pagi di anggurin, dia butuh suasana tenang, terus kamu gimana? Sudah selesai main-main sama perempuan tadi?" Tanya Radit menyinggung Riko.


"Apa maksud kamu?" Tanta Riko tak terima.


"Ngak ada apa-apa sih, aku 'kan cuma tanya kamu udah selesai main-mainnya?" Ujar Radit.


"Aku udah bilang tadi sama Laras, jika kau nemanin dia karena di suruh orang tua Lisa," jelas Riko.


"Ya... ya... aku ngerti, aku ngerti," jawa Radit yang masih saya menyinggung secara halus.


"Udah Radit, sini biar aju yang bicara dengannya," kataku mengambil ponsel dari tangan Radit.


"Udah ya, bentar lagi kami pulang," jawabku menutup panggilan.


Tut...


Tut...


Tut...


"Apa Laras tidak membutuhkanku lagi," kata Riko membanting ponselnya.


Kami mengelilingi taman tersebut dan berfoto canda ria.


Aku meminta Lusi untuk memfotoku di tepi danau dengan pose duduk menatap danau.


Ku upload di media sosial dan kubuat kata-kata di atasnya.


Lebih baik di lepaskan dari pada di bagi.


Kami bermain hingga sore dantak terasa hampir gelap.


"Pulang pulang pulang," ujar Ari.

__ADS_1


"Iya," jawab Putri menghidupkan motornya. Ari datang menghampiri Putri.


"Aku pulang sama Putri naik motor," ujar Ari.


"Kalo gitu aku sama Lusi naik mobil, ayo sini sayang," ajak Radit, Lusi membuka pintu mobil dan masuk.


Aku?...


"Dasar ngak setia kawan kalian," pekikku. mereka hanya tertawa, aku naik motor Lusi sendirian.


"Ketika di perjalanan aku ponselku berbunyi, namun aku tidak menampiknya, biarkan saja berbunyi, toh juga Riko yang nelpon.


Hari semakin gelap dan sampailah aku di depan Rumahku.


"Laras," panggil Riko. Aku tidak menjawabnya dan melangkahkan kaki melewatinya.


"Laras, kok kamu gini?" Tanya Riko memegang tanganku.


"Udah ya, besok lagi, aku capek," ujarku melepaskan tangannya dan pergi.


"Denganku kamu lelah, dengan mereka kamu bersenang," ucapnya membuat aku berhenti.


"Riko, tolong ngertiin aku kali ini ya, aku benar-benar lelah, jika ada yang kamu bicarakan, besok saja," ujarku melangkahkan kaki masuk kamar dan menguncinya.


Aku terbaring dibatas kasurku.


"Riko, apa kamu tak mengerti juga perasaanku, meskipun kamu di suruh orang tuanya seharusnya kamu juga harus menjaga jarak," ujarku menyayangkan.


Aku tidur tanpa mandi terlebih dahulu. Tubuhku sangat pegal karena jarang berolahraga karena pertandingan tadi sangat menguras energiku. Tapi itu sepadan karena aku juga dapat juara.


xxx


Keesokan paginya aku bangun dan segera mandi, sepertinya ayah sudah pergi kewarung baksonya.


Aku memakai sepatu kets di depan rumah. Riko datang menghampiriku.


"Hm... aku berangkat sendiri," jawabku.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Aku minjam motor Lusi pulangnya, jadi hari ini mau di bawa kekampus," jawabku.


"Oh, ya udah ketemuan di kampus ya," ujarnya pergi menuju mobilnya. Aku melihat dari jendela mobilnya di sana ada Lisa duduk di kursi penumpang, Riko masih saja tak mengerti.


"Kenapa?" Tanya Lisa.


"Dia bawa motor temannya, jadi ngak bisa bareng," jawabnya masuk mobil. Aku melihat mereka bergi menjauhi tempat mereka tadi. Kenapa hatiku hampa sekali, aku seperti mati rasa.


Sesampainya di kampus aku duluan mencari Lusi dan Putri.


"Hey," sapaku.


"Baru datang?" Tanya Putri.


"Iya tadi aku agak telat," jawabku tak bersemangat.


"Laras," panggil Riko menghampiriku ia masih saja bersama Lisa.


Aku diam tak menjawab.


"Ayo ketempat pertandingan," ajaknya. Kami mengikuti dari belakang.


"Riko, mama aku butuh bantuan kamu nih, katanya minta di cariin daun mapel," kaaLisa kepada Riko.


"Untuk apa?" Tanya Riko.


"Ngak tau," jawab Lisa.

__ADS_1


Putri merentangkan tangannya kedepan aku dan Lusi agar kami berhenti.


"Stop! Sepertinya mereka sedang asik," ujar Putri kesal.


Karena di berhentika Putri kami juga ikut berhenti. Mereka berdua asik mengobrol tak sadar lagi jika kami tidak mengikutinya lagi. Mereka sesekali tertawa, Riko bahkan tak sadar jika tangannya di rangkul Lisa. Aku menatapnya dari jauh dengan mata sendu.


"Laras," Lirih Lusi.


"Ayo kita ikut pertandingan yang panas agar bisa menghilangkan kegalauan," teriak Putri mengacungkan tangannya keatas.


"Ayooooo," balas Lusi. Aku malah tak bersemangat.


"Ayo donk Laras, kamu jangan ngak akan mati tanpa Riko, kamu bisa cari yang lain oke," kata Putri mengurui.


"Biarkan saja nanti kena karmanya," ujarku lemas.


Putri dan Lusi menarik tanganku menuju tempat pendaftaran. Mereka mendaftarkanku lomba lari jarak jauh.


"Nih Laras nomor 49, lari jarak jauh," kata Lusi memberikanku nomornya.


"Apa? Gila kalian," jawabku tak terima.


"Udah biar kamu semangat lagi," kata Putri memegang pundakku.


"Semangat apa? Mati iya," jawabku kesal.


"Udah udah, dengan suasana hatimu yang lagi gudah gulana seperti ini, kamu harus melakukan olahraga ekstrim untuk menghilangkan rasa sakit di hati," ujar Lusi.


"Hmmm... terserah kalianlah, sudah terlanjur di daftarkan," jawabku manyun.


"Baiklah perlombaan di mulai, untuk pertama lari jarak dekat," Ujar pembawa acara.


Aku melihat Lisa ikut turun kelapangan dan mengambil posisi, sepertinya dia ikut perlombaan ini.


Lihat nanti dia dapat juara berapa? Haish... kenapa malah seperti perlombaan nerebut cinta.


Mulai.


Para peserta lari berlomba-lomba menuju garis finis.


"Hehehe... ternyata dia juara kodok," batinku tersenyum sinis. Alias ngak dapat juara apapun.


"Sekarang peserta lari jarak jauh silakan turuk kelapangan," ujar pembawa acara tersebut. Aku melangkah dengan mantap meskipun aku tidak sekuat tenaga orang, setidaknya aku juga sering lari.


Siap.


Aku bersiap-siap. "Oke! Jangan pikirkan apapun, tenang dan fokus," batinku dalam hati.


Mulai.


Aku meringankan kakiku berlari dengan kekuatanku. Aku tidak punya kesempatan untuk melirik kiri dan kanan meskipun aku mendengar Lusi dan Putri bersorak menyemangatiku.


Dan...


"Aaaaaa...," aku menjerit di saat dekatnya garis finis ada seorang yang berdampingi denganku dan...


Kami berdua bersamaan menginjak garis finis. Sayangnya setelah di lihat dari foto, ternyata aku dapat juara dua karena terlambat 2 cm dari garis finis.


Lusi dan putri meneriakiku dan melompat kegirangan, menjerit-jerit namaku. Yang menangkan aku, kok mereka yang senang, hadiahnya juga bukan punya mereka.


"Laras, selamat... nanti malam kamu harus teraktir kami atas kemenanganmu," Teriak Lusi.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2