Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Mengajak belanja ke mall


__ADS_3

"Apa tidak percaya?" Tanya Riko mengangkat alisnya.


"Mana mungkin? Kalian berdua sengaja bersekongkol untuk mengelabuiku 'kan?" Tanyanya dengan nada tinggi.


Wani mendekati istri pak Daren. "Buk, dia beneran Riko anak pak Kim orang terkaya di kota ini, ini foto dan bio datanya," ujar Wani memperlihatkan layar ponselnya kepada istri Daren.


Istri Daren ternganga menutup mulutnya, ia sangat malu pelan-pelan menundukkan kepala dan menutup wajah dengan tangannya.


"Tuan muda Riko, saya dan istri saya benar-benar minta maaf, ini semua hanya salah paham saja," ujar pak Daren ketakutan.


"Oh salah paham? Mengatakan tunanganku plakor itu salah paham?" Riko mengintrogasi kedua suami istri itu. Daren dan istrinya menundukkan kepala ketakutan.


"I-iya, ini hanya salah paham karena istri saya salah menganggap, sebenarnya ini salah saya dan sekali lagi kami minta maaf," ujarnya tak berani menatap Riko.


"Asal kalian tau, tidak ada yang boleh mengataimya kecuali aku," ujarnya dengan bangga. Aku langsung menatapnya, apa maksud ucapannya hanya dia yang boleh mengataiku?


"I-iya Tuan muda, kami minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi," jawab Daren gagap.


"Kalau minta maaf berlaku, untuk apa ada kantor polisi," ujar Riko meremehkan.


"Ta-tapi Tuan muda, sesama manusia harus saling maaf memaafkan," jawabnya menggurui meskipun dengan tangan yang gemetaran.


"Baiklah, bagaimana jika aku membunuhmu dulu untuk menghilangkan rasa sakit hatiku, setelah itu baru aku meminta maaf," Riko tersenyum licik.


Daren langsung berlutut dan tak lupa menarik istrinya untuk segera berlutut. "Tuan muda terserah Anda mau minta apa pun sebagai kompensasinya, asalkan Tuan muda melepaskan saya dan istri saya," ujar pak Daren memohon.


"Haiss... jika begini aku malah terlihat seperti penjahat," ujar Riko melihat sekeliling ruangan. "Ingan jangan ada yang merekam, jika ketahuan merekam dan mengunggah di media sosial, aku akan tuntut kalian," ancam Riko melihat kesemua kariyawan yang ada di situ. Mereka pun segera menyembunyikan ponselnya.


"Kompensasi apa ya? Oh ya terserah dengan Laras dia mau minta apa, kamu mau apa? Mobil sport keluaran terbaru? Rumah? Apartemen? Perusahaan ini? Dan terserah kamu dan sesuka kamu mau apa," ujar Riko memegang pundakku, aku menatap sayu ke arahnya, jika ku ambil perusahaannya ini jelas saja mereka jadi gelandangan dan lihatlah wajah mereka ternganga dengan wajah pucat begitu, jika ada lalat lewat sudah masuk ke dalam mulut mereka.


"Tuan muda, tolong jangan ambil perusahaan ini, ini adalah satu-satunya harta kami, jika perusahaan ini tidak ada, kami mau makan apa?" ujar Daren menangis sambil bersujud beberapa kali.


"Jika aku tidak datang mungkin saja istrimu terus memaki dan mempersulit tunanganku," ujar Riko merangkul pundakku.


"Saya minta maaf," ujar Istri Daren pelan dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudahlah, aku tidak suka mempersulit orang, hanya orang yang sering mempersulitku, minta maaf dengan tulus saja sudah cukup," jawabku tak tega.


"Sebagai kompensasinya adalah Laras adalah kalian harus menjadi pendukung setia pemegangan proyekku nanti dan aku adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini, jika proyekku berhasil akan aku kembalikan lagi, dan kalian bisa memilih tidak mengikutiku tapi aku tidak yakin perusahaan ini akan bertahan lama," ancam Riko secara halus.


"Baik Tuan muda, kehormatan saya jika bisa bekerja sama dengan Tuan muda, saya sangat lama ingin bekerja sama dengan perusahaan ayah Anda, bisa Anda menopang perusahaan saya, saya bisa yakin perusahaan ini bisa tambah maju," ujar pak Daren bangun dan menggengam tangan Riko.


"Jika kamu berkhianat, perusahaan kamu ini bisa saja bangkrut sekejap mata," ancam Riko tersenyum licik.


"Tidak akan Tuan muda, kami akan setia dengan Anda, dan Anda jangan khawatir tentang ini," ujar Daren kesenangan.


"Tapi biarkan tunanganku meminta sesuatu dengan istri Anda," ijar Riko melihat ke arahku. Aku melihat istri pak Daren tertunduk lesu dan ketakutan.


"Bagaimana jika aku mencacimu balik?" Tanyaku mendekatinya.


"Ter-se-rah Nona sa-ja," jawabnya terbata-bata. Aku tertawa kecil.


"Sudahlah, Aku hanya bohong, ayo berdiri Buk," ujarku kepada istri pak Daren dan berusaha membangunkannya.


"Kamu sungguh baik hati, padahal aku sudah mencacimu tadi dan kau memaafkanku begitu saja, aku jadi malu sekali," ujarnya menundukkan kepala.


"Iya, aku minta maaf sekali karena sudah buruk sangka, tunanganmu saja orang terkaya di kota ini bagaimana mungkin kamu bisa suka dengan suami saya yang hanya punya perusahaan kecil ini, sekali lagi Ibu minta maaf Ibu salah menyalahkan kamu," ujar istri pak Daren sungguh-sungguh.


"Udah ngak apa-apa, dan saya ingin pulang dulu, besok baru aku lanjutkan mendesainkannya," ujarku mengambil tasku.


"Oh baiklah, silakan Tuan muda, Nona," ujar pak Daren sopan. Riko dan aku mengangguk melangkahkan kaki ingin keluar.


Tiba-tiba aku berhenti dan mengingat sesuatu. Aku mengambil kalung yang di berikan oleh Dirga tadi.


"Wani nih untukmu," aku melemparkan kalungnya kepada Wani dan Wani menyambutnya.


"Waww... thank you Laras," ucap Wani melihat kalung dengan suka cita. "Lho? Tapi aku seperti mengenalnya deh?" Pikir Wani.


"Kamu memberikan kepadanya?" ujar Dirga tak terima.


"Itukan sudah menjadi milikku, terserah aku mau ku apain," ujarku merasa tak bersalah.

__ADS_1


"Haisss... bukan begitu, aku rencana balapan lagi dan taruhannya kalung itu dan aku ingin mendapatkannya kembali," ujarnya mengaruk kepalanya dengan kencang sungguh dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Oh kamu balapan tadi?" tanya Riko membulatkan matanya ke arahku membuat aku takut.


"Eh... dia yang menantangku duluan," jawabku menunjuk Dirga.


"Tapi kamu menerimanya," sahut Dirga tak mau di salahkan.


"Bagaimana balapan denganku?" Tantang Riko.


"Aku ngak berani, dengan tunangan Anda saja aku kalah bagaimana jika dengan Anda?" ujar Dirga merendahkan diri.


"Ya sudah Wani, berikan kalung itu, besok aku akan bawakan hadiah untuk kalian semua," ujarku membuat mereka tertawa bersorak kesenangan.


"Waw Laras kamu baik banget, makasih banget," ujar Wani memelukku.


"Iya kamu baik banget, mengenalmu adalah berkah," puji Karen dan ikut memelukku.


"Wah orang kaya emang beda ya," ujar Angga menggeleng kepala.


"Kalian jangan berterima kasih kepadaku, tapi berterima kasihlah kepada bandar kita," kataku tersenyum sambil menunjuk ke arah Riko.


"Apa? Aku?" Tanya Riko menunjuk ke arah dirinya.


"Ya iya, aku mana ada uang," jawabku manyun.


"Ya udah deh ayo berangkat ke mall sekarang," ujar Riko.


"Horeeeeee...," teriak mereka dan mengambil tasnya masing-masing dan menuju kendara mereka.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2