Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Marah


__ADS_3

Setelah selesai mandi aku keluar dan masuk kamar berganti pakaian.


"Ayo makan dulu" ajak Ayah.


Aku hanya mengangguk setuju, dan langsung menuju dapur bersama Ayah.


Ayah menyajikan makanan untukku. Aku perlahan-lahan melahap makanan di piringku.


"Ada apa nduk? Cerita sama Ayah" tanya Ayah pelan, takut aku marah.


"Salahku yang tiba-tiba datang kerumah orangtuanya" kataku. Aku binggung mau menjelaskan dari mana dan bagaimana.


"Apa dia ada mengatakan sesuatu?" tanya Ayah lagi.


"Dia tidak menyetujui kami, padahalkan Aku bukan pacarnya, aku di bilang mengincar hartanya, tentu saja itu sangat menyebalkan"jelasku, karena binggung apa yang mau untukku ceritakan. Kami bukan pacar beneran, tapi kenapa sakit.


"Jadi apa Kamu mau menemuinya lagi?" tanya Ayah ragu-ragu.


"Tidak Ayah, biarlah aku ingin berkuliah dengan tenang seperti biasanya seperti dulu" jawabku menolak.


"Baiklah jika Riko datang kerumah Ayah akan mengusirnya" kata Ayah mantap.


"Terserah Ayah saja" jawabku tak bersemangat.


"Ayah sudah menelpon ke kampus jika hari ini Kamu sakit" kata Ayah lagi.


"Terima kasih Ayah".


"Ya sudah masuklah ke kamar beristirahat".


"Ya Ayah" aku menganggukan kepala dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarku.


Ku pejam mataku, jika di ingat-ingat kejadian tadi malam sungguh menyakitkan hati.Aku bahkan nampak seperti orang sedang putus cinta, tapi siapa pacarnya?


Aku tertidur karena lelah menagis, tak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar, aku bangun ingin melihat siapa yang datang, semoga saja bukan Riko.


Untunglah yang datang Lusi dan Putri menjengukku karena tidak ke kampus hari ini.


"Laras" panggil Lusi.


"Ya kalian datang" jawabku dengan suara lemas.


"Ya, kata dosen Kamu sakit, makanya kami langsung kesini" kata Putri.


"Kamu sakit apa?" tanya Lusi khawatir.


"Pusing dan pilek deh kayaknya" kataku, sebenarnya hatiku yang sakit hingga menjalar ke kepala dan hidung.


"Kami tadi khawatir Laras, ngak biasanya kamu bolos gini, padahal jarang kamu sakit, kalo sakit ya begini mendadak" kata Lusi kasihan.


"Mau gimana sakitnya ngak kasih alarm sih" kataku becanda.


"Eh gimana sama Riko, ada kemajuan ngak kalian?" tanya lusi membuat aku teringat kejadian tadi malam.Tapi sebisa kukendalikan perasaanku.


"Ada" jawabku tersenyum.


"Apa tuh?" tanya Lusi mendekat karena penasaran.

__ADS_1


"Tidak akan pernah bertemu lagi" jawabku .


"Yeee...itu bukan kemajuan, tapi kemunduran" kata Lusi kecewa.


"Tapi kenapa bisa kayak gitu?" tanya Lusi penasaran.


"Karena aku sudah tak behutang apapun lagi" kataku ceria.


Aku, Lusi dan Putri bercanda tertawa membuat hati merasa lega. Teman dan orangtua adalah rumah ternyaman.


Hatiku terhibur oleh mereka, dan pada akhirnya mereka harus pulang juga. Rasanya sedih ketika mereka mengatakan perpisahan.


"Kami pulang ya Laras cepat sembuh, tadi ngak sempat membawakan apa-apa kalau udah sembuh kasih tau aja biar aku yang teraktir sampai perutmu buncit" kata Lusi dan putri.


"Ya kalian hati-hati sampai jumpa lagi" kataku melambaikan tangan ,tak rela mereka pergi.


Mereka menghidupkan motornya dan pergi menjauhi rumahku. Aku langsung masuk kamar karena badanku masih lemas.


Tak berapa lama terdengar suara seperti gaduhan, mendengar itu Aku pergi keluar.


Aku melihat Riko yang sedang memohon dengan Ayah ingin bertemu denganku.


"Aku mohon Ayah, izinkan aku menemui Laras sekali ini saja" kata Riko memohon.


"Maaf Riko, Ayah tak bisa membiarkan ini terjadi lagi. Laras adalah anak Ayah satu-satunya. Ayah tak mungkin tega melihat ia tersakiti, Ayah sudah mempercayaimu untuk menjaganya, tapi kekecewaan yang Ayah dapatkan" jelas Ayah.


"Tapi Ayah, aku mohon Biarkan aku bertemu dengannya, aku yakin ia pasti ingin menemuiku" kata Riko memohon.


"Justru Laras tak ingin menemuimu, Riko" kata Ayah.


"Lebih baik kamu pulanglah dulu, biarkan Laras menenangkan dirinya" kata Ayah memberi nasehat.


"Apa kamu memang tidak mau menemui Riko?" tanya Ayah kepadaku.


"Tidak Ayah, aku harus menjauhinya sebisa mungkin" kataku.


"Baiklah kalau begitu, istirahatlah yang cukup" kata Ayah memegang kepalaku dan pergi.


Aku hanya mengangguk, menarik selimut dan memainkan ponsel, jika di ingat-ingat lagi pasti sakit, lebih baik aku maen game saja.


Tanpa kusadari aku tertidur. Dan ketika bangun sudah jam 06:30.


Aku kaget ketika melihat jam, setengah jam lagi akan terlambat. Aku langsung cepat-cepat mandi dan menyambar tas langsung pergi tanpa berpamitan dengan Ayah.


Aku menyetop taksi dan bergegas masuk ke dalam taksi.



Tak lama sampailah di kampus.


Riko langsung menghampiriku.


"Laras...Laras tunggu Laras dengarkan Aku" kata Riko mengejarku. Aku terus berjalan tanpa mendengarkannya.


"Laras" katanya memegang tanganku. Aku menatap tajam matanya.


"Kenapa?"jawabku santai.

__ADS_1


"Maaf, apa yang terjadi kemaren"kata Riko berharap.


"Maaf kenapa, Kamu tidak melakukan kesalahan apapun"jawabku tersenyum.


"Maaf karena perkataan Ayahku menyakitimu" kata Riko bersalah.


"Dari awal kita memang bukan pasangan, perkataan Ayahmu tak berarti apa-apa bagiku, jadi jangan merasa bersalah" kataku melangkahkan kaki meninggalkan Riko.


"Tapi Laras..."kata Riko terpotong.


"Cukup Riko Kita sudah impas, jadi aku mohon jangan mengangguku lagi" kataku mengakhiri pembicaraan. Aku tak mau semakin berlarut-larut.


Aku mengabaikannya.


Ketika pulang Riko masih menungguku.


"Laras aku anterin pulang" kata Riko menawarkan diri.


"Maaf Riko, sepertinya Kita harus kembali di kehidupan kita seperti dulu lagi, dan ada apa denganmu? Dari awal sampai sekarang kita bukan pasangan" jelasku mencoba tersenyum.


Riko terdiam, memang dari awal pertemuan kami hanya kesalahan,hingga menjadi seperti ini, juga kesalahan.


"Maaf laras, ini kesalahanku, Aku tak bisa mengatakan apapun lagi, apa yang harusku bayar sebagai kompensasinya?"kat Riko bersalah.


"Ya Aku memintanya"kataku serius.


"katakan"kata Riko menantikan.


"Menjauhlah dariku"kataku menatap matanya.


"Laras, apa tidak ada permintaan lain?"kata Riko memegang tanganku.


"Cukup Riko Aku muak dengan ini semua, Aku lelah"teriakku menghempaskan gengaman tangannya.Dan pergi meninggalkan Riko tsrdia mematung.


Aku pergi dengan deraian air mata.Berlari dengan kaki keadaan sakit.Itu tidak lah penting asalkan dadaku jangan sesak lagi.


"Laras Kamu kenapa?"tanya Putri heran.


"Eh ngak papa Put, kaki ku keseleo,bisa antarkan Aku pulang?".


"Eh ayo"Putri membantuku naik di atas motor,dan cepat-cepat ia menaiki motornya agar Aku tak jatuh.


Putri mengstaterkan motornya dan menuju kearah rumahku.


"kapan keseleonya Laras"tanya Putri.


"kemarin malam"jawabku.


"udah di urut?"tanyanya lagi.


"belom"jawabku.


"Aku antar ya, dari pada tambah parah,lagian kenapa ngak langsung pergi urut aja?"tanya putri mencemaskanku.


"kemaren Ayah mengajakku,tapi Aku bilang udah ngak sakit, Ayah udah terlalu lelah mengurus hidupku Put,seharusnya Aku tidak membebaninya lagi"kataku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK


THANK YOU😊


__ADS_2