
"Iya," kata bibi langsung lari kedapur.
"Ini Tuan muda," bibi menyerahkan kepada Riko dan Riko memberikan kepadaku. Tanganku masih gemetaran memegang gelasnya.
"Ya sudah biar aku yang pegang gelasnya, kamu minum ya," kata Riko. Aku meminum sampai habis.
Tak lama ayah sampai depan rumah bersama Rino.
"Laras, apa kamu baik-baik saja?" Tanya ayah khawatir.
Aku hanya mengangguk pelan.
Meskipun ayah tau aku tidak baik-baik saja, tapi ayah memilih diam dan tidak banyak bicara.
Aku diam dengan tatapan kosong. Aku juga sudah biasa melihat orang kecelakaan, tapi ini pertama kali kecelakaan di depan mataku.
"Ayah, biarkan Laras istirahat dulu ya," kata Riko kepada ayah.
"Ya Riko, bawa dia istirahat, Ayah juga akan pulang, Ayah tadinya khawatir sekali, semoga Laras cepat melupakannya," kata ayah berpamitan.
"Ya Ayah, hati-hati, Rino bawa pelan-pelan saja," nasehat Riko.
"Iya," jawab Rino dan mereka pulang.
Riko membawaku masuk kamar dan membaringkanku kekasur lalu menyelimutiku.
Riko memelukku dan menengkanku.
"Kamu jangan pikirkan lagi ya, semua akan baik-baik saja, kamu tidur yang nyenyak dan lupakan sesuatu yang ingin kamu lupakan," kata Riko, ucapannya seperti menghipnotisku.
Aku memejamkan mataku dan tertidur.
xxx
Pagi yang cerah dan suara kokokan ayam bersahutan suara burung berdecit. Aku membuka mataku.
Krucuk...
Krucuk...
Cacing berdendang di dalam perut memberi alarm.
Aku melihat Riko tidur di sampingku.
"Ngapain dia tidur bersamaku," kataku tak terima.
"Bangun, ngapain kamu tidur di sini," tegasku.
"Kamu udah bangun, sepertinya kamu kembali keasalmu," katanya membuat aku bingung.
"Keasal? Maksud kamu apa?" Tanyaku tak mengerti.
"Udah ngak apa-apa, cium dulu muuuu...,"
Aku mendorong mulutnya yang panjang 10 cm yang ingin menciumku.
"Apa-apaan kamu, berani menciumku kutampol mulutmu sampai bengkak," ujarku membulatkan mata.
__ADS_1
"Iya... iya... ngak main-main lagi, tadi aku mendengar suara perut tapi seperti gempa, hampir saja aku jatuh dari tempat tidur," katanya bercanda.
"Kamu bilang apaaa...,"
Buuk.
"Bibi masak apa?" Tanyaku turun kebawah mencium bau yang sangat enak. Sedangkan Riko turun kebawah dengan memegang pipinya.
"Masak ayam goreng bumbu, nasi goreng spesial dan steak ayam, ayo di makan sekarang," ajak bibi.
"Iya Bi, terima kasih," ujarku kemudian mengambil nasi goreng dan melahapnya.
"Tuan muda Riko kenapa?" Tanya bibi melihat Riko memegang pipinya.
"Dia berani tidur denganku ya kugebukinlah," jawabku kesal.
"Oh begitu ya," kata bibi melihat kearah Riko yang meletakan jari telunjuk dimulutnya memberi kode jangan memberitahuku.
Tintin...
Tintin...
Tintin...
"Halo Tante," jawab Riko.
"Riko, datang kerumah sekarang," perintah Tante Lisa.
"Ada apa Tante?" Tanya Riko lagi.
"Hasil test DNA-nya sudah keluar, jadi datanglah sekarang, kita berkumpul di sini" jawab Tante.
"Ayo Laras kita kerumah Tante Lisa sekarang, katanya test DNA-nya sudah keluar," kata Riko.
"Baiklah, ayo," kataku langsung meneguk air di gelas.
"Kami pergi dulu ya bi," kataku melambaikan tangan.
Sesampainya di rumah Tante Lisa, di sana sudah ada tante Lisa, mama Riko, Rino, Mona, ibunya Mona, Ayah, Deval, Vina, Tante dan Om yang lainnya.
"Laras datang juga?" Tanya mama Riko senang melihatku.
"Kamu baik-baik saja Laras?" Tanya Ayah.
"Ya, aku baik-baik saja Ayah," kataku mengangguk.
"Ayo duduk di samping Mama," ajak mama Riko.
"Ya Ma," kataku dan duduk di samping mama Riko dan Riko duduk di sampingku.
"Oke, semuanya sudah di sini, kecuali Papa Riko, dia sedang ada Meeting di kantor jadi tak bisa hadir," kata tante Lisa sambil membuka map coklat dan mengeluarkan selembar kertas.
"Mari kita lihat hasilnya," kata Tante penuh misteri.
Tante terdiam sejenak lalu menutup mulutnya dengan mata terbelalak.
"Ada apa Ma?" Tanya Rino penasaran hasilnya.
__ADS_1
Tante menyerahkan hasil test kepada Rino dan Rino melihat dengan wajah tersenyum.
"Ini hasilnya," kata Rino merentangkan kertas kepada kami semua.
0,01% kecocokan antara ayah dan anak.
"Jadi ini anak siapa?" Tanya mama Riko.
Mona menangis sesengukan.
"Ini pasti bohong, ini pasti rekayasa kaliankan? Kalian tidak mau bertanggung jawab, dan kalian bekerja sama dengan dokter palsu itu," bentak mama Mona mengebrak meja.
"Kamu jangan buat masalah di rumah ini, dan ini bukan rekayasa," ujar tante Lisa marah.
"Kalian semua bohong, ini kertas palsu, Rino ayo bertanggung jawab, setelah kau menodai Mona dan kau ingin meninggalkan dia? Laki-laki macam apa kamu," ujar mama Mona murka.
"Aku tidak melakukan apapun dengannya Tante," sanggah Rino.
Mona masih menangis dengan menutup matanya.
"Lalu kenapa Mona bisa hamil dan ini pasti anakmu Rino, ayo bertanggung jawab, kamu jangan mengelak lagi," kata mama Mona menarik-narik Rino.
"Cukup, apa perlu kita kembali mengtest DNA-nya lagi?" Tanya tante Lisa.
Setelah berdebat panjang akhirnya ibu Mona langsung menanyakan kepada Mona.
"Sekarang kamu jujur Mona, anak siapa di perutmu?" Bentak ibu Mona.
Dengan suara yang hampir hilang ia berkata. " Sebenarnya... ini... anak Doni," jujur Mona membuat aku dan semua yang ada di ruangan melongo.
"Doni? Apa dia jurusan kesenian?" Tanyaku tak percaya.
Mona mengangguk pelan.
Aku menutup mulutku karena tak percaya, orang sebaik itu rasanya mana mungkin melakukan hal kotor seperti itu. Ini membuatku sangat geram.
"Tu, laki-laki yang kamu kejar dulu, seperti itu rupanya," ejek Riko membisikkan di telingaku.
Apa benar Doni melakukannya? Rasanya maaih belum percaya, pantesan selama ini mereka dekat.
"Mona, jawab dengan jujur, sewaktu perayaan kami di kampus, aku tak sengaja melihat kamu dan Doni berdua di belakang kampus, dia ingin menamparmu, apa yang terjadi?" Tanyaku serius.
Mona menggelegkan kepala dan tak ingin menjawabnya.
"Mona! Ayo jujur," ujarku dengan nada tinggi.
"Waktu itu... waktu itu dia tak mau tanggung jawab anak ini, dia belum siap menjadi Ayah dan dia masih ingin berkuliah dengan tenang tanpa beban," jelas Mona dengan terbata-bata.
"Kenapa kamu sampai melakukan hal seperti itu dengannya?" Tanyaku lagi, tambah membuat aku penasaran.
"Aku... aku sangat mencintainya dan aku percaya dengan janji manisnya, apapun yang terjadi dia akan bertanggung jawab dan aku menyerah segalanya," ujar Mona menangis.
"Lalu kenapa memintaku mempertanggung jawabkan anaknya?" Rino bertanya tak terima.
"Aku... aku bingung, aku malu jika bayi ini lahir tanpa Ayah, aku sangat takut, aku tak bisa berpikir jernih dan aku sempat mengugurkan anak ini, tapi ia tak bisa di gugurkan, setidaknya ada Ayah pengganti untuk bayi ini," jelas Mona sesenggukan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH