Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Musibah warung Ayah


__ADS_3

Sesampai di mall, mereka berhamburan masuk dan berpencar kesana dan kemari mencari baju dan lainnya.


Aku juga mencari sesuatu untuk Putri dan Lusi. Aku melihat mereka bersemangat banget belanjanya. Setelah selesai mereka berkumpul untuk di bayarkan.


"Laras, sampaikan tanda terima kasihku kepada Riko, dia sangat baik, kamu juga," ucap Wani menyenggolku.


"Iya," jawabku tersenyum.


"Terima kasih daun keladi, kapan-kapan traktir lagi," ujar Angga tersenyum malu-malu kepada Riko.


"Lain kali jika proyekku berjalan lancar dan pimpinan kalian tidak berkhianat," ujar Riko.


"Akan aku pastikan dan ku pantau terus pak Daren agar dia tidak melirik perusahaan lain," ujar Angga tegas.


"Baik, aku percaya padamu," kata Riko merangkul Angga. Angga mengangguk-angguk.


Setelah selesai kami pulang kerumah tapi kariyawan pak Daren kembali ke katornya.


Saat sampai di rumah aku menghempaskan tubuhku di sofa.


Tring ring...


Tring ring...


Ponselku berbunyi dan segera aku mengangkatnya.


"Halo Yah," jawabku.


"Laras, warung Ayah di acak-acak orang," ujar ayah membuatku kaget.


"Apa? Lho kenapa bisa Yah?" Tanyaku khawatir.


"Ngak tau siapa yang melakukannya? Ayah tadi pulang sebentar dan Ayah tutup dulu, pas Ayah datang lagi semuanya tumpah dan kursinya ada yang patah, semuanya udah ngak ada yang utuh lagi," ujar Ayah sedih.


"Ya udah aku kesana sekarang," ujarku dan segera menelpon Riko.

__ADS_1


"Riko, ayo ketempat Ayah sekarang, dagangannya di acak-acak orang," kataku lewat telpon.


"Oke oke," ujar Riko menutup panggilannya dan langsung masuk mobil. Aku juga masuk mobil dan melaju menuju tempat ayah berjualan.


Sesampainya di sana semuanya berantakan. Tak lama Riko sampai dan cepat-cepat ia keluar dari mobilnya berlari menuju ke arah menuju warung ayah.


"Kenapa bisa begini Ayah?" Tanya Riko melihat sekeliling.


"Ngak tau pas Ayah datang semuanya sudah begini," ujar Ayah duduk di kursi yang masih utuh.


"Kurang ajar orang itu, jika kedapatan siapa dia akan ku habisi dia," ujar Riko geram mengenggam tangannya.


Riko menelpon beberapa pengawal papanya untuk membantu membereskan barangan yang berantakan dan juga menelpon toko prabot untuk menyediakan kursi baru untuk tempat duduk pembeli. Ia juga menelpon toko elektronik dan memesan beberapa cctv untuk di pasang di dalam dan di luar warung.


"Ayah lain kali cari pegawai aja beberapa orang untuk bantu Ayah, 'kan bakso Ayah laris terus," ujarku mengusap bahu ayah.


"Ya Ayah, biar Ayah juga tidak terlalu capek," sambung Riko setelah ia menelpon.


"Ya sudahlah, terserah kalian saja," ucap ayah pasrah.


Tak lama pengawal papa Riko datang dan langsung membantu membersihkan warung Ayah dan pengantaran cctv dari toko elektronik dan langsung memasangnya sesuai intruksi Riko dan toko prabot juga sudah datang mengantarkan kursi dan meja pesanan Riko.


Sesampainya di rumah baru saja Riko mau duduk tiba-tiba telponnya berdering dan itu telpon dari papanya.


"Ya Pa ada apa?" Tanya Riko.


"Kamu sekarang kerumah Papa, kita akan membahas masalah proyek yang akan kamu pegang dan siapa saja ikut kerja sama dalam proyek ini," jawab pak Kim.


"Oke Pa, aku kesana sekarang kebetulan aku di rumah Laras, Ayah habis kena musibah," ujar Riko memberi tahu.


"Musibah apa?" Tanya pak Kim heran.


"Warungnya tadi habis di acak-acak orang yang tak di kenal," jawab Riko.


"Ya sudah Papa yang ke sana," ujar pak Kim mematikan panggilannya dan langsung pergi.

__ADS_1


Pak Kim datang kerumah ayah dan ayah berdiri ketika melihat pak Kim datang.


"Ayo masuk Kim," ujar ayah mempersilakan. Pak Kim mengangguk dan duduk di samping Riko.


"Apa yang terjadi dengan warungmu Jhoni?" Tanya pak Kim.


"Ada sedikit masalah dan tidak tau siapa yang telah mengacak-acak warungku itu," ujar ayah lesu.


"Pa 'kan Papa punya detektif khusus biarkan mereka menyelidikinya," saran Riko.


Pak Kim mengangguk setuju. "Baiklah akan Papa kasih tau segera dengan Arep untuk menyelidikinya."


"Tidak usah Kim, Riko tadi sudah banyak membantu itu saja sudah cukup, kamu sibuk saja dengan pekerjaanmu, jangan merepotkanmu lagi," tolak ayah.


"Udahlah kita 'kan teman sekaligus besanan tentu saja kita keluarga, dan saya ikhlas ingin membantumu," pujuk pak Kim. Wajahku langsung merona ketika pak Kim bilang mereka adalah besanan dan aku segera ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Jika begitu terserah kamu sajalah," ujar ayah ngalah.


"Tapi sebelumnya saya ada perlu dengan Riko untuk membahas masalah proyek yang harus ia handle sendiri," jelas pak Kim.


"Ya ya ya silakan silakan," ujar ayah dan aku datang dari dapur membawakan 3 gelas kopi mocca dan meletakkan di meja.


Pak Kim memberi arahan kepada Riko tentang proyek yang akan di bangun dan beberapa perusahaan yang akan ikut kerja sama. Ada dari perusahaan Swi Arm, perusahaan FAn BX, perusahaan Dewi Lestari, perusahaan AmaN, perusahaan JB, perusahaan Gilang geming dan lain-lain. Semua berjumlah 10 perusahaan yang ikut serta, Riko adalah pemodal terbesar atas proyek tersebut.


"Kemungkinan beberapa hari lagi kita akan melakukan rapat kantor perusahaan dan kamu Laras besok ikut ya," ajak pak Kim.


"Apa? Aku? Kenapa aku harus ikut?" Tanyaku kaget dan menunjukkan ke arahku.


"Kamu jurusan disainerkan? Jadi kamu harus ikut untuk mendesain proyek ini," ujar pak Kim serius.


"Ta-tapi aku masih pemula Pa," ujarku gagap karena ini adalah proyek besar.


"Udah ngak apa-apa kamu sekalian belajar juga dan kamu juga jadi sekretaris Riko, dari sekaranglah kalian belajar dan membangun perusahaan sendiri biar Papa tenang jika perusahaan itu Papa serahkan kepada Riko," ujar pak Kim memberi kepercayaan kepadaku. Aku benar-benar gugup bagaimana mungkin aku hanya orang biasa sekarang bisa ikut serta dalam proyek terbesar ini, bagaimana aku bisa menghadapi orang-orang besar nanti.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH


__ADS_2