
"Apa berhenti" bentakku.
"Iya... iya... kirain sedih terus, ternyata udah bisa marah" ujarnya kembali memelankan mobilnya.
"Kamu kenal Riko dari mana?" tanyaku.
"Oh, kami sepupuan" jawabnya.
"Oh, pantesan pas pertama sekali kenal, nama kalian begitu mirip" ucapku.
"Itu karena awalnya Ibu ingin memberi nama Riko untukku, tapi Riko nongol duluan, jadi dia duluan di beri nama Riko oleh tante, jadi biar berdekatan Ibu memberi namaku Rino" jelas Rino.
"Oh jadi pak Kim adalah pamanmu?" tanyaku mengangkat alis.
"Iya, maaf tadi ngak bisa bantu kamu, aku tau tadi sangat menyakitkan, dan Riko juga tak bisa berbuat apa-apa" kata Rino merasa bersalah.
"Ngak apa-apa, ini adalah sesuatu yang harus di tanggung jika menyukai yang bukan milik kita" ujarku tersenyum.
"Kamu juga menyukainya?" Tanya Rino penasaran.
"Entahlah aku juga bingung dengan perasaanku, karena dari awal kami hanya berantam terus, aneh jika tiba-tiba suka" jawabku mengangkat bahu.
"Apa kamu mengetahuinya jika Riko akan di jodohkan dengan anak teman lamanya?" tanyanya lagi.
"Sudah" jawabku kembali bersedih.
"Eh, maaf jika membuatmu sedih, aku hanya mengujimu, setidaknya aku tau jika kau sekarang benar-benar menyukainya sekarang"kata Rino menjelaskan.
"Oke saatnya melajuuuuu..." kata Rino melajukan mobilnya.
"Rino berhenti" teriakku.
Rino memelankan Mobilnya dan berhenti suatu tempat.
"Ayo turun" ajak Rino.
Aku langsung turun, ketika melihat tempat yang menurutku sangat menenangkan
Pantai.
"Rino makasih ya, udah bawa aku di sini" kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Suka?" tanyanya melihat ke arahku sambil tersenyum.
"Suka banget" kataku hampir saja menangis.
Aku mengengam erat tanganku. Melepasakan lelah yang ada.
"Jika kamu ingin menangis, berteriak sepuasmu, maka lakukanlah, biar beban yang di pundakmu hilang" ujar Rino menyarankanku.
Aku duduk di pantai, kubiarkan air membasahi tubuhku, menatap langit yang sangat indah, membuat aku ingin berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... Tuhan jangan biarkan Ayah ku bersedih karenaku, biarku tanggung semua beban karena kesalahankuuuuuuu" teriakku sepuasnya.
Tiba-tiba Rino menghampiriku.
"Nih" Rino mengulurkan batu es.
"Untuk apa?" Tanyaku heran
"Pipimu merah" katanya menunjuk kearah pipiku.
Aku baru menyadari karena dari tadi Rino membuat melupakkan kejadian tadi.
__ADS_1
"Papamu kerja apa?" tanya Rino sambil mempotret langit yang indah.
"Jualan bakso keliling, kenapa?" tanyaku balik.
"Pindah propesi ajalah" katanya.
"Jadi apa?" tanyaku sambil menatapnya.
"Jadi Fotografer aja, biar kamu jadi modelnya, Sini kufotoin kamu pasti pas jadi modelnya" katanya mengarahkan kameranya ke arahku.
Aku pun tersenyum ketika Rino mengambil fotoku, ia langsung mengupload di media sosialnya.
"Wih langsung ada yang ngelike nih" katanya seneng.
"Liat sini" kataku, dan Rino mengulurkan ponselnya.
"Modelku manis di pantai"
"Ih, hapuslah, jelek banget" kataku mencoba untuk menghapusnya, namun di sambar oleh Rino.
"Jangan donk, jarang-jarang ada yang jadi modelku" katanya melihat-lihat statusnya.
"Banyak yang ngantri" kataku.
"Iya, tapi sangat sulit nyari model sepertimu" katanya lagi.
"Bukannya kamu hobi balapan?" Tanyaku heran.
"Iya, jadi model di mobil balapanku, biar banyak pendukungku" jawabnya.
Aku mencibirkan bibirku.
Aku dan Rino ngobrol membuat aku lupa jika tadinya aku di sakiti. Rino juga bisa mencari bahan cerita sesekali aku tertawa lepas, Rino juga senang melihatku.
"Sungguh tak rela meninggalkan pantai yang indah ini
"Udah, kapanpun kamu mau aku akan membawamu kesini" kata Rino.
"Janji ya, kalo ingkar jangan pernah mengenalku lagi" kataku mengancam.
"Iya" jawabnya sambil berdiri.
Kami berdua menuju mobilnya dan Rino langsung melajukan mobilnya.
"Alamat?" tanyanya singkat
"Jalan suka ramai" jawabku.
Akhirnya sampai di rumahku.
"Ya udah aku pulang dulu" ujarnya.
"Ya hati-hati" ucapku.
Rino langsung melajukan mobilnya pergi meninggalkanku sendiri.
"Laras" panggil Ayah.
"Ya Ayah" jawabku.
SeketikaAyah terdiam seperti melihat sesuatu.
__ADS_1
"Bajumu basah gini, terus kenapa pipimu bengkak?" Tanya Ayah memegang pipiku.
"Kamu kenapa?" Tanya Ayah lagi.
"Aku ngak kenapa-napa Yah" jawabku agar dia tidak khawatir.
"Jangan bohong sama Ayah, kamu harus jujur" kata Ayah tegas.
"Ya Ayah, tapi aku mau mandi dulu, bajuku pada badah semua" kataku menunjuk kearah bajuku.
"Ya sudah, habis itu makan" ujar Ayah.
Aku langsung menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.
Ketika aku keluar dari kamar mandi aku melihat Ayah memegang surat pengeluaranku dan Black list.
Aku langsung masuk kamar dan berganti pakaian, dan keluar melihat Ayah.
"Laras, ini maksudnya kamu di keluarin lagi dan kamu di larang masuk kampus manapun di kota ini?" Tanya Ayah membelalakkan matanya.
"Maaf Ayah" jawabku menundukan kepala merasa bersalah.
"Sini duduk dulu" ujar Ayah.
"Kenapa kamu bisa begini nduk, apa yang terjadi, kamu harus jujur dengan Ayah" kata Ayah serius.
"Maaf Ayah, aku juga ngak mau bikin Ayah susah, tapi ini di luar kendali kita, ini juga kesalahanku Ayah, jika Ayah marah, silakan marah sepuas Ayah, tapi aku mohon Ayah jangan membenciku" kataku langsung betekuk lutut di kaki Ayah.
"Ayah ngak marah sama kamu, coba katakan apa kesalan kamu?" Tanya Ayah memegang bahuku.
"Salahku mengenal Riko, tapi Ayah jangan memarahi dia, dia tidak salah Ayah, Aku yang salah" kataku sambil mendongakkan kepalaku.
"Maksudmu apa, Ayah tak mengerti, terus kenapa pipimu bengkak begini?" Tanya Ayah melihat pipiku.
"Di tampar Ayah Riko" jawabku pelan.
"Kurang ajar, biar Ayah datangi dia, apa dia pikir punya uang bisa seenaknya, yang berani menyakiti anakku dia adalah musuhku" Ayah langsung mau melangkahkan kakinya keluar untuk mencari Ayah Riko.
"Ayah jangan" teriakku sambil memegang tubuh Ayah yang sedang emosi.
"Lepaskan Ayah, Ayah ingin menghajarnya" teriak Ayah berusaha melepaskan peganganku.
"Ayah, aku mohon jangan, jika Ayah melabraknya Hidup kita akan hancur, aku udah terima apapun terjadi, aku udah ikhlas Ayah, aku mohon" teriakku sambil menangis.
Ayah langsung berhenti dan langsung memelukku.
"Kenapa Ayah jatuh miskin, jika Ayah masih kaya kayak dulu, hidup kamu pasti tidak akan jadi seperti ini, Ayah yang minta maaf, gara-gara Ayah miskin, kamu jadi di rendahi orang" kata Ayah menangis di pelukanku.
"Ayah tidak salah, Ayah justru sudah bersusah payah berjuang untuk menghidupiku, Ayah terima kasih, sudah menjadi Ayah yang baik, cukup sampai di sini Ayah bekerja mati-matian, aku akan mencari kerja, biar Ayah gantian di rumah" kataku sambil menangis tersedu-sedu.
"Kamu adalah satu-satunya Mutiara Ayah, bagaimana mungkin Ayah akan membiarkan orang lain menghancurkanmu" kata Ayah lagi.
Aku terdiam dan memeluk Ayah erat, Ayah menepuk pundakku.
"Sudah, sana istirahat"ujar Ayah.
Aku mengangguk, dan menuju kamarku.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN.
__ADS_1