Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Masalah kecil


__ADS_3

Sepertinya Lusi dan Putri sudah tak merasakan sakit lagi habis kecelakaan karena hati mereka saat ini sudah di penuhi bunga mawar, bunga melati, bunga kertas bunga janda bolong, bunga angrek, bunga kantil, bunga bangkai yang pastinya sudah cukup tujuh rupa bunga.


Baru saja aku memakan beberapa bagian kulihat di piring ludes habis.


Lusi, Radit, Putri dan Ari perutnya pada buncit kekenyangan. Kupikir aku yang paling rakus ternyata teman-temannku lebih parah.


"Ehem... aku pesan lagi untukmu ya," ujar Riko.


"Udah ngak apa, aku udah kenyang," jawabku tak berselera makan lagi.


"Sayang kamu tau ngak bedannya kamu sama bintang Holliwod?" Tanya Radit kepada Lusi.


"Ngak tau, emang apaan?" Tanya Lusi malu-malu.


"Kalo bintang Holliwod menghibur hati para penonton, kalo kamu menghibur hatiku," jawab Radit.


"Ayangggg, gemes deh," kata Lusi. Astaga mereka ini sudah menghabiskan makanan terus mesra-mesraan di sini, ingin rasanya aku mencampakkan mereka kebawah 7 lapisan bumi.


"Ayo sekarang pulang," ajak Radit.


Kami beranjak dari ruangan tersebut dan menyerahkan semua kekacauan tadi pada kariyawan Riko dan tak lupa Riko memberi mereka uang tips.


"Bagaimana? apa yang aku suruh tadi sudah kalian kerjakan?" Tanya Riko kepada pegawainya.


"Sebentar lagi Tuan muda sedikit lagi," jawab pegawainya buru-buru.


Aku dan Riko duduk di kursi menjelang laporan selesai. Sedangkan Lusi, Radit, Putri dan Ari...


"Ayo buka penutupnya," perintah Radit kepada pembawa hadiah.


"Tara...."


Lusi dan Putri kaget dan menutup mulut mereka karena kesenangan.


"Ini untuk kamu, abu-abu adalah warna kesukaanku biar kamu ingat terus," kata Adit duluan.-


"Beneran? Makasih," kata Putri memeluk Ari.


Hadiahnya adalah sebuah motor scupy kesukaan mereka berdua.


Aku melihat kearah Riko.


"Kamu mau juga, besok aku belikan yang lebih keren dari mereka," jawabnya peka.


"Tidak perlu, uang yang kamu kasih kemaren masih ada dan aku akan membelikannya esok," jawabku. Aku tak mau dia menganggapku cewek matre meskipun sudah menjadi tunangannya.


"Kamu baik banget sih," kata Lusi kepada Radit.


"Ayo peluk dulu," kata Radit merentangkan tangan.


"Orang berempat itu sungguh tak tau malu, di tempat orang ramai begini mereka berani peluk-pelukan," omelku.

__ADS_1


"Cinta itu buta, buta dengan situasi, buta dengan keadaan, buta dengan diri sendiri, karena cinta mereka rela mati, cuma kamu aja yang ngak cinta aku, tuh lihat mereka, berarti mereka itu saling mencintai," balas Riko.


"Bukan aku tidak mencintaimu, cuma cintaku ngak buta kayak mereka, cinta-cinta monyet," tukasku.


"Sana-sana minggir," kata salah satu pelanggan datang dan mengusir kami.


"Kamu siapa datang-datang ngusir orang," kata Riko.


"Aku adalah orang kaya, aku adalah pelanggan di sini, bahkan ini hotel seperti milikku, suatu saat nanti hotel ini akan aku beli," ujar orang itu sombong.


Riko memandang kearah kariyawannya. Kariyawannya takut dan mendatangi Riko.


"Maaf Tuan muda, tapi memang dia pelanggan tetap di sini," kata pegawai itu takut.


"Ya kamu taukan aku pelanggan tetap di sini, jadi jangan menghalangiku," kata pria itu.


"Apa beneran dia mau membeli hotel ini?" Tanya Riko kepada kariyawan tersebut.


"Iya aku ingin membelinya dan aku sanggup membelinya," jawab pria itu lagi dengan congaknya.


"Ya aku rasa juga begitu, hotel ini harus di jual karena kariyawannya pemalas," ujar Riko mengangguk- anggukan kepala.


"Jangan Tuan muda, jika hotel ini jatuh di tangannya nasib kami bagaimana?" Pegawai itu memohon.


"Kamu ingin membeli hotel ini?" Tanya Riko kepada pria itu.


"Kamu siapa? Ini bukan urusanmu anak kecil, dan orang sepertimu ngak sanggup beli," celetuk pria sombong itu.


Di saat ada pertengkaran Lusi, Radit, Putri dan Ari masih sibuk pacaran dan mereka tidak mengetauinya, Dasar teman yang tak setia.


"Apa? Mana mungkin bukankah ini milik pak Kim itu?" Tanya Maho tak percaya.


"Iya, dia adalah Riko, anak pemilik hotel ini, dan hotel ini sudah menjadi miliknya," jelas pegawai itu lagi.


"Oh ya... ehem... anu..."


"Kamu ingin membelikannyakan? Bagaimana kita negosiasi dulu, saya akan tawarkan dengan harga semua harta yang kamu miliki" ujar Riko menantang.


"Apa? Semua harta yang saya miliki? Kamu bercanda?" Tanya Maho membulatkan bola matanya.


"Ini adalah tempat yang strategis dan ada pemandangan laut juga, semua orang ingin membelinya, dan ada yang sudah menawar dengan harga tinggi sekali, namun tidak kami jual, dan kamu sudah menciut ketika aku menawar dengan semua hartamu, kamu niat beli ngak?" tukas Riko.


"Gila dengan semua hartaku, aku tidak akan datang kesini lagi," marahnya.


"Ya dan hotel kami ini tidak menerima orang sombong seperti kamu, jika ada orang seperti dia lagi langsung usir saja," tegas Riko.


"Baik Tuan muda," jawab pegawai tersebut.


Dan si Maho itu pergi dengan kesal.


"Apa sudah siap laporannya?" Tanya Riko kepada pegawainya.

__ADS_1


"Sudah Tuan muda, ini silakan di terima," kata Ratna menyerahkan laporan tersebut.


"Baiklah, aku akan mengeceknya di rumah, jika ada kesalahan aku akan membawa orang baru kesini," ancam Riko.


"Jangan Tuan muda, jangan bawa orang baru, kami masih mau bekerja di sini," ujar Ratna memohon.


Riko menarik tanganku keluar dari hotel, mereka masih saja sibuk pacarannya.


"Hey Riko... kenapa lama sekali?" Tanya Radit ketika melihat kami keluar.


"Teman macam apa kalian, ketika aku dapat masalah, kalian enakan bermesraan di sini," omel Riko.


"Masalah? Masalah apa?" Tanya mereka penasaran.


"Udahlah ayo pulang, di ceritakan percuma saja, udah selesai juga masalahnya," omel Riko dan langsung masuk mobil.


"Ayo masuk, kamu nunggu apa lagi," kata Riko yang masih melihatku berdiri.


"Iya... iya..." jawabku.


Dan kami pulang kerumah masing-masing.


"Kamu mau pulang kemana?" Tanya Riko.


"Kerumahku lah," jawabku.


"Jangan ya, bisa mati di cekik Ayah nanti," tawar Riko.


"Bodo amat, yang di cekikkan kamu bukan aku," ujarku masa bodoh.


"Ayah suka makan apa? Atau barang apa yang dia suka?" Tanya Riko ingin ngambil hati ayah.


"Pikirkan saja sendiri," jawabku.


Riko manyun dan kemudian memberhentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" Tanyaku heran.


"Beli sesuatu untuk Ayah, biar jangan tinggal arwah pas aku pulang," jawabnya menuju suatu toko.


----


Sampailah di rumahku.


"Ayah, apa kabar, pasti baik-baik ajakan, nih aku bawakan sesuatu, pasti Ayah suka deh," kata Riko tersenyum centil.


"Kamu... dasar anak nakal, apa yang kamu bawa itu?" Tanya Ayah, diam-diam juga penasaran.


"Yang pasti Ayah sangat menyukainya," jelas Riko.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA


TERIMA KASIH


__ADS_2