Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Sadar


__ADS_3

Aku diam tak menjawab, selama ini kenapa ia ngak peka? Kenapa sudah semakin rumit baru ia sadar?


Aku menangis sesengukan, apa aku yang terlalu cinta?


"Laras, aku mohon bukalah pintunya kita bicarakan baik-baik, aku benar-benar minta maaf, aku... aku... salah Laras, aku salah," ujar Riko mulai pelan memukul pintu toiletnya. Bahkan aku mendengar suara tangisnya meskipun pelan.


Aku harus gimana? Keluar atau tidak? jika membiarkannya dia menunggu, apa aku egois?


"Riko udah, pulang yuk," terdengar suara Lisa mengaja Riko pulang meski dengan suara kasihannya.


Perempuan itu lagi, dalam keadaan seperti ini dia masih saja mendekati Riko, apa dia tak lihat situasinya?


"Ayolah Riko, aki antar kamu pulang," ujarnya lagi.


"Dasar pelakor, apa kamu tidak lihat? Gara-kamu, hubungan mereka menjadi renggang, apa ngak sadar diri juga, perempuan macam apa kamu?" Kata Lusi mengeram.


"Iya, ngak sadar diri, pelakor itu lebih murahan dari wanita malam, dan itu kamu," maki Putri tak mau ketinggal.


"Hey... maksud kalian apa? Siapa pelakor? Aku orang yang terhormat, kalian itu wanita rendahan," balas Lisa.


Semua anak-anak kampus berkerumun melihat drama di toilet.


"Di mananya terhormat jika jadi pelakor?" Tanya Putri yang ingin menjambak rambut Lisa namun di tahan oleh Dita.


"Udah jangan bertengkar lagi," kata Dita.


Akhirnya aku keluar. Jika di biarkan masalah tambah panjang.


"Laras," Lirih Riko.


Aku keluar dengan mata sembab.


"Laras, aku minta maaf Laras, aku salah, aku mengabaikanmu, jika mau pukul, pukulah aku sepuasmu," ujar Riko memegang tanganku dan berlutut.


Aku melepaskan tangan Riko dari tanganku.

__ADS_1


"Ini adalah cincin pertunangan kami, ku harap kamu segera menjauhinya," ujarku memperlihatkan cincin di jariku kemudia pergi dari keramaian.


"Laras," panggil Riko yang mau mengejarku.


"Stop! Jangan mengejarnya. Dia tak butuh kamu sekarang, jangn sekali-kali membuat Laras tambah sakit hati lagi," ujar Lusi menatap tajam Riko.


Lusi dan Putri mengejarku.


"Ayo Laras, kita main-main dulu," ajak Putri merangkulku.


"Iya kamu jangan pulang dulu, nanti Ayah kamu malah khawatir," sambung Lusi.


Aku mengangguk pelan.


Akhirnya kami meninggalkan kampus. Lusi dan Putri malah membawaku tempat boxing.


"Di sini nih tempatnya Laras," ujar Lusi. Aku pikir mereka membawaku ketempat yang suasananya menenangkan .


"Kalian bawa aku kesini?" Tanyaku keheranan.


"Nanti kalo kami bawa kamu kepantai malah kamu bunuh diri menengelamkan dirimu," ujar Lusi.


"Aku ngak sependek itu pemikiranku," jawabku.


"Udah ayo masuk, kalo ngak biar kau yang bayar," ujar Lusi.


"Udah ngak usah, kalian 'kan demi kebaikanku juga," ujarku tersenyum.


Kami menyewa sebuah ruangan khusus untukku sendiri.


"Udah kamu sendirian aja di sini, lampiaskan semua amarahmu, kami di luar aja, kalo ada apa-apa langsung kasih tau aja," ujar Putri.


"Makasih ya, kalian udah ngertiin aku, kalian emang teman terbaikku," kataku memeluk mereka.


"Iya, kamu baik-baik di dalam ya, jangan tembok pula yang kau tinju," ujar Putri melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Aku masuk kedalam ruangan tersebut dan menatap tajam samsak aku menganggapnya itu adalah Lisa. Jika ku menganggap Riko yang ada habislah dia setelah aku pulang nanti.


Ya udah lah aku tak menganggapnya apa-apa.


Ku keluarkan semua sakit di dada meninju dengan seluruh kekuatanku. Aku sengaja tidak memakai sarung tinjunya agar semua lepas sakit hati.


Habis meninju, aku malah menangis.


"Aaaaaaa...," jeritku sekuat tenagaku. Aku terduduk menangis. Entah apa yang kuratapi.


"Laras," panggil Putri saat mendengar teriakanku.


Mereka membuka pintu ruangan tersebut dan berlari kearahku saat melihat aku duduk di lantai.


"kamu ngak apa-apa Laras?" Tanya Putri ikut duduk kelantai dan menatap ke arahku.


"Aku baik-baik saja, aku udah selesai, ayo pulang," ajakku.


"Oke," jawab Putri mereka berdua berusaha menarik tanganku untuk berdiri.


"Laras," ujar Riko ketika kami sudah sampai di depan rumahku.


Aku diam.


"Riko, sekarang kamu baru ngejar-ngejar Laras, selama ini kemana? Asyik aja terus sama pelakor itu," umpat Lusi ketika melihat Riko.


Riko hanya diam tak berani menjawab, karena ia tau bahwa ia salah.


"Laras, rumor itu sudah di hapus dari web kampus, jadi kamu ngak perlu khawatir," kata Riko mendekatiku.


"Ya tidak perlu di khawatirkan," jawabku tersenyum yang ku paksakan. "Tapi hubungan kita yang perlu kau khawatirkan," sambungku lagi menatap wajah Riko.


"Laras, apa maksudmu? Kamu ngak mungkin mutusi hubungan kita kan?" Tanya Riko memegang tanganku.


"Giliran aku mengatakan hubungan, baru kamu peka, selama ini kau terus membiarkan dia mengekorimu kau ngak peka dengan perasaanku, aku sudah berbaik hati tidak membalasmu dengan bermain bersama laki-laki lain, tapi kamu juga ngak ngerti. Seharusnya aku diam kau mengerti jika aku cemburu, tapi kamu tetap ngak peduli," omelku.

__ADS_1


"Laras kali ini aku emang salah, aku minta maaf," ujarnya memohon.


__ADS_2