
"Oh ya, apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu denganku?" Tanyaku penuh misteri.
"Sesuatu? Apa itu? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksudkan?" Tanya menghadap kearahku.
"Apa kamu membiarkan anakmu begitu saja?" Tanyaku menatap tajam kearahnya.
"Anak yang mana? Kau bicara berbelit-belit katakan yang sejujurnya," ujar Doni yang mulai kesal.
"Kau menghamili Mona dan tidak bertanggung jawab," jelasku.
"Aku tidak menghamilinya," jawabnya kembali menyusun kembali buku tersebut.
"Jika bukan kamu, lalu siapa orang itu, Mona mengakui jika kamu yang menghamilinya dan tidak bertanggung jawab, lalu aku juga melihat saat perayaan aku dan Riko, aku melihatmu kau ingin memukul Mona, apa kau marah karena Mona minta pertanggung jawabannya," tukasku.
"Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan, karena ini bukan salahku," katanya.
"Setelah kau melakukannya dan kau ingin lari begitu saja, jangan jadi lelaki pengecut Doni," teriakku.
"Aku bukan lelaki pengecut, aku tidak perlu mempertanggung jawabkan yang bukan kesalahanku," balasnya.
"Jadi salah siapa? Apa kau melemparkan kesalahanmu pada orang lain?" Tanyaku dengan darah mengebu-gebu.
"Laras, kau tak perlu mengintrogasiku seperti ini, sudah aku jelaskan ini bukan salahku," jelasnya.
"Katakan padaku siapa Ayah dari anak yang ada di perut Mona?" Bentakku.
"Itu..." kata-katanya terputus, aku belum mengerti jalan pikirnya, apa dia tidak ingin mengatakan apapun.
"Siapa?" bentakku lagi.
"Cukup kamu tak perlu tau, ini urusanku," balas ia membentakku.
"Doni, kamu adalah pria baik yang aku temui, lalu kenapa kamu berbuat seperti ini," teriakku.
"Laras, kamu lebih baik jangan tahu urusanku, dan jangan campur masalahku, ini pesanku karena aku berbaik hati padamu," katanya keluar dari ruangan tersebut.
"Doni tunggu," teriaku. Namun Doni tidak memperdulikanku dan pergi begitu saja.
"Jika bukan dia ayah anak itu, lalu siapa? Apa dia berbohong, atau Mona yang berbohong?" Tanyaku berpikir keras.
"Aaaaaaa... ini benar-benar membuatku pusing," jeritku karena ini adalah jalan buntu bagiku.
Aku keluar dari ruangan tersebut dan pergi menghampiri Lusi dan Putri.
"Kenapa lama sekali, bahkan kami mencarimu di toilet tapi tidak ada?" Tanya Lusi khawatir.
__ADS_1
"Oh itu aku kesana sebentar," jawabku ngasal.
Saatnya dosen masuk keruangan.
Ketika dosen menjelaskan materinya, aku malah tidak fokus karena ini menjadi teka-teki siapa ayah dari calon anak Mona, dan kelihatannya Mona tidak datang kekampus. Apa yang dia lakukan di rumahnya ya?
"Aaaaaaaaa," teriakku.
Seketika semua mata tertuju kepadaku. Aku bengong lirik kiri lirik kanan.
"Hey... Laras, apa yang kamu lakukan?" bisik Lusi.
"Ha?" Aku bingung.
"Laras, jika kamu ingin olah vokal suara, jangan di ruangan ini, kami bisa keruangan seni," kata dosen.
"Maaf pak, saya tidak sengaja," jawabku merasa bersalah.
Aku menundukkan kepala dan mengigit bibirku karena malu, dan mereka kembali fokus kemateri selanjutnya.
"Astaga... apa yang aku pikirkan? Sepertinya aku harus sewa detektif buat membuka rahasia ini," batinku.
Sampai materi perkuliahan selesaipun aku masih mikir.
"Laras, kamu ngapain? Ayo pulang," ajak Lusi melihatku masih bengong.
"Laras," panggil Riko.
"Riko," balasku.
"Kamu pergi kuliah kok ngak ngabari, oh iya Lusi maaf ya kami buru-buru," kata Riko yang langsung menarik tanganku.
"Ada apa Riko?" Tanyaku heran.
"Doni sudah di bawa kerumah sama Papa, dan di sana sudah ada Mona juga," ujar Riko.
Aku hanya mengangguk-angguk.
Sesampainya di sana kami sudah mendengar pertengkaran antara Papa Riko dan Doni.
"Sumpah Om, bukan aku yang melakukannya," kata Doni yang bertekuk lutut di lantai.
"Tapi dia bilang kamu yang melakukannya?" Tanya pak Kim marah.
"Demi Tuhan, bukan aku," ujar Doni berusaha menyakinkan pak Kim.
__ADS_1
"Jika bukan kamu? Lalu siapa laki-laki itu, apa kamu sengaja ingin lari dari tanggung jawab, katakan siapa pria itu," ujar pak Kim marah.
"Itu... aku tidak bisa mengatakannya," kata Doni melemah.
"Mona, lebih baik kamu jujur siapa yang melakukannya?" Tanya mama Rino.
"Dia Tante." kata Mona menujuk Doni sambil menangis.
"Untuk apa kamu mengelak lagi, ayo tanggung jawab," sela Rino.
"Bukan aku yang melakukannya, dia bukan anakku, untuk apa aku bertanggung jawab," kata Doni berkeras.
"Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, baiklah, saya akan menelpon polisi sekarang, dan membusuklah kamu di penjara," ancam pak Kim.
"Jangan Om, aku mohon jangan telpon polisi," mohon Doni.
"Saya tidak main-main lagi, ini terakhir kamu menjelaskannya, katakan siapa yang telah melakukannya?" Tanya pak Kim serius.
"Dia... dia adalah kakak laki-lakiku," kata Doni menundukan kepalanya.
"Apa? Mana mungkin dia, bukannya kamu yang ada di dalam kamar itu," teriak Mona tak terima.
"Ya, aku sudah ada di sana saat kamu sudah sadarkan diri," jelas Doni.
"Apa?.... Tidak mungkin, kamu pasti bohong Doni, kamu bohong, kamu pasti bercandakan, aku tidak percaya itu" teriak Mona memukul-mukul tubuh Doni.
"Aku tidak bohong, itulah kenyataannya," kata Doni dengan nada rendah.
"Tidak mungkin, Doni! kamu bohongkan, aku tak percaya, aku tak percaya," teriak Mona lagi dengan tangisan sesengukan.
"Sudah Mona ayo duduk dulu," kata mama Mona menarik tangan anaknya.
"Jelaskan apa yang terjadi," kata Pak Kim.
"Mona datang kerumahku, katanya ia ada materi yang tidak mengerti, jadi aku memanggil kakak untuk menemaninya dan menyuruhnya membuatkan minuman, aku keluar sebentar untuk membeli makanan ringan, namun kakakku minta di belikan burger, toko burger agak jauh dari rumah kami dan aku tetap pergi membelikannya. Sesampai di rumah aku tidak melihat Mona dan kakakku di ruang tamu, aku mencarinya di seluruh rumah, sayangnya aku tidak mengecek kamar, karena aku pikir mereka mungkin di halaman belakang, namun mereka tetap juga tidak ada. Aku lelah mencarinya dan kembali masuk kerumah. pintu kamar kakak terbuka sedikit dan aku masuk kamarnya di sana aku melihat Mona sudah tanpa pakaian, tiba-tiba saja Mona terbangun laku memukulku," jelas Doni panjang lebar.
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Rino kesal.
"Aku sudah mengatakannya, tapi Mona tak percaya, kakak laki-lakipun lari entah kemana waktu itu, kemaren ia sempat pulang kerumah. Aku sudah mengatakan kepadakannya bahwa Mona hamil dan dia harus bertanggung jawab, namun ia pergi lagi, aku berusaha mengejarnya namun ia tiba-tiba menghilang dan aku kehilangannya," jelas Doni lagi.
"Lalu kenapa kamu ingin memukul Mona waktu itu?" Tanyaku yang maaih penasaran.
"Waktu itu Mona megancamku akan menyebarkan masalah ini, jadi aku sangat marah dan ingin memukulnya, tapi aku sadar bahwa melakukan kekerasan tidak menyelesaikan masalah."
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH