
"Tidak perlu, kau akan meledakkan dapurnya nanti," sindirku.
"Jadi aku harus apa sekarang?" Tanyanya lirik kiri lirik kanan.
"Terserah, mau jungkir balik, loncat-loncat, guling-guling," jawabku ngasal.
"Aku bukan Bocil yang harus guling-guling," gerutunya.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya pak Kim yang tiba-tiba datang.
"Sudah hampir siapa," jawab Ayah.
"Aku sudah mengundang teman-temanku, mungkin kalian ada yang mau di undang?" Tanyanya kepada kami.
"Hehehe, aku akan mengundang teman-temanku biar ramai, biar tambah seru," kata Riko mengambil ponsel dari saku celananya.
Aku mencibir mendengar ucapan Riko. "Seru apanya? Tukang rusuh yang ada." aku tidak peduli meskipun Ayah Riko masih di sana.
"Ya sudah saya pergi dulu ingin melihat apa catringnya sudah siap apa belum," ujar Pak Kim.
"Ya hati-hati," ucap Ayah, pak Kim mengangguk.
Aku langsung menuju kamarku dan menelpon putri dan Lusi.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut...
"Hallo," sambut Lusi.
"Lus, kamu sama putri ngak sekarang?" Tanyaku.
"Ngak, ada apa?" Lusi balik bertanya.
"Malam ini ada acara perayaan di jalan jaya bakti datang ya, bawa keluargamu juga, si putri juga, kasih tau teman-teman yang lain," pesanku.
"Jalan jaya bakti, bukannya itu jalan menuju arah rumah Riko?" Tanya Lusi penasaran.
"Iya, tapi bukan di rumahnya yang ada acaranya di samping rumahnya, jika ada ramai-ramai di sebuah rumah ya datanglah kesana," jelasku.
"Oke baiklah, akan aku kasih tau," jawabnya dan menutup panggilan.
"Siapa lagi ya yang harus kuberi tahu? Kak Doni, apa aku harus memberi tahunya juga? Ya udah deh, kasih tau ajalah," kataku dan mencari nomor WA Kak Doni lalu menelponnya.
"Halo," jawab Doni.
"Kak malam ini datang ya di jalan jaya bakti, ada acara di sini, bawa teman-teman Kakak juga ya," undangku.
"Acara apa?" Tanyanya.
"Acara penyambutan gitu, datang ya Kak," ujarku.
__ADS_1
"Baiklah," jawabnya. Aku menutup telpon, sebenarnya ada rasa ngeri juga mengundangnya, apa ini hanya perasaanku saja?
***
Malam sudah tiba, tamu sudah mulai berdatangan.
Tiiit...
Tiiit...
Tiiit...
"Halo," jawabku.
"Acaranya di rumah besar ini ya yang depannya ada air mancur?" Tanya Lusi.
"Iya, masuk aja," jawabku yang masih di kamar, karena aku sedang di dandani.
"Oke," jawab Lusi.
"Baiklah acara akan segera di mulai, ayo tepuk tangan yang meriah," kata MC pembawa acara.
"Malam ini adalah acara penyambutan penghuni baru rumah yang mewah ini, yaitu kita sambut kepada Pak Jhoni dan Laras," teriak MC. Mereka semuanya bertepuk tangan.
Aku keluar bersama Ayah. Ayah menggunakan jas hitam sedangkan aku menggunakan gaun berwarna White Ros.
Lusi dan Putri melongo melihatku datang dari atas.
"Ya aku baru tahu, awas saja dia, selama ini dia ngak mau ngasih tau kita," ujar Putri.
Pak Kim mengambil alih. " Ini adalah sahabat saya, di balik kesuksesan saya ada dia yang membantu saya, saya harap kita semua bisa berteman baik, dan mereka adalah keluarga saya, di malam penyambutan ini kami keluarga besar Kim juga menyiapkan sesuatu yang spesial, yaitu anak kami bernama Riko Mahendra Kim akan melamar anak dari Pak Jhoni bernama Laras Wati, semoga niat baik kami dapat Pak Jhoni dan Nak Laras menerimanya," kata Pak Kim yang di sambut meriah oleh orang berdatangan di rumah itu.
Aku langsung menutup mulutku tak percaya, secepat itu aku di ikat seorang laki-laki yang aku cintai, meskipun kadang dia menyebalkan.
Riko datang membawa sebuah kotak Cincin.
"Laras, maukah kamu menerima lamaran ini?" Tanya Riko hati-hati.
Aku langsung tersenyum mengangguk, rasanya seneng banget. Mereka lagi-lagi bertepuk tangan.
"Putri aku pingsan saja deh, aku ngak kuat lihat kemesraan mereka, aku iri banget," kata Lusi mengoyang-goyangkan Putri lagi.
Riko memasukkan cincin ke jari manisku. Waaah... ini cincin berlian, kapan dia belinya? Dan ini pas di jari ku.
Riko juga memberi cincin yang satunya lagi, aku memakaikan ke jarinya pula. Mereka kembali bertepuk tangan yang meriah.
"Acara selanjutnya mari... BERPESTAAAAA...," teriak MC-nya. musik ppun di bunyikan tapi tidak terlalu kencang karena mereka juga ingin mengobrol.
Aku mendekati kedua sahabatku.
"Larassssss...," teriak Putri dan Lusi memelukku. aku membalas pelukan mereka.
__ADS_1
"Kamu tega bangeeeeet... kamu sebentar lagi menjadi istri seseorang, kamu pindah rumah kenapa ngak bilang-bilang," teriak Lusi kesal namun bercampur senang. Aku melepaskan pelukan mereka.
"Kalian juga akan ada yang melamar kalian," hiburku. Aku tau Radit menyukai Lusi, tapi... apa Ari juga menyukai Putri. kalaupun ngak mau harus di paksakan Ari menyukai Putri.
Riko dan teman-temannya yang lain mendekati kami.
"Cie... yang berbahagia malam ini beda banget suasana hatinya," ujar Radit kepadaku.
"Ye... kamu lagi, kapan menyatakan cinta kepada dia?" Tanyaku memukul bahu Radit.
"Kapan ya? Aku takut dia tak menerimaku," jawab Radit.
"Kamu itu tak percaya diri, lakukan saja kami mendukungmu, jika dia tidak menerimamu, kami akan memaksakan dia harus menerimamu," kataku.
"Kalian ngomongin siapa, emang siapa yang di sukai Radit?" Tanya Lusi penasaran.
"Ada deh... namanya rahasia, kamu ngak usah penasaran," kataku menyenggol Lusi.
"Di antara teman itu tidak ada yang namanya rahasia, jika kalian merahasiakannya, aku bukan teman kalian," ujarnya merajuk.
"Kau akan tau beberapa hari nanti, tapi jika di pikir-pikir aku juga ngak tau siapa yang di sukai Radit, kamu suka sama siapa Radit?" aku pura-pura bertanya agar Lusi tidak merasa di asingkan.
"Ehe... hanya aku dan Tuhan yang tahu," ujarnya.
"Ye... sempat-sempatnya dia baca puisi di sini," ujarku.
Riko menyelip dan memegang tanganku.
"Cie... dasar Pria bucin," ledek Ari.
"Tu... kamu siapa pula pujaan hatimu?" Tanya Putri.
"Ada deh, nanti juga akan tau," jawab Ari merangkul pundak Radit.
Hmm... sepertinya mereka cinlok (cinta lokasi) karena selalu bersama.
"Udah ayo makan, Rino mana?" Tanya kepafa Riko.
"Tu," tunjuk Riko mengunakan muncungnya. Ingin rasanya kutabok muncungnya.
Aku melihat Rino bersama Mona duduk di kursi. sedangkan para orang tua lainnya asyik mengobrol sesama teman mereka.
Dari kejauhan aku melihat Doni memandang kearah Mona, kenapa dan ada apa dengan mereka?
Acara yang sangat meriah.
Teman-teman Riko yang datang memberikan selamat kepada kami, dan juga teman-teman yang di undang oleh Lusi dan Putri juga datang memberi ucapan selamat juga.
"Aku lupa ngucapin selamat buat kalian, selamat ya guys, semoga langgeng sampai anak cucu, hingga maut menjemput," ucap Lusi.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
__ADS_1
TERIMA KASIH