
"Ya sudah, kamu tidurlah, biarkan aku menjaganya," ujar Riko menarik kepalaku membaringkan di pundaknya.
Aku memejakan mataku, sepertinya aku benar-benar mengantuk. Tanpa sadar aku tertidur.
xxx
Ketika aku bangun, aku melihat Riko tidur di lantai dengan mengulung tubuhnya, sedangkan aku di selimuti dengan jagetnya. Aku tersenyum, dia sangat baik sampai rela membiarkan tubuhnya kedinginan.
Aku menyelimuti tubuh Riko dengan jaketnya, sayangnya tiba-tiba dia bangun, 'Kan ketahuan jika aku melakukan hal yang sama dengannya.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya sambil mengucuk mata.
"Barusan, naik ke atas kursi sini, baring di sini saja," ujarku membantu berdiri, namun tiba-tiba dokter datang.
"Selamat pagi," sapa dokter kepada kami.
"Selamat pagi Dok," jawab kami bersamaan.
Dokter itu masuk ke ruangan Lisa dan kembali mengecek keadaan Lisa.
"Ini 3 hari lagi kita bawa periksa lagi ruangan USG, apa terjadi sesuatu atau tidaknya," ujar dokter itu.
"Baik Dok," angguk Riko.
Dokter itu pun keluar dan tak lama suster datang membawakan obat untuk di minum oleh Lisa.
Aku duduk di kursi memasukkan kartuki ke ponsel ayah, takutnya ada notifikasi masuk.
Tring tring.
Sebuah notif masuk.
Dari dosen Buk Andin.
Teruntuk mahasiswi kami Laras wati, agar segera datang ke ruangan saya.
"Astagaaaa... aduh gimana donk, aku belum mandi juga belum ngapa-ngapain, apa langsung ke kampus saja deh," ujarku panik.
"Riko, aku ke kampus dulu ya," pamitku dan langsung nyelonong.
"Tunggu," teriak Riko berusaha mengejarku.
"Aku antar kamu ya, biar cepat," ujarnya.
"Tapi gimana dengan Lisa jika di tinggalin," jawabku yang udah kebelet mau pergi.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Riko menarik tanganku dan menyuruhku masuk mobil. Aku langsung masuk. Riko melajukan mobilnya di jalanan.
"Kenapa kamu kok buru-buru banget?" Tanya Riko penasaran.
"Iya, aku dapat chat dari Buk Andin suruh ke ruangannya," jelasku panik.
"Oh ya udah," ujar Riko melajukan mobilnya.
Sesampainya di kampus aku buru-buru turun.
"Aku pergi dulu ya, da-da," ujarku melambaikan tangan dan berlari menuju ruang buk Andin.
"Kenapa lama sekali?" Tanya buk Andin ketika melihatku datang.
"Maaf Buk, Ibuk chat tadi, saya sedang di rumah sakit, jadi saya buru-buru kesini," jawabku dengan ngos-ngosan.
"Siapa yang sakit?" Tanya buk Andin sambil memilah beberapa map.
"Itu... teman saya Buk, kecelakaan tadi malam," jawabku. Buk Andin mengangguk-angguk.
"Nih tugas kamu, jadi kamu itu harus mendesain salah satu perusahaan ini, jadi kamu harus datang ke sana sebagai anak magang untuk 1 minggu, apa kamu setuju?" Tanya buk Andin.
"Buk, ngak bisa apa saya mendesain perusahaan tunangan saya Riko?" Tanyaku cengengesan.
"Perusahaan Riko itu sudah bukan kita yang mendesain, meskipun kamu kekasihnya, tidak mungkinkan membiarkan pemula mendesainnya, mereka punya pendesain tersendiri yang sudah terlatih, jika kamu lebih bergiat lagi, mungkin kamu di lirik oleh calon mertuamu nanti," canda buk Andin.
"Kamu seharusnya bersyukur mendapatkan pria kanglomerat seperti Riko yang ayahnya terkaya di kota ini, sayangnya ibu sudah tua, jika tidak Ibuk juga mau sama Riko," ujar buk Andin terkekeh. Aku tersenyum mendengar gurauan buk Andin.
"Ya udah, kamu siap-siap sana, mulai besok juga ngak apa-apa masuknya, tapi jangan sampai telat ya, di sana juga sudah ada alamatnya, kamu langsung kesana saja," ujar buk Andin menunjuk map yang kupegang.
"Siap Buk, terima kasih," ucapku. Buk Andin menganggukan kepalanya dan aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.
Aku kembali ke parkiran, ternyata Riko sudah ngilang, sepertinua dia balik kerumah sakit, ya sudahlah aku pesan ojek online saja untuk pulang kerumah.
"Buk Laras ya," ujar ojek online itu berhenti di depanku. Aku mengangguk, ia mengambil helm dan mengulurkan kepadaku dan aku mengenakannya.
"Alamatnya di mana Buk?" Tanya abang ojek online ketika di perjalanan.
"Jalan Mahoni pak," jawabku, abang ojek mengangguk mengerti.
Sesampainya di rumah, aku membayar ongkos ojek lalu masuk kamar. Duduk di kasurku lalu membuka map tersebut karena penasaran.
"Perusahaan QT, jalan SMA, ruangan mana yang harus aku desain nih?" Tanyaku mengaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
"Sepertinya aku harus keluar dulu nih, buat beli ponsel baru, kasian Ayah ngak bawa ponselnya," ujarku masuk kamar mandi dan bersih-bersih.
__ADS_1
Setelah semuanya siap aku melangkahkan kaki keluar, motor ayah ada di rumah, sepertinya ayah tidak membawa motornya pergi ke warung baksonya. Ku gaskan dan mencari konter yang menurutku nyaman untuk di beli.
Aku berhenti di sebuah konter yang tempatnya sepi dan masuk kedalam.
"Bang, yang itu berapaan?" Tanyaku menunjuk salah satu ponsel di dalam steling kaca.
"Yang ini 4 juta," jawab abang itu.
"Ya udah, yang ini aja," jawabku. Abang itu memberikan ponselnya.
"Siapa namanya Dek?" Tanya abang itu tersenyum padaku.
"Lusi," jawabku bohong.
"Bisa minta nomor telponnya?" Goda abang itu.
"Maaf Bang, saya sudah punya suami anak 2," jawabku ngasal.
"Oh, maaf maaf," ujarnya, dan aku langsung nyelonong pergi dan menuju pulang kerumah.
Sesampai di rumah, aku menggantikan kartuku masuk ke ponsel baru, berhubungan tadi malam kurang tidur aku baring dan tertidur untuk melepaskan lelahku.
Di rumah sakit.
Ibu dan Ayah Lisa buru-buru masuk ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lisa, sesampainya di ruangan ibu Lisa melihat anaknya ia langsung memeluk Lisa dan menangis.
"Lisa... kenapa kamu kayak gini Nak. Mama pikir kamu tidak separah ini, dan kenapa harus terjadi padamu," ujar ibu Lisa menagis mengusap rambut putrinya.
"Aku ngak kenapa-napa Ma," ujar Lisa tersenyum.
"Terima kasih ya Riko, sudah menjaga Lisa," ujar ibu Lisa sambil menyeka air matanya.
"Sama-sama Tente," angguk Riko.
"Ayo keluar sebentar, Tante ingin bicara denganmu," aja Ibu Lisa keluar ruangan. Riko mengukutinya dari belakang.
"Hm... ada apa Tante?" Tanya Riko mengangkat alisnya.
"Begini... apa kamu tidak mempertimbangkan Lisa untukmu, Tante sangat kasihan dengan Lisa, dia anak yang baik, dan dia sangat menyukaimu, apa lagi kamu selalu ada di saat dia kesusahan dan kamu selalu menjaganya, kalian sering bersama sejak dulu, dan Tante sangat kaget saat kamu bilang sudah bertunangan, Tante rasanya tidak percaya itu, padahal kamu sering bersama Lisa, dan kamu malah memilih orang lain," ujar Ibu Lisa sedih.
"Maaf Tante, aku sudah menetapkan pilihanku, dan Laras bukanlah orang lain, kami sekeluarga berhutang padanya, karena ayahnya pernah membatu papa di saat kesusahan, papa dan ayahnya sudah menjodohkan kami sejak aku berumur 6 bulan, jadi papa harus menempatkan janjinya," jelas Riko.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1
TERIMA KASIH