Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Hari pernikahan Mona


__ADS_3

Jika di lihat, Karisa orangnya kalem, soalnya di bilang terima kasih jawabnya senyum aja.


"Ya sudah, aku pulang dulu," kata Karisa berdiri dan pamit.


"Mau aku antar?" Tawar Rino.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," jawab Karisa.


Sepertinya aku punya teman yang kaya-kaya, cuma aku, Lusi dan Putri yang ngak punya mobil.


Karisa habis wisuda nerusin usaha sablonnya. Aku habis wisuda, bakalan jadi istri orang. Sungguh hidupku cepat berlalu.


Rino mengantar kepergian Karina sampai di mobilnya dan mereka saling melambaikan tangan.


"Sepertinya Rino suka deh sama Karisa," ujarku.


"Iya, kalo ngak mana mungkin dia mengantar sampai pelabuhan mahligai," sambung Lusi.


"Ngomong apa sih kamu, ngawur aja," ujarku.


"Kayaknya kita bakalan nambah anggota band baru nih," celetuk Putri.


"Yang ini satu, band apaan ngak jelas, baru tau aku, punya teman gila tapi ngak gila," celetukku.


"Sama aja kamu juga gila," teriak Lusi.


"Oh ya Riko, Ayah bilang dia sedang mencari tempat strategis untuk jualannya," kataku memberi tahu.


"Iya, aku ngak bisa nemenin Ayah," katanya mengelus kepalaku.


"Gimana persiapan pernikahan Mona?" Tanyaku.


"Ntah, tinggal pesan dekorasi dah selesai, makan tinggal catring aja udah," jawab Riko santai.


"Oh...," jawabku.


"Oh ya, aku dapat e-mail dari Ruda 2 hari lagi, kampus mengadakan pertandingan olahraga ulang tahun ke40 tahun kampus," kata Riko.


"Oh ya, ada apa aja pertandingannya?" Tanyaku bersemangat.


"Lomba pelukan," jawab Riko ngasal.


"Mana ada olahraga mesum begitu," jawabku kesal.


"Adanya lari estafet, lari berpasangan, kawin lari," jawabnya bercanda.


"Aku serius Riko," kataku mencubit lengannya.


"Lihah ajalah besok," katanya.


"Laras, kami pulang dulu ya, kalo kelamaan di sini takutnya ngak mau pulang lagi," kata Putri.


"Iya pulanglah, nanti kalian anggap pula ini rumah kalian," candaku.


Mereka berdua masuk kamar, ngambil barang-barang mereka, trutama mengambil boneka hadiah pas hari jadi mereka. katanya memeluk boneka pemberian dari pacarnya sama dengan memeluk orangnya.


"Ya kami pulang dulu," kata Lusi dan Putri melambaikan tangan.


"Bye... hati-hati," pesanku. Mereka berdua menstaterkan motornya dan pergi.


"Ya, aku mau pulang juga," ujar Deval beranjak dari sofa dan di ikuti Rino.


"Sekarang tinggal kita berdua, ngapain ya?" Tanya Riko genit.


"Ngapain? Ya terserah mau ngapain," jawabku menekuk alis.


"Ngerjain kamu ah," katanya mendekatiku.

__ADS_1


"Kamu jangan macam-macam Riko," kataku menutup mulutnya dengan tanganku yang ingin menciumku.


"Tinggal berduakan seru," katanya memelukku dan mendekatkan bibirnya dan bibirku. Tiba-Tiba...


Tintin...


Tintin...


Tintin...


Ponsel Riko berbunyi.


"Astaga, ini ponsel kubanting juga, di saat seperti ini kenapa harus bunyi," omel Riko mengambil ponsrl di kantong jinsnya.


"Astaga, rupanya Ayah," kata terkejut melihat nama di layar ponselnya.


"Ya Ayah," jawab Riko.


"Ini Ayah udah menemukan tempatnya tapi lumayan mahal bagi Ayah, apa Ayah harus cari tempat lain aja?" Tanya ayah meminta pendapat Riko.


"Berapa harganya?" Riko balik bertanya.


"350.000.000," jawab ayah.


"Luasnya?" Tanya Riko lagi.


"Luasnya sekitar 20x19 meter," jawab ayah lagi.


"Oh okelah, aku kesana sekarang, kirim lokasinya Ayah," kata Riko.


"Iya," jawab ayah dan menutup telponnya.


"Sayang, aku pergi dulu, atau kamu mau ikut ngak?" Tanyanya memegang tanganku.


"Ngak, aku mau lanjut tidur aja," jawabku.


"Sebagai penyemangat," katanya dan pergi meninggalkanku.


Aku masuk kamar dan lanjut tidurku.


xxx


Hari ini adalah hari pernikahan Mona. Aku, Lusi, Putri dan Karisa paginya datang kerumah Mona dan bantu-bantu menyiapkan segala sesuatu yang kurang.


Kami berempat saat melewati kamar ada Mona di dalam menangis saat di dandani.


"Masuk yuk," ajakku.


"Eh, segan," jawab Lusi.


"Ya udah," kataku menyelonong masuk kamar Mona.


"Mona," lirihku. Mona melihat kearahku dengan mata sembabnya.


"Kamu udah datang," ujarnya mencoba tersenyum.


"Iya, kamu cantik," pujiku. Ia hanya terseyum.


Lusi, Putri dan karina baru masuk kedalam. Melihat Karisa, Mona terkejut.


"Kamu."


"Selamat ya," ujarnya canggung.


Mona melirik kearahku. "Kamu kenal dia?" Tanya Mona bertanya kepadaku.


"Iya, maaf ya Mona, aku mengudangnya tanpa seizinmu, karena dia bilang kenal denganmu," jelasku.

__ADS_1


"Iya ngak apa-apa," jawabnya datar.


"Laras, jadi pendampingku ya," kata Mona memegang tanganku.


"Iya," anggukku senang.


Kami berempat duduk di sisi kamar pengantin, sambil menjelajahi mata melihat sekeliling. Jika dipikir-pikir, kami menikah nanti juga seperti ini.


Aku duduk di samping Mona dan melihat wajah Mona dari cermin. Aku tersenyum.


"Waahhh... kamu benar-benar cantik, kira-kira jika aku di dandani secantik kamu ngak ya?" Tanyaku mencoba menghibur Mona.


"Kenapa? Kamu juga kepengen cepat nikah?" Tanyanya tersenyum. Sepertinya Mona sedikit terhibur tadi. Aku sengaja ngak ngajak mereka bertiga duduk di dekat Mona. Ketimbang mereka salah ngomong bikin mood Mona jadi rusak, terus malah ngak jadi nikah pula.


Tak berapa lama datang seseorang kekamar Mona.


"Yang tukang nikahkan sudah datang, ayo mempelai perempuannya keluar," ajak ibuk itu.


Untungnya dandan sudah siap. Mona memegang tanganku.


"Lusi kesini sebelah Mona pegang bajunya biar ngak ke injak," suruhku. Lusi datang dan langsung memegang baju Mona yang panjang menutupi kakinya.


Di sana sudah ada Deni duduk di kursi di depan wali hakim, di karenakan ayah mona tidak datang. Di samping malah Riko mendampingi Deni.


Dari kejauhan aku melihat senyum Riko yang melebar kearahku. Ini anak, meski tersenyumpun tetap ngeselin banget.


Aku membantu Mona duduk di kursi. "Pelan-pelan," ujarku sambil memegang bajunya.


"Baiklah, sekarang kita mulai," kata pak wali hakim.


xxxxxxxxxxxxxxx...................


"Sah?"


"Sah," jawab saksi.


Kami berdoa atas jadinya Mona dan Deni suami istri.


Mona memelukku menangis terisak-isak.


"Selamat Mona, kamu udah jadi istri seseorang sekarang," ujarku mengelus punggungnya. Mona hanya menangis.


"Udah Mona, ayo salam dengan orang tuamu dan para tamu," ajakku membimbingnya.


Mona memeluk mamanya menangis sangat kencang.


"Udah, ngapain kamu nangis," kata mama Mona mengelus punggung anaknya.


Setelah mereda Mona menyalami para tamu yang datang.


"Ayo ganti bajunya lagi sekalian bawa pengantin prianya," ajak tukang dandan itu.


Mona dan suami masuk kamar pengantin, ngak mungkinkan aku ikut masuk lagi.


"Ayo kesana," belum sempat aku bergerak Lusi udah nyelonong duluan ketempat kekasih pujaannya.


"Kenapa kamu ngak sekalian ikut nikah tadi," Tanyaku ketika sudah mendekati mereka.


"Ngak ah, acara nikah kami nanti di buat paling mewah, ya 'kan sayang?" Tanya Lusi memandang kearah Radit.


"Yang berani menikah acaranya lebih mewah dari ku nanti, ngak temanan kita lagi," ancam Riko.


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2