
"Alasan! trus kenapa Kamu tidur memelukku?"tanyaku masih keadaan marah.
"Karena Kamu kedinginan"jawabnya tanpa bersalah.
"Dimananya kedinginan tuh lihat jelas-jelas AC-nya mati"kataku sambil memutar kepalanya mengarahkan ke AC-nya.
"Eh..mungkin Aku sedang ketiduran"jawabnya membuatku kesal karena berbelit-belit.
"Ketiduran kepalamu,sini biarku buat Kau tidur selamanya"Aku pun mengejarnya dengan senjata bantal guling.
Riko lari sambil melihat ke arahku dan akhirnya...DUKKK...
Kepalanya terbentur pintu, karena Dia lupa kalau sebelum lari pintunya harus di buka dulu.
"Rasain,mampus lu"kataku tertawa terbahak bahak penuh kemenangan.Ini tandanya sebelum angkat senjata tapi sudah merdeka duluan.
Riko membuka pintu kamarnya dan langsung pergi menuruni tangga.
Aku melihat-lihat isi kamar Riko,Sambil tersenyum.
"Anak orang kaya beda ya,Aku juga pengen punya kayak gini, tapi entah kapan punya seperti ini"kataku
Tok..tok...
"Ya"jawabku dari dalam kamar dan membukakan pintu.
"Tuan muda menyuruh anda turun untuk sarapan Nona"jawab bibi pelayan.
"oh baik lah bibi ,terima kasih"jawabku tersenyum.
"Mari Nona"kata bibi pelayan sopan.
Aku melangkahakan kaki mengikuti bibi pelayan.ketika itu Aku mengandeng tangan Bibi pelayan.
"Ada apa Nona?"tanya bibi melihat kearahku.
"Bibi seperti orang tua"kata ku.
"Ya iya Nona Saya orang tua"jawab Bibi tersenyum.
"Maksudnya Bibi seperti seorang Ibu".
"Ya iya Nona Saya memang Seorang Ibu"
"Andai saja Saya Ibu masih hidup Aku udah pasti berpelukan seperti ini"kataku menyenderkan kepalaku ke bahu Bibi.
"Emang Ibu Nona kemana?"
__ADS_1
"Sudah Meninggal 2 tahun yang lalu dan lagi jika kita bertemu lagi jangan panggil Aku Nona"kataku menekukkan alis.
"jadi Saya harus panggil apa?"tanya Bibi pelayan penasaran.
"Panggil Aku Nak, oke!"kataku.
"Baik Nona, eh Nak"kata Bibi belum tebiasa.
Aku dan Bibi menuju lantai bawah.Riko melihat Kami merasa heran.
"kalian seperti Anak dan Ibu"kata Riko menyamain kami.
"Tentu saja, kamu malah ngak punya Ibu ngak punya Ayah"kataku meledek.
"Siapa bilang? Ayah Ibuku di rumah"kata Riko tak mau kalah.
"Tapi lihatlah Kamu di sini ,kamu seperti Anak yang ngak di inginkan, makanya di buatkan Rumah untuk mu agar kau tinggal sendirian"jawabku kembali meledeknya.
"Banyak cerita.Cepat sarapan dan ke kampus, habis pulang Kita langsung mencari gaun untuk nanti malam"kata Riko mengakhiri pertengkaran yang tak penting.
Aku melahap makanan di atas meja.Setelah di pikir-pikir, baiklah sekarang Aku yang akan mengerjainya.
"Hei..suapi Aku sekarang"kataku melipat tangan di dada.
"Tanganmukan tidak patah".
"Suapi Aku sekarang, jika tidak, Aku tidak Akan pergi bersamamu membeli gaun"kataku nantang.
"Apa maksudmu, bukannya kemaren Ayah bilang hanya menemanimu belajar saja"kataku heran.
"Uuppsss rahasia laki-laki kamu tidak perlu tau"kata Riko meletakkan telunjuk jarinya ke bibirku.
"bangsat lu"ketika Aku ingin mengengam tangannya,cepat-cepat Ia menarik tangannya dan kali ini Aku gagal.
Aku mengunyah makanan yang masih ada si piringku,Aku bertanya-tanya apa yang Mereka berdua sembunyikan.
Hari ini Aku gagal untuk membalas dendamku pada Riko.
Setelah Selesai makan Riko beranjak dari kursinya dan menuju kamarnya tanpa berkata apa-apa.
Aku masih tetap melahap makannanku tanpa pedulikan Dia.
Ketika itu Bibi datang membersihkan piring milik Riko.
"Bik,Riko itu orang baik apa?"tanyaku kepada Bibi tersebut.
"Tentu saja neng"kata Bibi.
__ADS_1
"Apa Dia pernah marah-marah?"tanyaku lagi.
"selama ini Tuan muda tak pernah marah, cuma ada akhir-akhir ini sekitar dua kali. Yang pertama Dia sangat marah dan mengacak-acak kamarnya dan Saya melihat Ada bantal Yang robek di lantai kalau tidak salah waktu neng pingsan dan ketika itu neng langsung pergi dari rumah ini, meskipun Dia telah mengacak-acaknya tapi di wajahnya dia tidak nampak marah,kayaknya seperti Dia mencari sesuatu, tapi yang Bibi heran kenapa bisa Ada bantal yang hancur, apa mungkin Tuan muda menyembunyikan sesuatu di dalamnya"tanya bibi heran.
"astaga Bibi,yang mengacak-acak kamarnya itu Aku,bukan Dia,karena tasku di sembunyikannya"kataku dalam hati, Aku tak berani jujur.
"Terus yang kedua apa?"
"Oh kalau itu Dia marah sangat mengerikan.sehingga apa yang nampak semua di bantingnya sambil ngomel-ngomel"jelas Bibi
"Emang apa yang di omelkannya Bi?"tanyaku penasaran.
"Dia mengatakan 'kenapa Dia harus pergi bersama orang lain, kenapa Dia hanya baik kepada orang lain sedangkan kepadaku dia sering bertengkar,Ingin sekali Aku berbaikan dengannya, tapi kenapa tetap saja tak bisa, dan ini juga ikat rambut dari mantan pacarnya, membuatku emosi dan ingin mencincanya habis, tapi aku sadar ini miliknya,tapi kenapa dia senang diantar pulang oleh pria tak jelas hanya naik motor,jika dia masuk angin dan sakit, pria brengsek itu pasti tidak akan menyembuhkannya,kenapa Dia malah tersenyum manis dengan pria itu' ya begitulah yang saya ingat neng"kata Bibi menjelaskan panjang lebar.
"Siapa perempuan itu yang membuat Tuan muda yang tak pernah marah,malah menjadi orang tak waras , perempuan itu pasti tak punya hati nurani beraninya dia selingkuh dari Tuan muda, neng kalau pacaran sama Tuan muda jangan sampai Tuan muda marah ya"kata bibi lagi.
"Eh..mana mungkin Saya pacaran dengan Tuan muda, Saya hanya berteman saja hehehehe..."kataku mengelak.
"jika bibi tau itu adalah Aku entah bagaimana perasaan bibi sekarang, bisa saja pertemanan yang baru sajaku bangun dengan bibi, bisa saja bibi membenciku.Aku tak relaaaaaaa"kataku dalam hati menundukkan kepala.Dan Bibipun mengangkat piring kotor kedapur
"Bibi tinggal dulu ya neng"kata bibi kepadaku.
"Ya bi"kata ku.
Tak lama kemudian Riko turun dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Kenapa kamu belum siap-siap?"tanyanya mengangkat alisnya.
"Emangnya mau kemana?"Aku balik bertanya dengan kening yang Ku tekuk.
"Apa kamu hilang ingatan kalau kita akan ke kampus"katanya.
"eh"Aku melupakannya.
"Atau jangan-jangan Kamu ingin berduaan denganku di kamar menghabiskan waktu bersama"katanya sambil menatapku tersenyum
Ku tonjok kepalanya.
"Aduh!Kamu jadi perempuan kok galak bener,kalau kayak gini Kamu ngak akan dapat jodoh"katanya sambil memegang kepalanya.
"Siapa suruh beromong kosong"kataku menyinyir.
"cepat siap-sana"kata Riko meyuruhku.
"Ngak ada baju ganti"kataku lagi.
"Udah sana cepat mandi, pinjam saja baju Bibi"katanya enteng.
__ADS_1
"Gila lu kurasa, lihat badan Bibi dan badanku, sama ngak besarnya?"kataku kasar.
BERSAMBUNG