
Aku dan Riko mengikuti pelayan tersebut.
"Silakan duduk Tuan muda, Nona" kata pelayan itu sopan.
Ketika aku ingin menyantap hidangan dan menyuapkan ke mulutku.
"Tunggu sebentar" kata Riko memegang tanganku.
"Ada apa?" tanyaku menekuk alis.
"Bos mau makan"
"terus?"
"suapi"
"Kamu 'kan tidak sakit?" tanyaku heran.
"Ya, tapi aku mau di suapi" katanya manja.
"Kamu 'kan bukan anak kecil lagi" kataku manyun.
"Tambah hutang mu 300 ribu"
"Huh, nyebelin banget sih" kataku suara pelan.
Aku pun mengambil sendok di piringnya, menyendok nasi dan menyuapinya, ketika ia membuka mulutnya aku pun mengsogrokkan mulutnya hingga ia tersedak.
"Kamu niat nyuapi ngak sih" katanya meringgis.
"Iya..iya" jawabku sewot.
Aku pun mulai menyuapi pelan-pelan sampai ia selesai makan, yang paling membuat kujengkel adalah, dia makan, tapi sambil membalas chatnya sambil tertawa hingga tersedak, masa dia minum aku juga yang memberinya minum, kan dia bisa minum sendiri (curhat bentar )
Setelah selesai aku menyuapinya, aku kembali ke meja untuk makan, tiba-tiba dia memegang tanganku dan menarikku keluar dari restorannya.
"Hey, aku belum makan" kataku sambil melihat makanannya, aku tak rela karena kelihatnya enak banget.
"Siapa menyuruhmu makan" jawabnya enteng.
Dia pun menyuruhku masuk, namun aku tidak mau masuk, dia menarik tanganku, tapi aku melepaskan tangannya dari tanganku, ia pun berusaha mengajakku masuk, tapi tetap saja aku menolak, aku tau akan ada petaka buruk jika kami bersama, tak kehilangan akal, ia pun mengendong ku dan melemparku ke mobilnya.
Jika orang lain melihat kami, bisa saja mereka berpikir kalau kami adalah pasangan yang sedang bertengkar.
Kembali ketopik.
"Aduhhhh! Sakit bodoh! Gila kamu ya" teriakku geram sambil memegang pinggangku kesakitan.
"Siapa suruh ngak mau masuk" jawabnya sambil masuk ke kursi supir.
"Kamu ngak bisa lembut dikit apa sama perempuan!" sergahku.
"Sssttttttt" dia meletakan jarinya di bibirku.
Kesempatan datang, aku mengigit jarinya, dia pun berusaha melepaskan jarinya dari gigitanku, setelah puas aku mengigitnya barulah kulepaskan, hingga jarinya sediki berdarah.
"Heyy, kamu shio macan ya" teriaknya meringgis kesakitan.
"Kalau iya kenapa" jawabku sambil memajukan wajahku tanda kemenangan.
__ADS_1
Dia pun mencium bibir ku, refleks... Aku pun meninjunya, aku tidak tahu jika sekuat itu tinjuku, hingga kepalanya kejedut kaca jendala mobilnya.
Dia menjerit kesakitan dan memegangi pipinya yang aku tinju tadi, aku terdiam tak bisa berkata-kata, dan aku hanya melihatnya kesakitan, karena aku tak bisa berbuat apa apa.
Aku kebingungan, aku mencoba membuka pintu mobilnya, tapi malah terkunci.
"Heh buka pintunya" kataku tetap dengan nada tinggi.
"Setelah kau menyakitiku, trus kau ingin meninggalkan ku begitu saja, ingin kabur?"
Ia pun menginjak pedal gas mobilnya dan melaju kencang.
"Hey... Riko yang menyebalkan, kalau kamu mau mati jangan bawa bawa aku, kamu mati saja sendiri sana" teriakku ketakutan.
Aku memejamkan mataku dan mengengam erat-erat sabuk pengaman di dadaku.
"Ayah, jika aku mati kecelakaan di jalan ini, tolong balaskan dendamku pada keluarga Riko yang menjengkelkan ini" kataku dalam hati.
"Apa kau ketakutan?" tanyanya kesenangan melihatku ketakutan dan masih melajukan mobilnya.
"Diam bangsat" kataku berteriak dengan mata masih kututup rapat.
Kruukkkk... Kruukk...
Riko pun mengurangi kecepatan mobilnya.
"Hahahaha, cacing di perutmu pun ikut ketakutan" katanya mengejek.
Aku hanya bisa memanyunkan mulutku.
Riko pun menepi mobilnya setelah bertemu sebuah restoran.
"Kamu mau makan ngak?" teriaknya dari kejauhan.
Aku keluar dan mendekatinya, ia pun memegang tangan ku layaknya pasangan dan memasuki restoran tersebut, semua orang tertuju kepadanya
"Wah dia tampan sekali, apa dia artis? Aku ingin minta tanda tangannya?" kata salah satu perempuan yang sedang duduk bertiga.
"Eh bukannya dia anak dari pak Kim, perusahaan ternama itu?" tanya salah satu anak muda.
"Ah benar aku pernah melihatnya di tivi, emang kayak artis" jawab salah satu temannya yang lain.
"Dia bahkan populer dari artis"
"Tumben dia makan di restoran seperti ini, biasanya dia hanya makan di restoran miliknya"
"Iya, dan aku tidak pernah mendengar jika ia punya pacar?"
"Sadi siapa perempuan yang di sampingnya?"
"Apa jangan jangan pacarnya?"
Merekapun memotret kami diam-diam, bukan hanya satu atau dua orang bahkan mereka mengambil lebih dari 10 foto kami.
"Jika kuposting di media sosialku bakalan cuan aku ni"
Aku menatap wajah Riko.
__ADS_1
"Apa kita pindah tempat saja" ajakku. Takut jika dia tidak nyaman.
"Tidak apa-apa, jarang-jarang aku bisa keluar seperti orang biasa" ujarnya santai.
"Jadi selama ini kau orang yang luar biasa gitu?" tanyaku nyinyir.
"Iya donk" jawabnya bangga.
"Nih pesan" katanya menyodorkan buku menu kepadaku.
Aku menerimanya dan melihat semua menunya.
"Wah... enak-enak banget, dan harganya mahal banget, hehehe aku akan membuatmu bangkrut karena telah membiarkan kukelaparan" seringaiku licik.
Aku memesan semua menu dan setiap satu menu harus dua porsi termasuk minumannya juga.
Pelayannya terkejut, dia berpikir apa aku bisa menghabiskan semuanya atau tidak, tentu saja tidak, emangnya aku ini babi yang rakus apa?
Riko sama sekali tak terkejut, palingan dia hanya mengataiku, karena uang segitu sungguh tak seberapa baginya.
"Jangan makan terlalu banyak, nanti kau akan gendut" katanya mengingatku.
"Bukan urusan mu" ocehku
"kau seperti babi yang baru lepas dari kandang, maaf mbak dia sudah kelaparan selama 3 hari" katanya sambil tersenyum kepada pelayan tersebut.
Pelayannya pun pamit pergi untuk menghidangkan makanannya.
Sekitar 30 menit kemudian, akhirnya pelayan restoran berdatangan untuk menghidangkan makannyanya, sekitar 8 orang bergantian menghidangkan makanannya sehingga mereka harus menarik salah satu meja yang lain untuk menghidangkan makanan kami, saking terlalu banyak.
"Silakan di nikmati Tuan, Nona" kata pelayan tersebut menundukan kepala lalu pergi meninggalkan mereka.
"Sungguh sangat sopan pelayan tadi, jika aku jadi pelayan itu aku akan mengatakan, 'silakan di nikmati Tuan yang tampan dan babi gendut" ejeknya sambil tertawa.
"Berisik" jawabku ketus.
Aku pun mulai menyantapnya dengan lahap, apa yang terlihat di depanku, aku pun memakannya, setelah kenyang aku pun bersandar di kursiku, sungguh aku tak bisa bergerak.
Masih ada sisa makanan yang belum sempatku sentuh, Riko meminta pelayan untuk membungkuskannya dan menambah beberapa makanan lagi di bawa pulang untuk ayahku.
Riko menuju ke arah kasir membayar makanan tadi setelah selesai ia menghampiriku.
"Ayo pulang" ajaknya menarik tanganku.
"Sebentar lagi, aku tak bisa bergerak" kataku dengan suara agak lemah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN LIKE YA