Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Pernyataan cinta


__ADS_3

"Ehem... saya temannya, jika boleh tau ini siapa dan ada apa?" Aku balik bertanya.


"Saya dari kepolisian lalu lintas, bahwa saudara pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan, nomor Anda adalah terakhir dia hubungin, jadi saya menghubunginya, silakan datang kerumah sakit Perawang Medikal, terima kasih," jelas polisi tersebut dan menutup panggilan.


Aku terdiam sesaat, aku bingung, aku harus ngapain?


"Laras ada apa?" Tanya Riko memegang bahuku.


"Lusi... putri... mereka... mereka kecelakaan," jawabku terbata-bata.


"Apaaa... di mana mereka sekarang, ayo kita sekarang," ujar Radit panik.


"Mereka di rumah sakit Perawang Medikal," jawabku, aku rasanya sudah ada di dunia lain.


"Radit dan Ari mereka langsung menuju mobilnya dan Riko melihatku kebingungan, ia langsung mengendongku dan membawaku dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana aku barulah sadar dari kebingunganku.


"Ayo Riko cepat," ujarku menarik tangan Riko tak sabaran menuju tempat Lusi dan putri di rawat.


"Pasien atas nama Lusi dan Putri ada di kamar mana?" Tanyaku panik.


"Sebentar ya kami cek dulu," jawab perawat itu. "Kamar nomor 28," sambungnya.


"Terima kasih," jawabku tergesa-gesa menuju ruangan tersebut.


aku nyelonong masuk kamar dan kulihat kedua sahabatku terbaring.


Untuk Lusi, ia luka di lutut, siku dan lengannya, yang si Putri luka di lutut, pipi kiri dan jari kakinya.


Radit dan Ari mereka sudah berada di sana karena mereka duluan.


"Kalian apa baik-baik saja?" Tanyaku merasa bersalah karena gara-gara aku bikin panik mereka barulah mereka seperti ini.


"Kami ngak apa-apa, Tuhan baik kepada kami, untung aja nyawa ngak melayang," kata Lusi santai.


"Maafkan aku ya, gara-gara aku bikin panik kalian, jadinya kalian seperti ini," jawabku menyesal.


"Bukan gara-gara kamu Laras, kamu jangan merasa bersalah gitu, kami ngak panik kok, ngapain kami panik kamu aja ada di hotel Riko, kami itu pas di jalan di dorong sebuah mobil, ngak tau kenapa mobilnya sesudah menabrak kami, tiba-tiba mobilnya bergeser ke tengah jalan datang mobil dam truk di tabraknya, hancur seketika, darah orang dari mobil muncrat keluar, aku dan putri pingsan karena melihat darahnya, tiba-tiba pas bangun udah ada di sini aja," Lusi bercerita panjang lebar.


"Syukurlah kalian baik-baik aja, aku bingung banget tadi pas dapat telpon dari polisi tadi, ku kira parah banget tadi," kataku lega.


"Iya kami baik-baik saja, ayo pulang," ajak Lusi.


"Ee...eeep kamukan masih sakit di sini saja dulu," ujar Radit khawatir.


Tiba-tiba perawat datang masuk kedalam ruangan tersebut.


"Mereka baik-baik saja hanya luka kecil ini, kalian bisa pulang, tapi untuk sementara jangan kena air dulu ya," ujar perawat setelah mengecek kondisi Lusi dan Putri.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Putri.


"Sama-sama," jawab perawat dan pergi keluar.


"Ayo bawa mereka masuk mobil," perintahku.


Radit membawa Lusi sedangkan Ari mengendong Putri, wah... sungguh pemandangan yang mengharukan.


"Kita kemana?" Tanya Lusi.


"Ada deh, ikut sajalah," jawab Radit penuh misteri.


"Terus motor aku gimana?" Tanya Lusi ia tak rela, motor kesayangannya di tinggal, meskipun rusak parah.


"Malah mikirin motor, besyukur donk, nyawamu udah selamat," nasehat Radit.


"Nanti di marah sama ibuk aku," rengek Lusi.


"Udah, masalah motor kami urus nanti," kata Ari.


Dan akhirnya kami pergi menuju kesuatu tempat, ya mau kemana lagi jika bukan ke hotel.


"Tutup matanya dulu," kataku. "Sana tutup mata mereka," ujarku menyuruh Radit dan Ari. Mereka pun menutup kedua mata pasangannya menggunakan tangannya.


"Oke aku buka pintunya nih, satu... dua... tiga, buka matanya," teriakku.


"Kok gelap," kata Lusi.


"Satu... dua... ti... ti... tiga, hidupkan lampunya," teriakku dan Riko menghidupkan lampunya.


"Waaaaaa...." jerit Lusi dan Putri berdecak kagum.


"Lho kok bunganya ketukar," kata Radit baru menyadari.


"Sini tukar dulu," kata Ari.


"Lusi... maukah kamu menjadi pacarku, susah senang bersama?" Radit menyatakan cintanya.


"Mau banget, terima kasih sayang," kata Lusi mendekati Radit dan kemudian mereka berpelukan.


"Putri... maukah kamu menjadi pacarku, susah seneng bersama," Ari menyatakan cintanya kepada Putri.


"Eh... kamu nyontek pernyataan cintaku, ngak kreativ lu," sela Radit.


"Brisik lu, Aku tu lagi menyatakan cinta, kamu malah merusak momenku saja," tukas Radit kesal lalu kembali melihat Putri.


"Aku terima, asalakan kamu berjanji setia denganku" jawab Putri tersenyum.


"Terima kasih sayang," kata Radit memeluk Putri.

__ADS_1


"Lihatlah mereka baru beberapa detik jadian sudah panggil sayang, kita yang udah tunangan saja masih aja panggil aku kamu," gerutu Riko.


"Kenapa? Kamu iri? Sana ikut mereka biar di panggil sayang," kataku.


"Aku tu mau kamu yang panggil sayang keaku," rengek Riko mengosok-gosokkan kepalanya kelenganku.


"Ogah," jawabku.


"Bentar ya sayang, aku mau nelpon dulu," kata Radit kepada Lusi.


"Iya sayang," jawab Lusi malu-malu.


"Kamu mau juga ngak?" Tanya Radit kepada Ari.


"Oke aku juga mau, warna abu-abu," kata Ari.


"Apaan sih?" Tanya Putri penasaran.


"Ada deh, namanya juga rahasia," jawab Ari misterius.


"Halo, aku pesan warna abu-abu sama coklat tua, ya... ya... yang cepat ya, ya nanti saya transfer, oke aku akan share lokasinya sekarang," Radit menelpon seseorang.


"Ni aku suapi," kata Ari kepada Putri.


Aku dan Riko malah jadi penonton.


"Makasih ya, meskipun tak semeriah Riko dan Laras, tapi aku seneng banget, ini adalah hal terindah dalam hidupku," kata Lusi menatap Radit mereka sambil berpegangan tangan.


Mual aku rasanya ingin muntah darah mendengar keromantisan mereka, kemaren aku kayak gitu juga ngak ya?


"Oke waktunya konsumsi," kata Riko membuyarkan keromantisan mereka.


Satu persatu masuk pelayan keruangan mengantarkan makanan.


Riko mau menyuapiku, tapi ku tolak.


"Kamu ngak liat orang itu suap-suapan, masa kalah orang yang sudah tunangan sama orang yang masih pacaran?" katanya menunjuk ke arah mereka yang sedang bermesraan suap-suapan.


"Ini bukan ajang kompetisi, pake acara menang kalah," ujarku.


Aku menyuapkan makanan ke mulut Riko, dan Riko malah kaget.


"Ternyata diam-diam kamu romantis juga," kata Riko senyam senyum.


"Udah di makan sebelum aku berubah pikiran," jawabku datar.


"Love love keudara deh buat kamu," ujar Riko membuat aku muntah darah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA


TERIMA KASIH


__ADS_2