
"Lebih baik kamu pulang, aku ngak mau ketemu kamu dulu," usirku.
"Tapi Laras...."
Aku langsung menatapnya.
"Laras aku harus apa agar kamu memaafkanku," ujarnya memelas.
"Kamu tidak perlu melakukan apa pun, aku mau istirahat," jawabku langsung menuju rumah dan masuk kamar.
"Laras," panggilnya lagi.
"No," kata Putri menghadang Riko yang ingin mengikutiku.
"Apa kamu selama ini ngak sadar? kami sudah menginggungmu agar kamu sadar, tapi kamu benar-benar laki-laki yang menyebalkan, kamu emang punya segalanya, tapi kamu tak punya hati," maki Putri karena kesal.
"Iya, lebih baik jangan ganggu Laras dulu, biarkan dia tenang, kamu mending pulang dan renungi kesalahanmu," sambung Lusi kesal.
Riko tak berani melawan dan pergi dengan langkah gontai.
Tuut..
Tuut...
Tuuut...
"Halo," jawab Radit.
"Kalian di mana?" Tanya Riko lesu.
"Di rumah, kenapa?" Tanya Radit.
"Ngumpul di cafeku yuk," ajak Riko.
"Heh! Giliran gini baru kamu ingat teman, kalo ngak tunangan sendiri aja di anggurin," omel Radit.
"Aku... minta maaf," jawab Riko pelan.
"Oke aku kasih tau Ari dulu," ujar Radit menutup panggilanya.
Riko menundukan kepala sambil memegang kepalanya.
"Tuh, kami udah berusaha buat nyadarin kamu, tapi kamu asik aja sama cewek itu, waktu kamu minta bantuan yang ku tolak itu sengaja, kami rame-rame bawa dia main-main biar bisa menghibur Laras biar ngak kepikiran, malah di suruh pulang, kok kamu ngak peka sih," nasehat Radit.
"Tapi waktu itu kamu ketauan selingkuh," ujar Riko mengingat.
"Heh! Aku tuh ngak selingkuh, tapi aku langsung minta maaf kok, kalo kamu di Laras diam malah kamu biasain," kata Radit mencibir.
"Tapi waktu itukan aku di minta sama orang tua Lisa sendiri buat jagain dia, mama juga setuju, jadi ya aku harus melakukannya," jawab Riko dengan wajah sedihnya.
"Kamu 'kan bisa minta Laras, Lusi dan Putri berteman, masa kamu sepolos itu sih, kamu juga tau Lisa itu suka sama kamu waktu itu, jadi ini kesempat dia buat dapatin kamu lagi, itu aja kamu ngak tau, lain kali minta saran, jangan asal ambil keputusan sendiri," omel Radit.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana?" Tanya Riko bingung.
"Minta maaf, terus jangan dekatin lagi cewek itu," nasehatnya lagi.
"Tapi Laras ngak mau maafin aku," jawab Riko tambah lesu.
"Wanita itu butuh waktu jika hatinya terluka," sahut Ari.
"Haish," Riko membuang nafas.
Berhubungan tadi aku udah ke boxing sedikit banyaknya galau hilang sedikit.
Aku cek web sekolah tentang foto itu tadi ternyata memang ngak ada lagi, tapi foto itu malah tersebar di status anak-anak kampus.
"Aku rasa masalah ini tak akan habis begitu saja," ujarku mengecek setiap profil facebook mereka.
Ada 1 akun yang gajel, dan itu dia ada di setiap komentar orang-orang, udah gitu manas-manasin lagi. Foto profilnya malah gambar bunga matahari.
"Siapa dia ya?" Pikirku yang langsung menelpon Lusi.
"Lusi ada akun bernama Queen Ratu gambarnya bunga matahari, siapa ya?" Tanyaku setelah Lusi mengangkat telponku.
"Coba aku tanya sama pamanku yang di Thailad, dia seorang hacker aku cari terus aku kirim kepamanku dulu, tapi ada apa Laras?" Tanya Lusi.
"Iya, foto Lisa dan Riko di web sekolah ngak ada lagi, udah di hapus, tapi foto itu nyebar lewat status media sosial anak-anak kampus, dan akun 1 ini malah memprovokasi dalam kolom komentar, jadi itu yang buat ku penasaran," jelasku.
"Tapi sebenarnya sih bantuan dari papa Riko aja sebentar selesai," ujar Lusi.
"Aku ngak mau ngerepoti orang yang sibuk bekerja, dia ngurusin pekerjaannya saja sudah pusing, ini hanya masalah kecil ngak perlu nyusahin pak Kim," jawabku.
Aku tersenyum kecut.
"Lusi kasih tau Putri ngumpul di rumahku malam ini, aku pengen curhat," ajakku.
"Oke," jawab Lusi yang langsung menelpon Putri.
Aku masih mengikuti terus akun baru itu di setiap komentar pasti ada dia.
Sungguh membuatku kesal setiap komentarnya mengatakan
"Belum seutuhnya jadi milik orang, sedangkan milik orang aja bisa di ambil paksa."
"Huh! Siapa sih dia, aku benar-benar kesal," keluhku dan aku membuat akun baru untuk membalasnya.
"Kamu jadi jangan jadi provokator donk, masa mau merusak hubungan orang," tulisku di sana.
"Kamu siapa? Suka-sukaku lah, aku aktiv di medsos bukan pake paket internetmu," jawabnya.
"Iya, tapi jangan jadi kompor, nanti kalo keciduk ID mu bisa di laporkan," balasku.
"Cari aja, kamu ngak akan menemukannya," tantangnya.
__ADS_1
"Kamu sepertinya sangat percaya diri, jika sudah keciduk baru nangis-nangis minta maaf," balasku lagi.
"Aku ngak akan minta maaf, karena kamu ngak akan menemukannya, ini akunku sangat rahasia, cari aja sampai mati hahahaha," membacanya sangat membuatku kesal.
"Tunggu saja kamu ya, jika paman Lusi udah menemukan kamu, lihat saja apa yang akan ku perbuat ku ajak ngopi kau nanti," geramku.
"Heh kenapa diam? ngak berani nasehati aku lagi, takut? jika di lihat kamu hanya orang biasa dengan akun baru mu dan aku bisa melacakmu," balasnya menyepelakanku.
"Bodo amat! Terserah kamu mau ngelacak apa ngak, aku ngak peduli, aku ngak takut," balasku kesal.
"Idih! kamu ngak takut?" Tanyanya menantang.
"Ngak ada yang perlu ku takuti, kamu juga bukan Tuhan, hanya manusia biasa," balasku mengejek.
"Aku lacak kamu ya, kalo ketemu habis kamu ku buat," balasnya.
"Sepertinya dia marah," ujarku. Cepat-cepat aku menghapus akun tersebut dan jika dia bisa melacak ID-ku bisa mati aku.
Lalu aku mengecek akunnya lewat aku lamaku dan dia membuat status.
"Ada pengecut yang bilang aku kompor, karena aku bilang mau melacak ID-nya langsung di hapus akunnya."
"Dia ini buat aku kesal saja," keluhku.
Tak lam Lusi putri datang menggunakan motor mereka, dan tak ketinggalan boneka kesayangannya.
"Kenapa Laras, kelihatannya kamu kesal banget?" Tanya Putri.
"Iya nih! Akun baru tadi membuatku kesal dan dia ingin melacak ID-ku tapi cepat-cepat ku hapus," jawabku manyun.
Tintin...
Tintin...
Tintin...
"Halo paman," jawab Lusi.
"ID-nya udah ketemu," jawab pamannya.
"Oh ya kirim paman," ujar Lusi senang.
Aku pun tersenyum senang.
Pamannya mengirim ID tersebut dan masuk ke ponsel Lusi.
"Wow ternyata masih orang kota sini, aku telpon Radit ya," kata Lusi menelpon Radit.
"Halo sayang, bisa bantu kami mencari orang ini, dia masih di kota ini, kami ingin bertemu dengannya," kata Lusi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
TERIMA KASIH