
"Akhirnya bangun juga," kata Lusi mencibirkan bibirnya.
"Iya nih, gara-gara suara cempreng kalian, singa jantan mau melahirkan aja ngak jadi," ujarnya berdiri dan duduk di kursi.
"Mana ada singa jantan melahirkan, ibarat Ari kau paksa melahirkan, emang bisa?" Ejekku.
"Udah ah! Masak apa?" Tanya Putri celingak celinguk.
"Telor cicak," celetuk Lusi.
"Men-ji-jik-kan," kata Putri mengibaskan tangannya.
"Ayo gaes... kita tempuuuuurrrr," teriakku mengangakat sendok pengorengan dan panci.
"Camooooon" kata Lusi tak mau kalah mengangkat teplon dan kuali.
Lusi memotong bawang dan daun bawang. Aku mengocok telor dan mengorengnya.
Dan akhirnya kami hanya memasak telur dadar.
"Kupikir kalian heboh tadi masak makanan enak, masak ginian aja bayi baru lahir juga bisa," ejek Putri.
"Banyak bacod, sana gantian kamu yang masak," kataku tak terima.
Eh... tau-taunya Putri yang nyomot duluan. "Dari pada ngak ada, apa yang ada aja dulu deh di embat, sebelum ayang bebku membelikan makanan," kata Putri dengan mulut yang penuh telur dadar.
Aku dan Lusi hanya bisa memanyunkan mulut, teman ngak ada akhlak, udah di masaki, di hina pula, malah dia yang kayak orang kelaparan.
"Oh iya ya, Ayah di mana ya?" Tanyaku baru menyadari jika ayah tak ada di rumah.
"Bentar ya, aku lihat Ayah dulu," kataku. Tapi mereka ngak ada yang jawab karena mereka menikmati sekali telur dadarnya.
"Ayah... Ayah...," panggilku.
Namun tak ada jawaban.
Aku memutuskan untuk menelponnya.
Tuuut...
Tuuut...
Tuuut..
"Halo," jawab ayah.
"Ayah di mana, kok Laras cari ngak ada di rumah?" Tanyaku khawatir.
"Tadi kamu masih tidur, Ayah sedang bersama pengawal Riko mencari tempat strategis buat jualan baksonya," kata Ayah.
"Oh gitu ya, ya udah, Ayah hati-hati ya," pesanku.
"Iya," jawab ayah dan menutup telponnya.
Syukurlah, kupikir ayah kabur.
Ketika aku kembali kedapur, piringnya licin seperti habis di cuci. Aku mendekatkan wajahku ke depan piring beneran ngak tersisa apapun.
"Kurang ajar kalian, kalian habisin gitu aja, akukan belum makan," kataku manyun.
"Alah manja banget sih, tinggal masak aja lagi," kata Putri.
Dengan manyun aku masak lagi, tapi ini bukan telur dadar melainkan telur gulung sosis, tapi tetap temanya juga telur.
"Udah masak belum Laras?" Tanya Lusi.
Enak aja, aku yang masak mereka yang makan.
"Belum," jawabku dan memakan telur dan sosisnya.
__ADS_1
"Mana?" Tanya Lusi lagi.
"Masak sendiri," kataku menuangkan air ke gelas dan meminumnya. Putri berdiri menepuk pundakku malah air dalam mulutku menyembur kearah Lusi.
"Larasssssssss...," teriak Lusi.
"Bukan aku, Putri ya," kataku lari kearah kamarku memandang kearah Lusi dan...
Dugh...
"Aduuuh...," teriakku memegang kepala. Aku menabrak tembok pembatas.
"Kualat lu," cerca Lusi. Putri yang jail kok aku yang kena karma.
Karena kelamaan di dapur, kami ngak jadi pergi kuliah.
Ting... ting...
Ting... ting...
"Siapa itu?" Tanyaku penasaran dan menuju ruang tamu dan membuka pintu.
"Eh Karisa, ayo masuk," ajakku ketika melihat karisa berdiri di depan pintu.
"Siapa Laras?" Tanya Putri dari dapur.
"Karisa datang," jawabku. "Buatkan minuman," teriakku dari ruang tamu.
"Oke," jawab Putri.
"Buatkan minuman apa ya?" Tanya Lusi.
"Alah... itu ada susu terus campur bubuk mangga campur es, selesai," jawab Putri dengan bangga.
"Gila, pagi-pagi kamu kasih anak orang minum es, sakit perut dia tanggung jawab kamu," kata Lusi.
"Ya udah, kamu yang bikin sana," kata Putri.
"Kamu bilang takut anak orang sakit perut, itu kamu tambahin es," cerewet Putri.
"Udah... udah... ssshhhhttttt," kata Lusi meletakan jari telunjuk di mulutnya.
Lusi meletakan minuman di atas napan dan beberapa makanan ringan lalu mengangkatnya keruang tamu. Putri mengekor dari belakang.
"Silakan di makan Karisa," kata Lusi ramah.
"Terima kasih," jawab Karisa.
"Ngak kuliah kamu hari ini?" Tanya Lusi kepada Karisa.
"Ngak, pengen main kesini aja," jawabnya.
"Besok pernikahan Mona, datang yuk," ajakku.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Lusi penasaran.
"Ya tau lah tadi pagi di kadih tau sama Papa Riko, kalian aja yang masih molor," ejekku.
"Mona? Aku seperti mengenalnya, tapi di mana ya?" Tanya Karisa mengingat-ingat.
"Dia berbadan agak gempal, rambutnya bergelombang, dia sering bersama Rino," jelasku.
"Oh dia ya," lirih Karisa.
"Kamu mengingatnya?" Tanyaku penasaran.
"Iya," jawab Karisa mengangguk pelan, dia seperti menyembunyikan sesuatu. "Tapi kenapa cepat sekali ia menikah?" Tanya Karisa.
"Oh itu... karena... karena ia pengen cepat nikah," jawabku.
__ADS_1
"Oh baguslah dia cepat menemukan jodohnya," kata Karisa.
"Hehehe... iya," jawabku dengan ketawa tak enak di dengar.
"Oh ya, aku bawa sesuatu untuk kalian," kata Karisa mengeluarkan 3 kotak hitam.
"Wow... apa ini?" Tanya Lusi penasaran.
"Bukalah," kata Karisa.
Kamipun membukanya dan isinya baju kaos warna abu-abu dan gambar yang sama.
"Waww... cantik banget sama semuanya lagi," kata Putri kagum.
"Iya, aku yang membuatnya sendiri, aku juga punya satu di rumah," kata Karisa tersenyum.
"Oh ya, kamu bisa bikin sendiri?" Tanya Lusi berdecak kagum.
"Iya, aku di modalkan oleh papa aku buat usaha sablon baju, kapan-kapan kalian mampir kerumahku," ajaknya.
"Mau bangeeeeeettt," kata Putri.
"Terima kasih ya karisa," ucapku.
Karisa mengangguk tersenyum.
"Eh, ngomong-ngomong di mana mereka, Rino sama yang lainnya?" Tanya Karisa.
"Ciee... kamu kesini kangen sama Rino ya?" Tanya Lusi mengoda Karisa.
"Eh... aku ingin memberikan baju buat Rino dan teman-temannya yang lain," jawab Karisa.
"Oh kirain rindu, kalo rindu kami sampaikan," kata Putri jaim.
Karisa hanya tersenyum.
Bruum...
Bruum...
"Eh, mereka udah pulang tuh," kata Lusi menunjuk kearah mobil yang baru datang.
Riko langsung menghampiriku. Rino dan Deval juga datang masuk kerumah.
"Karisa," sapa Rino.
"Eh Rino," balas Karisa.
"Udah selesai?" Tanyaku.
"Nanti sore baru bisa di ambil berkasnya," kata Riko.
"Oh iya, aku bawa sesuatu, kalo ngak suka kasih tau aja," kata Karisa mengeluarkan beberapa kotak. "Tapi maaf ya untuk dia ngak ada, aku ngak tau ada teman kalian yang lain, nanti aku buatkan yang baru," kata Karisa memandang kearah Deval.
"Buatkan dua ya, untuk pacar aku juga," kata Deval.
"Baiklah," jawab Karisa setuju.
"Eh, kok sama?" Tanya Riko melihat kearah bajunya lalu melihat kearah baju yang Rino pegang.
"Iya, kalo untuk laki-laki warna hitam, untuk perempuan warna abu-abu," jelasku.
"Oh iya, ini Lusi dan Putri, buat pacar kalian," ujar Karisa menyodorkan 2 kotak kearah mereka berdua.
"Thank ya Karisa," ucap Lusi dan Putri.
Karisa mengangguk tersenyum.
BERSAMBUNG
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH