
"Ya sudahlah jika kamu ngomong begitu, Ayah bisa apa," jawab Ayah melipat tangannya merajuk.
"Astaga, udah tua pake acara merajut, ya udah merajuk aja sana, aku mau kedepan nemenin tamu," kataku melirik Ayah sambil mencibir.
"Om mau minum apa?" Tanyaku setelah meninggalkan Ayah yang sedang merajuk.
"Tudak usah Laras, saya cuma minta sama kamu tolong bantu Om, Om ingin memberika sesuatu kepada Ayahmu, gimana caranya agar dia tidak menolak pemberian Om?" Tanya pak Kim.
"Ohh, kasih aja sama aku Om, pasti Ayah juga akan menerimanya," jawab Laras enteng.
Ayah manyun ketika aku ngomong seperti itu, ia sedang nguping di balik tembok.
"Ya sudahlah kalau begitu ayo, kita tinggalkan Ayahmu yang perajuk itu," jawab pak Kim yang bersiap-siap untuk berangkat.
"Kalian... PERGI SAJA SANAAAAAA...!" Teriak Ayah, aku rasanya ingin terbang akibat teriakan yang sangat kencang itu.
"Udahlah Ayah, ayo lah, pak Kim dia sudah berbaik hati, kita lihat saja, jika Ayah tidak menyukainya Ayah tidak perlu menerimanya, hargai dia yang sudah menyempatkan waktu kesini, habis lihat kita pulang oke!" bisikku memberi saran.
"Bilang aja kamu masih ingin dekat-dekat sama Riko, Ayah kamu jadikan umpannya," kata Ayah mencibir.
"Hadeh Ayah, ini bukan masalah Riko, tapi cara kita menghargai orang," jawabku mengangkat alis.
"Dia saja tidak menghargai kita dulu," kata Ayah membuang wajahnya.
"Nah kita jangan sampai kayak gitu," ujarku memberi nasehat.
"Huh," Ayah masih saja merajuk.
"Kok aku baru tau ya, jika Ayah ternyata pendendam dan juga perajuk," ujarku manyun.
"Ya udah Ayo," jawab Ayah yang masih manyun.
***
Dan pada akhirnya Ayah mau juga di bawa untuk melihat-lihat apa pemberian dari pak Kim.
"Tapi sebelumnya tolong pakai penutup mata ini," kata pak Kim memberika penutup mata kepadaku dan Ayah.
Awalnya Ayah tak mau menerimanya namun langsung kupakaikan di matanya, mau ngak mau dia langsung mau
Mobil melaju di jalanan, dan Riko mengengam erat tanganku, ni anak kenapa?
Dan tak terasa sampailah di rumah pak Kim.
__ADS_1
"Ayo turun," ajak pak Kim kepada kami. Pak Kim menuntun Ayah, dan Riko sendiri dari dalam mobil tidak melepaskan tanganku. Mereka membawa kami kesuatu tempat.
"Ayo buka penutup matanya," kata pak Kim, Ayah membuka penutup matanya sendiri, dan Riko membuka penutup mataku.
Ayah dan aku langsung melongo melihat kejutan dari pak Kim.
Sebuah Rumah yang megah sekali.
"Ini adalah tanda terima kasihku untuk mu Jhoni, batuanmu di waktu itu sungguh sangat membantuku hingga jadi seperti ini, hadiah ini tak seberapa, saya sangat berharap kamu mau menerimanya," kata pak Kim memegang tangan Ayah.
"Kamu tidak perlu berbuat seperti ini Kim, aku ikhlas membantu waktu itu," kata Ayah.
"Sudahlah, terima saja, aku akan membuat pesta pindah rumah untuk kalian," ujar pak Kim.
"Tidak perlu, aku masih betah di rumah lama, kamu juga jangan merasa berhutang besar kepadaku," kata Ayah.
"Anggap saja ini hadiah untuk pernikahan dari anak kita untuk mu, pindahlah di sini, Riko sudah punya rumah sendiri bersama Laras, jangan tinggal sendiri, di sini juga ada pembantu harian yang akan mengurusnya rumahmu dan masalah bayaran gaji pembantu, Riko yang akan membayarnya," kata pak Kim.
Riko senyam-senyum ketika ia akan menikah denganku, aku memandangnya sinis, untuk saat ini aku belum mau menikah.
"Itu terserah Laras nanti, kami akan berunding berdua setelah pulang nanti," ujar Ayah.
Mereka menuju rumah pak Kim untuk makan makan, semua makanan enak tersedia di meja.
"Sila di makan Tuan, Nyonya, nona," ujar pelayan tersebut sopan.
"Laras kena tidak makan?" Tanya Ibu Riko.
"Kami udah makan Ma, mampir di restoran tadi," sahut Riko menjelaskan.
Hari mulai gelap, Ayah dan Pak Kim mengobrol asyik, tiba-tiba ibu Rino datang kerumah pak Kim bertamu ia membawa Rino dan Mona.
Melihat aku dan Riko duduk berdekatan Rino tertegun ketika melihat Riko langsung mengengam tanganku, sedangkan Mona terbelalak melihat aku ada di ruang tamu tersebut, tentu saja, karena sore tadi kami bertemu direstoran.
"Eh, ada Laras di sini," sapa Mama Rino.
"Eh, iya Tante apa kabar?" Tanyaku menjabat tangannya.
"Kabar baik, kamu sama Riko mau menikah juga?" Tanya Tante senang.
"Belum tante..."
__ADS_1
"Iya Tante," tukas Riko memotong pembicaraanku.
"Kalau begitu bisa barengan donk sama Rino," ujar Tante tersenyum. Sedangkan Mona langsung berubah wajahnya, mungkin dia tidak mau.
"Tidak Tante mungkin kami masih lama," kataku menjelaskan.
"Ada apa Lisa?" Tanya Ibu Riko kepada Ibu Rino.
"Ini lho Kak, anak berdua ini 5 hari lagi akan menikah, sedangkan Mona sering sakit perut, karena dia minum minuman yang udah kadaluarsa, saya mau membawanya kerumah sakit, takutnya pas pernikahannya nanti dia masih sakit," jelas ibu Rino.
"Tidak perlu Ma, aku hanya sakit perut biasa kok, palingan bentar lagi sembuh," ujar Mona mencari alasan.
"Tapi tadi kamu parah banget sakitnya, sampe pucat wajahmu hingga keluar keringat dinginmu," kata ibu Riko khawatir.
"Oh baiklah, mari kita kesana semua kerumah sakit, saya juga mau cek tensi, akhir-akhir ini saya sering pusing," kata ibu Riko.
Kami semua berangkat, tak ketinggalan Ayah dan pak Kim juga pergi, kami semua juga mau ngecek kesehatan, mumpung kumpul jadi lebih seru sama-sama.
sesampainya di sana, masing-masing kami mengecek kesehatan. Saat giliran Mona, Mona takut-takut, tapi di paksa oleh ibu Rino, akhirnya ia pun terpaksa di cek.
"Buk, ini sakit emang karena minuman yang sudah kadaluarsa, saya harap jangan ulangi ya, kasian bayinya," saran Dokter Rima.
"Maksudnya apa ya Dok? Bayi apa ya?" Tanya ibu Rino tak mengerti.
"Apa ibu tidak mengetahuinya?" Dokter Rima balik bertanya.
"Apa maksudnya Dokter?" Ibu Rino bertanya lagi.
"Dia sudah hamil 2 bulan buk, selamat ya," ucap Dokter Rima mengulurkan tangannya. Namun tiba-tiba ibu Rino terjatuh lemas. Riko dan Rino langsung berlari menyambut tubuh lemah Ibu Rino.
"Apa yang terjadi? Kenapa ibumu Rino?" Tanya ibu Riko yang asyik mengobrol dengan Ayah dan Ayah Riko.
"Nanti dulu Ma, kita bawa naikkan Tante ke atas kasur dulu," jawab Riko dan Rino berusaha mengangkatnya.
"Mona sudah hamil 2 bulan," kata Ibu Rino setelah semuanya agak tenang barulah Ibu Rino bercerita, sedangkan Mona tertunduk malu.
"Apaaaa... ," teriak Ibu Riko terkejut, Ayah dan pak Kim juga kaget mendengar berita tersebut.
BERSAMBUNG
JANGAN LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1