
"Ih aku iri... acara di nyatakan cintanya saja sudah semeriah ini, bagaimana acara pernikahanmu nanti, aku mau, aku mau," ujar Putri memukul-mukul leganku.
"Ya udah minta sama Ari gih," ujarku.
"Yeee... dia aja ngak suka sama aku, gimana aku minta di bikin acara kayak gini," ujar Putri mencibir.
Duar...
Duar...
Duar...
Kembang api di tembakkan meskipun tidak terlihat jelas cahayanya. Anak-anak bertepuk tangan yang meriah.
Tak hanya itu saja Radit membawakan kue tar di hadapan kami.
"Waaaaw...," aku bedecak kagum melihat kue yang tak hanya enak namun indah di pandang.
"Ayo potong kuenya," kata salah satu Dosennya.
Riko mengambil pisau pemotong kue dan memegang tanganku untuk memotong bersama-sama. Aku mengigit bibirku karena gugup sekali, di lihat eh ribuan anak-anak kampus dan di soraki.
Setelah kami memotong, semua yang ada di sana bertepuk tangan, Riko menyuapi kue kemulutku, lalu ia memintaku menyuapinya dan aku menolak.
Riko menyiapkan uang seratus juta untuk di bagi-bagikan di hari bahagia ini dan menghadiahkan seratus juta untukku. Aku rasanya seperto kaya mendadak. Aku pun tak tau, jika Ayahnya tau, apa Riko akan di habisi oleh Ayahnya menghamburkan uang sebanyak itu.
"Bukannya kamu orang kaya yang pelit?" Tanyaku memutarkan bola mata.
"Itukan dulu karena aku ingin mengerjaiku saja, apa kamu tak dengar waktu itu aku bilang hanya anak dan istriku yang boleh menghabiskan uangnya," jelasnya.
"Kapan?" Tanyaku tak ingat.
"Waktu kamu ngejar Doni," jawabnya.
"Oh ngak dengar aku, ketimbang dengar kamu ngoceh mending aku pergi," tuturku.
Mereka semuanya pada berdatangan dan bersalaman mengucapkan selamat kepada kami, karena capek aku lari dari keramaian dan membiarkan Riko dan teman-teman lain menerima ucapani selamat dari mereka.
__ADS_1
Aku berjalan sendiri di tempat sepi tak sengaja aku melihat Doni dan Mona berdua dari kejauahan, aku langsung bersembuyi di balik tembok, sepertinya mereka tidak menyadari kedatanganku karena mereka pikir kami masih bersuka cita di sana.
Aku tidak mendengar ucapan mereka yang pasti Mona menagis, sesekali ia menjerit, tapi karena jauh tetap saja tidak kedengaran. Ada apa antara mereka berdua?
Aku mengawasi mereka berdua seperti detektif, aku melihat Doni yang mengangkat tangannya namun tidak jadi, apa dia ingin memukul Mona?
Dan tak lama Doni meninggalkan Mona sendiri menagis tersedu-sedu. Sepertinya sedih sekali.
Lewat 15 menit aku menghampiri Mona yang masih duduk di kursi dengan kepala tertunduk menangis, aku duduk di sampingnya dan seketika itu ia kaget melihat kedatanganku dan melirik kiri kanan.
"Ada apa denganmu Mona?" Tanyaku perhatian.
"Apa kamu melihat sesuatu?" Tanyanya gelagapan.
"Apa yang kamu maksudkan aku tidak mengerti? Emangnya aku melihat apa? Aku baru saja datang dan aku melihatmu sendirian duduk di sini menangis di saat anak-anak di sana berkumpul ria dan kenapa kamu di sini?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Tidak apa-apa," jawabnya lega.
"Tak menyangka kita bisa duduk berdua tanpa pertengkaran," ujarku tersenyum kecut.
"Bukankah hari ini adalah hari bahagiamu? Kenapa kamu ada di sini, tidak menemani Riko?" Tanyanya mengalih pembicaraan.
"Dan kamu menangis sendirian di sini tanpa teman, jadia biarkanku menemanimu sebentar," kataku melihat kewajahnya yang sudah bengkak matanya.
"Aku tidak perlu di temani, pergi saja, aku baik-baik saja," ujarnya mengusirku.
"Aku mau di sini dulu, menjelang kerumunan bubar, jadi ingin bicara denganmu dulu," kataku lagi. Mona hanya terdiam menundukan kepala, setidaknya jika aku di sini dia tidak akan menangis, karena menangis itu bikin sakit kepala.
"Kenapa kamu bisa ada di rumah yang di siapkan pak Kim untuk sahabatnya?" Tanyanya memulai pembicaraan.
"Karena Ayahku adalah sahabatnya," jawabku cepat.
"Oh," ujarnya singkat.
"Dan kamu sebentar lagi mau di test, persiapkan dirimu dan jaga bayinya baik-baik, itu adalah titipan yang sangat berharga dari Tuhan. Mona apapun kenyataan terima saja, itu adalah jalan hidup, kau akan mengerti nanti," nasehatku.
"Emang kau tau apa tentangku," ujarnya dengan nada sedikit meninggi.
"Aku memang tak tau tentang dirimu, tapi aku juga pernah merasakan perasaan sakit, dan itu membuatku hilang akal, namun kukendalikan karena ada seseorang yang berharga yang masih menungguku di rumah, begitu juga denganmu, jika kau baik-baik merawat bayimu, kau pastilah orang terbangga di dunia ini bisa memiliki bayi, dan kau pasti menjadikan ia paling berharga di dunia ini tanpa apapun," jelasku panjang lebar. Mona memegang perutnya sedikit membuncit.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu jika bayi ini tanpa Ayah? Dan Ayahnya tidak ingin bertanggung jawab?" Tiba-tiba Mona menanyakan sesuatu membuatku kaget, namun kembali bersikap tenang.
"Tidak ada yang paling berharga selain anak Mona, besarkan saja dia, bayi ini tidak bersalah apapun, jika ayahnya tidak menginginkannya maka biarkan saja, jika kau tak menginginkannya juga tempatkan ia di panti asuhan dan jangan kau renggut kehidupannya, suatu saat nanti kau pasti membutuhkan dia," jelasku lagi.
"Emang apa yang aku butuhkan dari bayi ini?" Tanyanya lagi.
"Siapa yang tau, bahwa anak yang tak kau inginkan adalah penolongmu nanti, anak itu bukan hanya pembawa rezeki orang tuanya, ia juga pembawa kebahagiaan," jawabku. Mona terdiam kembali menatap perutnya dan mengigit bibirnya.
"Ya sudah aku mau pergi dulu," ujarnya langsung nyelonong pergi. Semoga saja bayi di kandungannya tidak ia gugurkan.
"Laras, di cariin ternyata kamu di sini," ujar Lusi terpogoh-pogoh.
"Kenapa?" Tanyaku melihat Lusi dan Putri seperti orang pingsan habis berlari.
"Main ngilang aja, Riko mencarimu katanya ia mau mengatakan sesuatu," kata Putri.
"Iya," sambung Lusi mengangguk.
"Ngak mau, acara yang memalukan seumur hidupku dan Riko juga kekanak-kanakan," jawabku sebel.
"Udah ayo aja kesana, jika kamu tak mau bilang saja dengannya sendiri," ujar Putri.
"Ya udah ayo sana," ajakku dari kejauhan aku melihat anak-anak kampus, mereka masih bersenang-senang.
"Riko," panggilku.
"Yah ini dia Ratu nya," teriak mereka yang melemparku dengan tepung dan menabokku dengan kue tartnya. Hais sayang banget kue yang seharga jutaan itu malah jadi mainan.
"Udahlah Riko, apa kamu menjadikan kampus ini sebagai bar," tukasku.
"Ngak apa-apa jarang-jarang kampus kita bersuka cita seperti ini," kata salah satu Dosen. Astaga Dosenya saja mendukung, kapan selesainya. Wajahku tak berbentuk lagi, full cream pindah dari kue kewajahku, dan tak lupa mereka mengambil fotoku.
"Udah ah, tolong Put ambilkan tissu," ujarku menunjuk ke arah tissu.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA
TERIMA KASIH
__ADS_1