
"Kamu hanya di jodoh sajakan? Kamu hanya menerima dan tidak mencintainyakan?" Tanya ibu Lisa berharap.
"Maaf Tante, jauh sebelum aku tahu jika ia anak dari sahabat papa aku sudah menyukainya, Lisa dari dulu juga sudah ku anggap seperti adikku sendiri dan aku tak punya perasaan apa-apa," jawab Riko.
Ibu Lisa menarik nafas panjang lalu menghempasnya.
"Jadi Begitu ya, sepertinya memang tak ada kesempatan lagi untuk Lisa, hais... anakku yang malang, cintanya bertepuk sebelah tangan," ujar ibu Lisa sedih.
"Ya sudahlah jika begitu, kamu menjaga Lisa Tante sangat berterima kasih, dan kamu pulanglah, kamu pasti capek sekarang biar Tante yang jagain," ujar ibu Lisa tersenyum.
"Iya Tante, jika begitu saya permisi dulu Tante," pamit Riko. Ibu Lisa mengangguk. Riko pergi terburu-buru keluar dari rumah sakit, dan ibu Lisa kembali masuk keruang inap.
"Di mana Riko tadi Ma?" Tanya Lisa ketika melihat ibunya masuk.
"Dia sudah pergi," jawab ibunya. Lisa terdiam, ia nampak kecewa karena Riko pergi tanpa pamit dengannya, ia ingin sekali melihat wajah Riko sebelum Riko pulang.
Tok...
Tok...
Tok...
"Laras cantik, buka pintunya donk," goda Riko dari balik pintu. Aku pun keluar mendengar teriakan Riko yang terus menerus membuat aku tak fokus dengan tugasku. Aku membuka pintu dan melihat Riko dari atas sampai bawah, tanpa pikir panjang Riko masuk ke kamarku.
"Hey... ngapain kamu?" Tanya berlari mengejarnya.
"Aku numpang tidur sebentar," ujarnya baring di ranjangku. Ia menghempas tubuhnya, sepertinya ia sangat lelah karena tadi malam kurang tidur.
"Kalo mau tidur kenapa ngak di rumahmu atau di rumah orang tuamu?" Tanyaku manyun.
"Sepertinya kamu tidak ingin keberadaanku," ujarnya merentangkan tangan di ranjang.
"Ya bukan begitu, kita itu masih tunangan, belum suami istri, nanti apa kata orang," jawabku kembali menatap laptopku.
"Kamu ngerjain apa?" Tanyanya mendekatiku.
"Aku di kasih tugas oleh buk Andin buat mendesain sebuah perusahaan, jadi aku pelajari dulu tata ruangannya, jadi aku itu di sana jadi anak magang selama seminggu," jelasku.
"Oh," jawabnya singkat.
"Habis aku minta sama buk Andin untuk mendesain perusahaan papa kamu ngak boleh," ujarku merajuk.
"Ya iyalah, papa mendatangkan desain tekenal dari internasional, tapi tenang aja kamu punya kesempatan untuk mendesain," ujar Riko menyipitkan sebelah matanya sambil tersenyum.
"Wah! Beneran," teriakku kesenangan.
"Iya, mendesain rumah kita nanti," jawab Riko terkekeh. Aku langsung manyun.
__ADS_1
"Udah sana tidur, jangan ganggu pekerjaanku," ujarku sewot. Riko kembali ke ranjang tak ternyata ia langsung molor. Sepertinya Riko sangat ngantuk, aku membesarkan AC-nya lalu menyelimutinya agat tidurnya nyaman.
Aku kembali melihat selembar kertas tentang perusahaan yang tadi di beri oleh buk Andin untuk di pelajari sedikit rumit jika aku tidak melihat langsung bentuk perusahaannya. Tanpa aku sadari aku juga tertidur karena tadi malam kurang cukup tidur.
Tok...
Tok...
Tok...
"Laras," panggil Lusi dari balik pintu kamar. Aku terbangun, pelan-pelan membuka mata dan berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Seperti biasa, Lusi langsung masuk ketika ia hendak melopat ke kasurku ia berhenti kaget.
"Astaga Laras, kamu tidur bersama ya?" pekik Lusi. Putri penasaran yang ikut masuk kedalam kamar.
"Wah... Laras, kamu sekarang berani ya main api asmara cinta?" ujar Putri menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Hey... kalian ngomong apa sih? Jangan berisik Riko tadi malam ngak tidur, aku ketiduran di meja tuh lagi mau ngerjain tugas di kasih buk Andin," jawabku menunjuk ke arah meja belajarku.
Putri dan Lusi mengangkat alisnya, seolah-oleh mereka tak percaya.
"Siapa yang tahu," celetuk Lusi melihat ke arah Putri.
"Terserah kalian deh! Tapi sekarang ayo keluar, jangan ganggu Riko tidur," usirku sambil mengambil laptop dan selembar kertas untuk di bawa keluar. Lusi dan Putri masih terpaku berdiri. Aku mendorong keluar kedua sahabatku itu.
"Ayo keluar, apa kalian mau tidur dengannya juga?" Tanyaku sewot.
"Kamu ngerjain apa sih?" Tanya Lusi ketika melihat aku serius menatap selembar kertas.
"Ada tugas dari buk Andin suruh mendesain sebuah perusahaan," jawabku.
"Wah... kamu udah dapat tugas, kok kami belum ya?" Tanya Putri tak terima.
"Ya karena aku terlihat pintar kali, makanya buk Andin memberikan kepadaku," jawabku tertawa.
"Ye... mulai deh! Muji diri sendiri," ujar Lusi mencibirkan bibirnya.
Tak lama Riko bangun dan berjalan sempoyongan duduk di sampingku.
"Kamu kalo ngantuk ngapain kesini? Tidur aja sana," ujarku melihat ke arah Riko.
"Biarkan aku tidur di sini sebentar, habis itu aku mau pulang," jawabnya menyenderkan tubuhnya ke sofa. Aku mengeleng-gelengkan kepala dan kembali fokus ke laptop. Lusi dan Putri manyun sambil menatap ponselnya.
Hari semakin gelap, Lusi dan Putri pamit pulang dan begitu juga Riko.
"Kami pulang dulu ya," ujar Lusi.
"Iya, kalian hati-hati," jawabku menatap kepergian mereka. Sedangakan Riko nyelonong masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Aku masuk kamar dan kembali fokus ke laptopku remang-remang mataku karena terlalu lama melihat layar laptop aku jadi mengantuk dan tertidur di meja lagi.
xxx
Tiiit...
Tiiit...
Tiiit...
Alarm berbunyi yang sengaja ku stel agar aku tidak telat datang keperusahaan tempat aku magang.
Cepat-cepat aku menyambar handuk dan langsung masuk kamar mandi. Kemudian bersiap-siap dan keluar dari kamar.
"Ayah, aku pamit pergi," ucapku sambil memakai sepatu buru-buru.
"Iya, hati-hati," pesan ayah.
Aku langsung mengengkol motor ayah dan melaju pergi.
"Hey... Laras, kenapa motor Ayah di bawa," teriak ayah dari kejauhan, cuma aku pikir mungkin ayah sedang mengobrol dengan seseorang, makanya aku tak peduli dan tetap melaju.
Aku mencari-cari alamatnya dan yang ku tulis di ponselku, ternyata cukup jauh juga sampai minyak motor ayah sampai habis. Akhirnya sampai juga setelah aku bertanya dengan beberapa orang.
"Jadi di sini? Terpencil sekali tempatnya," ujarku memarkirkan motor. Aku masuk kedalam dan menanyai pimpinannya.
"Oh mbak yang di suruh ke perusahaan ini ya untuk mendesain," ujar pegawai perempuan itu.
"Iya benar sekali," jawabku mengangguk.
"Kenalkan nama saya Wani," ujarnya menyodorkan tangan.
"Laras," jawabku membalas salamannya.
"Ya sudah, ayo ikut saya," ujarnya tersenyum ramah. Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
"Permisi pak Nona Larasnya sudah datang," panggil Wani.
"Ya, biarkan dia masuk," ujar pimpinan itu.
Wani membukakan pintu untukku. "Silakan masuk," ujarnya. Aku pun masuk kedalam dan kembali di tutup oleh Wani.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
TERIMA KASIH
__ADS_1