Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Momen di nyatakan cinta


__ADS_3

"Eh, udah ngak main-main lagi," kata Riko menyerah. Aku menatap Riko tajam sambil mengigit kentucky.


"Kenapa seperti aku ya di gigit ya," ujar Riko merinding memegang tengkuknya.


"Jika kamu berani menjailiku lagi, beginilah akan kubuat," kataku mengunyah ayam dengan ganasnya.


"Cemen, Riko takut istri," ujar Ari mencibir.


"Idih, siapa istrinya," ujarku sewot.


"Kamu ngak mau jadi istriku?" Tanya Riko menaik turunkan alisnya.


"Tergantung juga, kalo kamu romantis kayak kak Doni," ujarku memutar bola mata.


"Doni lagi, Doni lagi," jawabnya sebal. Mendengar Riko mengerutu, aku mengambil tas pergi keluar dari restoran dan menyetop taksi.


"Laras tunggu!" teriak Riko. Aku tidak memperdulikan panggilannya dan langsung naik taksi. Riko mengejarku namun tidak keburu karena aku menyuruh supir taksi untuk melajukan taksinya pergi.


"Pak pelan saja," ujarku ketika sudah 800 meter dari restoran Riko. Tak lama Riko lewat dengan mobilnya yang kencang, aku udah tau jika dia akan mengejarku, terserah dia mau cari di mana.


Aku bingung mau kemana ya? Oh lebih baik kerumahnya ngobrol sama Bibi, udah lama ngak ketemu dia.


"Pak ke jalan Melati ya," kataku.


"Baik mbak," jawab pak supir mengangguk.


Sesampainya di sana.


"Bibi," panggilku.


"Eh, Neng Laras, apa kabar?" Tanya Bibi senang.


"Baik-baik saja, Bibi apa kabarnya?" Tanyaku memeluk Bibi.


"Bibi baik-baik saja, tiba-tiba datangnya ngak ngasih tau dulu 'kan bisa Bibi siapin makanan buat Neng," ujar Bibi.


"Udah ngak apa-apa, ayo masak sama-sama Bi," ajakku.


"Ayolah, Neng Laras suka makan apa?"


"Nasi goreng spesial donk," ujarku.


"Baiklah," kata Bibi mengambil pisau pemotong. Karena Bibi terbiasa masak, jadi ia sangat cepat memotong bawang dan cabenya.


"Wih... hebat Bibi," aku bertepuk tangan sebagai tanda apresiasi. Aku membantu mensuirkan daging ayam yang sudah di goreng.


Selesai memasak Bibi menyajikan di atas piring dan menaruhnya di meja.



"Silakan di nikmati," ujar Bibi.

__ADS_1


"Waaaw... enak banget," kataku setelah mencicip 1 sendok.


Clek.


"Laras rupanya kamu di sini," ujar Riko terpogoh-pogoh.


"Kenapa?" Tanyaku heran. Riko langsung memelukku erat.


"Aku udah nyari di mana-mana rupanya kamu di sini, kutelpon juga ngak di angkat-angkat, Ayah juga ngak tau kamu di mana, kukira kamu di culik orang," omel Riko.


"Udah jangan mengomel lagi, apa lagi dekat dengan telingaku, bisa budeg aku," balasku. Riko pun melepaskan pelukannya.


"Kamu jangan ngilang kayak gini lagi ya," bujuk Riko.


"Alah, sekarang iya kamu peduli kalau udah jadi kamu biarkn kemanapun aku pergi," ujarku mencibir.


"Aku janji kita selamanya seperti ini, ini Bibi sebagai saksinya," kata Riko mengulurkan jari melingking.


Aku hanya memandang jarinya sambil memakan nasi goreng. Riko mengambil tanganku dan menyelipkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.


"Aku janji apapun yang kamu lakukan aku akan terima, karena kehilangan kamu, aku seperti orang gila tadi mencarimu kesana kemari," ujarnya mengengam erat tanganku.


"Jika kamu siap, mantapkan hatimu dari sekarang, jangan menyesal ini sudah jadi janjimu, kamu tepatilah nanti," kataku datar.


"Iya aku janji, malam ini tidur di sini ya," ajaknya.


"Aku mau membereskan barang-barangku," kataku melepaskan pegangan tangannya dan kembali makan.


"Untuk apa?" Tanyanya heran. Aku menyendokan nasi dan menyuapkan kemulutnya.


"Kerumah baru ya," godanya.


"Iya."


"Aku bantu ya," tawarnya.


"Udah di beresin sama Ayah dan orang-orang Papamu,"


"Malam ini tidur di sini ya," ajaknya lagi.


"Kamu mau mati di hantam Ayah?" Tanyaku menyipitkan mata.


"Ngak, Ayah garang wey, macam harimau," tukasnya.


Buuk.


***


Pagi yang indah, semoga di awali hati yang ceria, aku bangun dari tempat tidurku yang bagaikan permadani permaisuri, tidur yang nyenyak, karena setelah lelahnya semalam merapikan barang-barang, dan Riko juga membantu, tapi bantuannya malah bikin aku tambah repot pada akhirnya kutendang keluar dan kuusir pulang.


"Udah bagngun nduk?" Tanya Ayah melihatku kedapur yang masih lesu karena mengantuk.

__ADS_1


"Ayah ngapain?" Tanyaku melihat Ayah yang sedang beres-beres.


"Ayah mau jualan, kamu sana siap-siap kuliah," ujar Ayah.


"Ya Ayah," jawabku mengaruk-garuk tengkukku. Aku kembali lagi kekamar karena si setiap kamar ada kamar mandinya masing-masing.


Sudah segar rasanya aku langsung duduk di meja rias. Di rumah biasanya aku hanya pakai kaca kecil segi empat, sekarang bisa berdiri berputar-putar melihat postur tubuhku.


Aku sudah bersiap-siap ketika melangkahkan kaki Riko datang menyusul.


"Selamat pagi sayang," sapanya.


"Sayang? Kapan aku jadi sayangmu?" Tanyaku mencibir.


"Nanti," jawabnya ceria.


"Ada apa dengan anak ini," pikirku.


Sesampainya di kampus anak-anak pada berkumpul melihat keramaian dan tentu saja teman-teman Riko sudah menyiapkan kejutan.


"Ada apa ini ramai-ramai apa ada pertandingan?" Tanyaku heran ketika aku melihat anak-anak pada megang karton yang tulisannya terima.


Tak berapa lama datang Lusi dan Putri membawakan buket bunga mawar dan buket uang dan memberikan kepada Riko.


Tiba-tiba saja Riko berlutut membuat aku sangat kebingungan.


"Laras wati, maukah kamu menjadi pasanganku, susah senang bersama, aku sudah tau sifatmu yang kasar itu, dan aku menerimanya dengan ketulusan hatiku, maka dari itu aku ingin kita bisa mengisi satu sama lain, melengkapi satu sama lain, jadi apa kau menerimaku?" Kata Riko dengan membawa segenap hatinya.


"Terima... terima... terima... terima... terima," Sorak anak-anak dan para Dosen malah ikut-ikutan, sepertinya mereka mendukung sekali agar lelaki di depanku tidak jomblo lagi.


Aki bingung dengan suasana ini, terdiam menatap Riko dalam-dalam. Riko ini tau saja membuat aku dalam posisi terjepit, karena jika ia menyatakan cinta di tempat biasa aku bakal enggan menerimanya dan menganggapnya lelucon, jadi mau tak mau sekarang...


"Baiklah aku terima," kata-kata itu meluncur dari mulutku dengan mulus.


"Waaaaaaaaa........," jerit anak-anak kampus meloncat-loncat melambungkan karton mereka sambil berpelukan satu sama lain, aku yang di nyatakan cinta kenapa mereka yang senang.


Belum sempat Riko memelukku, malah dia di peluk duluan oleh teman-temannya dan di angkat tinggi-tinggi. Dan tak lupa teman-teman yang di atas gedung membuka sebuah baliho yang bergulisan...


SELAMAT UNTUK RIKO DAN LARAS


Dan tak lupa mereka menerbangkan 1000 balon ke udara yang di bawahnya di ikatkan sebuah tulisan...


LOVE RIKO DAN LARAS


"Selamat Riko kamu udah ngak jomblo lagi, jangan lupa carikan untukku juga," Teriak salah satu Dosen yang masih status lajang.


Semuanya cekikikan dan merayakan atas keberhasilan Riko menyatakan cintanya padaku. Putri dan Lusi menghampiriku.


"Cie... cie... teman kita udah laku nih," ejek Lusi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA


TERIMA KASIH


__ADS_2