Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Di tampar


__ADS_3

Karena tidak kuat lagi, kami pulang meski kepala masih terasa sakit.


"Kami pulang dulu ya, kamu jangan sedih lagi" kata Lusi menghibur.


"Iya aku ngak apa-apa" jawabku tersenyum.


Mereka berdua langsung melajukan motornya masing-masing.


"Eh di mana Ayah?" tanyaku kebingungan ketika melihat rumah kosong.


Tak berapa lama Ayah pulang.


"Eh Ayah dari mana, tumben ngak di rumah?" tanyaku metika melihat Ayah.


"Iya tadi Ayah bertemu dengan teman lama ayah, sekarang ia sudah sukses, Ayah malah tambah terpuruk, kapan-kapan kita di ajak makan bersama keluarga besarnya" jelas Ayah sambil membereskan jualannya.


"Oh begitu"


"Ya, sekarang dia sedang sibuk jadi tidak sempat" jelas Ayah, kelihatannya dia senang banget ketemu sama teman lamanya.


"Ya sudah sana kamu istirahat, besok kuliah" kata Ayah lagi.


Aku pun pergi kekamar dan beristirahat.


***


Tintin... tintin...


Alarm berbunyi membangunkanku dari tidur. Pagi yang cerah semoga secerah hatiku nanti.


Seperti biasanya berangkat ke kampus.


"Laras" panggil Rino.


"Rino"


"Udah sarapan?" tanyanya.


"Belum nih" jawabku.


"Sarapan bareng yuk" ajak Rino.


"Boleh" kataku setuju.


Ketika kami mau menuju ke arah kantin



"Rino" panggil seseorang yang suaranya kukenal.


Kami berbalik memandang ke arah suara tersebut.


"Riko?" Aku dan Rino bersamaan memanggil namanya.


"Laras" panggil Riko.


"Kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku sambil menundukkan kepala.


"Apa kalian saling mengenal?" Tanya Rino penasaran.


"Ya dia pacarku" jawab Riko.


Aku hanya diam membisu, meskipun Riko belum menyatakan cintanya padaku, tapi aku tau jika dia menyukaiku, aku juga binggung dengan perasaanku.


"Apa benar Laras?" Tanya Rino penasaran.

__ADS_1


"Bukan, kami hanya teman" jawabku dan langsung meninggalkan mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca.


"Laras" panggil Riko yang ingin mengejarku.


"Jangan di kejar lagi, biarkan dia menenangkan dirinya" kata Rino berusaha menahan Riko.


"Tapi..."


"Sssstttt, setelah dia tenang baru kamu datangi dia" kata Rino lagi.


"lagian, ngapain kamu di sini, ini bukan kampusmu juga?" Tanya Rino meledek.


"Ini sudah jadi kampusku, aku udah pindah kesini" jelas Riko.


"Kamu pasti merindukanku" goda Rino. Rino adalah sepupu Riko yang hobinya balapan.


"Ogah aku kangen sama kamu" kata Riko manyun. "Aku kesini mau nemui Laras" sambungnya lagi.


"Ya tau aku, tau" jawab Rino mencibir.


Tak berapa lama di internet tersebar foto. Semua anak penasaran siapa yang ada di foto tersebut.


Beberapa jam kemudian datanglah beberapa mobil ke kampus kirin tersebut.


Dan ternyata adalah Ayah Riko.


"Mana Laras?" Tanya pak Kim marah.


"Papa kenapa bisa di sini?" Tanya Riko heran.


"Papa tau Laras berkuliah di sini dimana dia?" Tanya pak Kim lagi.


Mendengar namaku di panggil. Aku harus mengadapinya.


Plakkk...


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Rasanya pedar dan sangat sakit.


"Ini kamu lihat" kata pak Kim melemparkan selembar foto.



Ini adalah fotoku dan Riko ketika makan di restoran kemarin. Pasti mereka yang mempotret kami yang menyebarkannya, tapi kenapa baru sekarang di saat aku sedang senggang dengan keluarganya Riko.


"Sudah berkali-kali kubilang, jauhi Riko apa kamu anggap ancaman saya bercanda" teriaknya marah.


"Papa cukup! Laras ngak bersalah , aku yang salah pa" teriak Riko menghadang papanya.


"Karena dia kamu rela pindah kampus, baiklah Papa sudah bilang jika kamu mendekatinya Papa akan menghancurkan hidupnya, kalo begitu Buk Rahim tolong Black list nama Laras dari kampus manapun" tegas pak Kim.


"Ta... tapi pak Kim" kata Buk Rahim tak tega.


"Dengarkan ucapan saya" kata Pak Kim memandang tajam ke arahku.


"Baiklah, ayo Laras ikut Ibuk" kata Buk Rahim kasihan melihatku.


Aku mengikuti Buk Rahim ke ruangan dosen.


"Laras" panggil Riko.


"Cukup Riko masuk mobil" bentak Pak Kim.


Para pengawal menarik tangan Riko membawanya masuk kedalam mobil.


Sesampainya di ruang dosen, Buk Rahim menarik nafasnya panjang dan menghempasnya dengan pelan.

__ADS_1


"Laras Ibuk tau perasaanmu, kamu pindah kesini juga karena Pak Kim 'kan?" Tanya Buk Rahim membenarkannya.


Aku mengangguk sambil menangis.


"Sayang sekali, kamu adalah murid yang termasuk berbakat, tapi malah di Black list dari kampus manapun, tapi Ibuk percaya kamu pasti menemukan jalan keluarnya" kata Buk Rahim menghibur.


"Tapi kenapa kamu berpacaran dengan anaknya?" Tanya Buk Rahim sambil memelukku.


"Aku tidak berpacaran dengannya Buk, duku itu aku hanya pacaran bohongan cuma 1 hari karena dia minta tolong denganku, dia tidak menyukai perempuan anak dari teman Ibunya" jelasku sambil menangis.


"Maskipun kamu jelaskan yang sebenarnya pada pak Kim rasanya dia tetap tidak akan mempercayaimj nak, kamu yang sabar ya" kata Buk Rahim lagi dan melepaskan pelukannya.


"Ya sudah Buk aku pulang dulu" kataku sambil mengelap air mataku.


"Ya kamu jelas baik-baik pada Ayahmu, sepertinya dia sangat menyayangimu, dia pasti juga sangat sakit hati jika mendengarkanmu di keluarkan lagi dari kampus yang bukan kesalahannmu" jelas Buk Rahim.


"Ya Buk terima kasih atas sarannya, saya pergi dulu" kataku melangkahkan kaki dwngan lemas.


Ketika aku melangkahkan kaki ke arah pintu keluar kampus Rino menyusulku.


"Laras, kuantar pulang, bahaya jika kamu pulang dengan keadaan seperti ini" ajak Rino.


Aku mengangguk setuju.


Rini buru-buru menuju mobilnya dan langsung menuju kearahku.


"Ayo naik" ajaknya.


Aku membuka pinti mobil dan duduk si kursi penumpang.


"Nih minum dulu, biar ada tenaga habis nangis tadi" hibur Rino membuatku tersenyum kecil.


"Gitu donk, tapi meskipun kamu dalam keadaan menagispun kamu tetap cantik, apa lagi kalau tersenyum" gombalnya. Aku tau dia ingin membuatku tersenyum lagi.


"Terima kasih" ucapku.


"Jangan pulang dulu ya kita main-main dulu, terserah kamu mau kemana, hari ini aku akan jadi supir pribadimu" kata Rino penuh semangat.


"Ngak usah, kamu cukup antar aku pulang saja dan kembali kekampus" ujarku.


"Baiklah" ujar Rino langsung melesat mobilnya di jalanan membuatku jantungan.


"Rinooooo... apa-apaan kamu, berhenti sekaranggggg!" Teriakku ketakutan. Gila ini lebih cepat dari Riko cara membawanya.


"Ini agar kamu tidak sedih lagi" ujarnya lagi.


"Iya, tapi aku belum mau mati" teriakku.


Mendengar omonganku Rino pun memelankan mobilnya.


"Heh! Kupikir karena kamu syok langsung mau bunuh diri, ternyata kamu takut mati juga" katanya mengejek.


"Aku masih punya Ayah yang menyayangiku, tadi yang ku tangisi bukan karena aku di keluarkan, tapi bagaimana perasaan Ayah nanti, selama ini dia sudah berjuang untuk menguliahkanku, jika dia tau, dia pasti sangat sedih melihat aku yang seperti ini, aku tau Ayah sedih bukan karena aku di keluarkan, tapi ia sedih jika aku besedih" kataku mengingat Ayah.


"Orangtuamu sangat perhatian sekali" ujarnya lagi dan kembali melajukan mobilnya.


"Rinoooooooooooooo..."


BERSAMBUNG


JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN YA



__ADS_1


__ADS_2