
Kenapa harus peduli, toh selama ini aku memang bukan idamannya, Dia hanya mempermaikanku saja untuk ngilangin suntuk.
Aku berjalan sesekali berlari dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa aku sedih? Ini seharusanya tak boleh terjadi padaku, kenapa aku harus merasakan sakit hati, Tuhan ada apa denganku?".
Aku sungguh tak peduli terkadang aku menabrak seseorang, aku pun berlari dan terus berlari tak tau aku harus kemana.
Satu-satunya jalan yang terbaik adalah pulang.
Aku pulang dengan mata sembab, aku ngak mau ayah melihatku seperti ini, akhirnya aku pun pergi ke toilet umum untuk memberaihkan wajah agar tak terlihat jika aku habis menangis.
Selesai itu barulah aku memberanikan diri untuk pulang.
Sesampaiku di rumah kelihatannya ayah sedang tidak ada, kira-kira ayah kemana?
Aku pun masuk ke kamar, tebaring menatap langit-langit, kenapa rasa sakitnya masih terasa, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini.
Dan teringat nomor kak Dodi, baiklah aku akan menelponnya.
Tuuut... tuuut...
"Halo"jawab kak Doni.
"Ya halo kak"jawabku juga.
"Ada apa Laras?"tanyanya.
"Kakak sedang apa?"aku balik bertanya.
"Aku sedang mengerjakan tugas di cafe"jawabnya.
"Hmm..boleh aku kesana?"tanyaku ragu-ragu.
"Boleh, kesinilah Aku juga ngak punya teman"jawabnya setuju.
"Di mana alamatnya kak?"tanyaku lagi.
"Sebentar kakak share lokasi aja ya"jawabnya.
"Oke!"kataku mematikan panggilannya.
Masuk pesan lokasi, aku pun menelpon Ayah.
Tuuuut... tuuuut...
"Halo"jawab ayah.
"Halo ayah, ayah dimana?"tanyaku.
"Masih jualan, kenapa?"tanya ayah.
"Aku mau pergi ketemu temanku dulu ya yah"
"Iya, tapi jangan lama-lama pulangnya ya"ucap ayah mengingatkanku
"Ya ayah, ya udah aku berangkat dulu ya yah"pamitku.
"Ya"jawab ayah singkat dan mengakhiri panggilan.
Aku siap-siap ingin berangkat, jika di pikir-pikir yah, palingan di cuekin lagi, tapin ketimbang aku menagis sakit hati untuk apa gunanya juga.
Aku pun berangkat menuju lokasi dimana kak Doni berada, setelah sampai di cafe, aku melihat papan nama ternyata "RIKO CAFE".
Gimana nih, masuk ngak ya? Inikan cafe milik Riko.
__ADS_1
"Ah iya, bukanya Riko bersama pacarnya tadi? Ngapain di pikirkan"hiburku kepada diri sendiri.
Aku pun masuk ke dalam cafe kulirik kiri kanan, dan akhirnya menemukan tempat duduk kak Doni.
"Kak"sapaku.
"Eh Laras, ayo mau pesan apa?"tanyanya menawarkan.
"Jus buah alvokado satu"pesanku.
"Minum aja? Ngak sekalian makanan?"tanyanya lagi.
Iya, aku memang belum sempat makan tadi.
"Mie goreng spesial aja deh"pesanku lagi.
"Baiklah".
Dodi pun memesankan pesananku, tak lama kemudian datang pesanan tadi.
"Sila dinikmati"kata kariyawan tersebut sopan.
"Terima kasih"jawabku tersenyum.
"Ayo kak makan"ajakku.
"Aku udah, Kamu pelan-pelan aja makannya ya, sementara aku ngerjain tugas dulu" katanya sambil tersenyum.
Aku melahap makanan tersebut, belum juga masuk kedalam mulutku, aku melihat Riko bersama perempuan yang di ajak jalan-jalan tadi.
Aku berusaha menyembunyikan wajahku di balik laptop Doni, tapi syukurnya mereka ke lantai atas.
Akhirnya aku pun melahap makanan di meja.
Tanpa ku sadari Riko dan perempuan tadi turun kembali,mata Riko pun tertuju kepadaku, aku pun melihat kearah Mereka yang bergandengan tangan.
"Ada apa Rik?"tanyanya.
"Eh..tidak ada apa-apa, ayo Lis"ajaknya ketika tersadarkan.
Mereka mengambil sesuatu dan pergi kembali ke atas, aku hanya melihat mereka naik kesana.
Aku menekan dadaku kuat-kuat,"pliss jangan sakit, jangan sakit"kataku dalam hati.
Melihat reaksiku seperti itu Doni kebingungan.
"Ada apa Laras?"tanya Doni mendekatiku.
"Eh tidak ada apa-apa kak cuma mau tersedak aja tadi"cepat-cepat Aku mengambil minuman dan meminumnya.
"Kayaknya udah lega deh kak"jawabku agar kak Doni ngak panik.
"Oh syukurlah kirain kamu kenapa-napa tadi"katanya khawatir.
"Laras kamu sudah selesai makan belom?"katanyanya.
"Eh udah ni kak, kenapa?"tanyaku sambil mengangkat kedua alisku.
"Ayo kakak bawa kamu kesuatu tempat"ajaknya.
"Ayo"kataku tanda setuju.
Doni pun beranjak dari tempat duduknya dan meuju kasir. Ia pun membayar makan di atas meja termasuk punyaku. Dan Doni pun kembali untuk membereskan barangnya.
"Yuk"ajaknya sambil mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Doni menyerahkan helm kepadaku dan aku pun menerimanya.Aku mengenakankan di kepalaku.Doni mengstaterkan motornya.Aku langsung naik.Akhirnya Doni menjalankan motornya.
Sesampainya di tempat.Wahhh…tempat yang sangat indah.Aku terpukau melihatnya ada sebuah danau yang hijau tenang.Ada permainan Bebek di atas air.
"Ayo duduk di sana Laras"ajak Doni menunjuk sebuah kursi kosong dan di lindungi pohon besar.
Aku menganguk dan mengikutinya.Kami pun duduk bersebelahan sambil menatap danau yang indah.
"Kok ku ngak tau ada tempat seperti ini?".
"Tentu saja, karena ini masih baru saja di buka untuk umum"jelasnya.
"Oh"aku menganguk-angukkan kepala tanda mengerti.
"Kakak sudah punya pacar?"tanyaku memberanikan diri.
"Belum"jawabnya singkat.
"Kenapa?"tanyaku lagi.
"Belum ada yang cocok,kenapa?"dia balik bertanya.
"Takutnya kakak sudah ada pacar, 'kan aku ngak enak nanti sama pacar kakak kalau tau kita main bersama"jelasku.
"Mana tau Laras mau jadi pacar kakak?"tanyanya membuatku merinding.
"Jangan becanda deh kak mana mungkinlah"jawabku sambil membuang wajahku ke samping.
Dia pun tersenyum kecil.
"Laras sudah punya pacar?"tanyanya balik.
"Belum juga"jawabku mengelengkan kepala.
"Jadi ngak ada yang cemburulah ya kalau kita jalan bersama"katanya sambil tersenyum.
Aku pun hanya tersenyum kecil.Hari ini adem sekali.Hatiku tenang melihat danau di depan.
"Laras mau naik bebek air?"tanyanya mengajakku.
"Mau banget"jawabku tanpa malu-malu.
Kami pun menyewa Bebek air tersebut dan menaikinya.Aku tersenyum senang, udaranya sangat segar meski sudah agak sore,karena jauh dari polusi.
Aku bercanda bersama dengan kak Doni.Kami tertawa bersama, siram-siram air.Hari yang sangat menyenangkan.Beda kalau bersama Riko.Aku sering di buat kesal olehnya.Tapi kenapa aku mengingatnya ketika disaat seperti ini,sungguh menganggu kesenaganku.
Setelah puas bermain,kami pun mencari es krim,untuk menyegarkan tengorokan.
Tak terasa hari sudah agak gelap.
"Ayo pulang"ajak Doni.
"Ya"jawabku singkat.
Kami menuju parkiran,dan bergegas meninggalkan danau yang indah itu.Doni melajukan motornya agar tak terlalu lama sampai di rumahku.
Sekitar 40 menit,akhirnya sampai di rumahku.Aku mengembalikan helm milik Doni,dan Doni pun berpamitan pulang.Aku melambaikan tangan tanda perpisahan.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN LIKE YA
__ADS_1