
Ke esokan harinya, aku bangun dengan mata bengkak. Aku sedikit terlambat bangun karena kepalaku sangat pusing.
"Nduk, Ayah berangkat dulu ya" ujar Ayah yang sudah siap pergi.
"Ya Ayah, hati-hati" ucapku.
Tak berapa lama Rino datang ke rumahku.
"Laras, selamat pagi" sapanya.
"Pagi" jawabku.
"Lagi sibuk?" Tanyanya sambil celingak-celinguk.
"Ngak, kamu ngapain pagi-pagi kesini, bolos lagi?" Tanyaku membenarkan.
"Iya, hehehe, aku mau ngasih tau Riko di kurung di rumah oleh ayahnya" kata Rino memberi tau
"Terus aku bisa apa? Dari awal pertemuan kami adalah yang paling tidak aku inginkan, aku tidak mengharapkan apapun, lagian kami berbeda, tak seharusnya kami bersama" jelasku sedih. " Jika kamu ketemu dengan dia, bilang sama dia jangan pernah mencariku lagi, aku sudah ada seseorang yang ku sukai, meski itu menyakitkan untuknya, tapi sebenarnya, itulah yang terbaik untuknya" sambungku lagi.
"Ayo pergi" ajak Rino.
"Kemana?" Tanyaku heran.
"Tempat yang membuatmu senang" ujarnya .
"Ngak usah, aku di rumah saja, lihatlah mata bengkakku ini, malu jika bertemu orang" kataku menunjukan arah wajahku yang rasanya habis di gigit tawon.
"Udah ayo aja, aku tau kamu sedang sedih, kamu itu butuh teman untuk menghiburmu, kubawa kesuatu tempat yang kamu sukai" kata Rino lagi.
"Rino gimana nanti pamanmu tau, jika kamu membawaku, aku pasti yakin, aku tidak di bolehkan lagi dekat dengan keluarga kalian" ujarku lagi mengingatkannya.
"Tenang saja, ini tempat jauh dari rumah keluargaku" jawabnya memastikan.
"Baiklah, tapi aku kasih tau Ayah dulu biar dia ngak khawatir" kataku mengambil ponsel dan menelpon Ayah.
Tuuut... tuuut...
Tuuut... tuuut...
Tuuut... tuuut...
"Halo" sapa Ayah.
"Halo Ayah di mana?" tanyaku karena tumbenan Ayah mengangkat yelponnya lama.
"Oh, Ayah sedang bersama teman Ayah, lagi ngobrol, ada apa?" Tanya Ayah.
"aku mau pergi main sama teman aku, boleh ngak?" Tanyaku.
"Oh boleh, pergi aja yang penting kamu ngak suntuk saja terus" jawab Ayah mengizinkan.
"Makasih Ayah" ucapku.
"Ya sama-sama, Ayah tutup telponnya ya, Ayah lanjut ngobrol lagi"
"Ya Ayah" jawabku menutup panggilan.
"Gimana?" Tanya Rino.
"Boleh sih, tapi aku pake masker aja ya, biar ngak kelihatan wajahku" ujarku.
"Terserah kamu saja" katanya mengangkat bahu.
"Aku mandi dulu"
"Perempuan merepotkan" ujarnya mencibir.
"Kamu dengan kakakmu Riko sama saja ya, sama-sama menjengkelkan"
__ADS_1
"Mau gimana lagi, nenek moyang kami sama" ujarnya merasa tak bersalah.
"Mau nungguin ngak" kataku.
"Iya sana" ujarnya menyuruhku untuk segera pergi.
Aku mandi dan berganti pakaian, hanya memoleskan lipstik tanpa bedakan, tak lupa memakai masker.
"Udah ayo" ajakku.
Kami berdua naik mobil Rino dan Rino langsung melajukan mobilnya.
Tak berapa lama ia berhenti di suatu tempat.
"Ayo" ajaknya.
"Ke mana?" Tanyaku heran.
"Kesalon biar kamu ngak kelihatan jelek-jelek amat" katanya lagi.
"Yeee... aku 'kan emang ngak jelek, karena wajahku bengkak aja makanya kayak gini" kataku membela diri.
"Pantesan pas melihat kamu di rumah tadi kukira badak habis ketabrak tiang listrik" kata Rino mengejek.
"Asem lu Rino" kataku ingin mencubit lengannya, tapi ia langsung lari.
Rino langsung menuju salon
"Mbak tolong buatkan teman saya secantik mungkin, sulap dia jadi malaikat" kata Rino kepada penyalon itu.
"Baiklah" jawab mbak salon itu.
Permak kiri, permak kanan, permak atas, permak bawah, eh di bawah ngak perlu di permak. dan akhirny selesai.
"Bagaimana?" Tanya penyalon itu.
"Nyebelin banget sih kamu Rino, Riko juga nyebelin kayak kamu, semua keluargamu nyebelin" kataku.
"Hehehe... jangan marah-marah donk, nanti ngak dapet jodoh" katanya nyengir.
"BODO AMAT!" Jawabku kesal.
"Udah kita ke suatu tempat sambil makan, laper banget, ngak sempat makan gara-gara kamu" ujarnya menyalahkanku.
"Bangsat lu, siapa yang minta di jemput sama di salon, kalo tau kamu kayak gini, mending kututup aja pintu rumahku" kataku manyun.
"Oke saatnya berangkat" katanya sambil melajukan mobil di jalanan.
Brumm... brumm...
Sempat-sempatnya dia balapan sama salah satu cewek di jalan raya. Membuatku ketakutan saja.
Dan akhirnya sampailah suatu tempat, yang katanya membuatku senang.
"Waoooow... kamu tau aja tempat aku menenangkan diri" kataku sambil menghirup udara segar.
"Iya, aku sering bawa cewek kalo main-main ya ke pantai" jawabnya melihat kearah pantai.
"Jadi aku cewek yang keberapa nih?" Tanyaku dengan wajah sebel.
"Yang kesekian-sekian"
"Ternyata kamu playboy, buaya darat" kataku.
__ADS_1
"Gimana lagi, ini lah nasib orang ganteng" jawabnya bangga.
"Pala lu iya" kataku sambil tertawa.
"Ayo kesana makan dulu, cacing di perutmu udah pada lemes tu, kamu anggurin dari tadi" katanya meledek.
"Rinoooo... pantesan ngak ada yang dekati kamu lagi, habis kamu ledeki, sekarang aku jadi tumbalmu" jawabku manyun.
"Ngak ah, cewek-cewek pada ngajak main hari ini, cuma ku cancel karena aku mau bawa kamu aja jalan-jalannya" ujarnya nyengir.
Mendengar ucapannya aku langsung mencibir. "Banyak gaya" ucapku.
Rino membawaku ke restoran yang ada di pantai, pemandangan yang sangat indah.
"Pesan yang kamu suka" katanya menyodorkan buku menu.
"Ku buat sampai bangkrut dirimu" ujarku menyambar buku menu tersebut.
"Terserah" katanya cuek.
Aku memesan yang menurutku sangat ku sukai.
"Ya udah makan kamu sendiri, aku pesan yang lain saja" ujarnya.
Aku melahap makanannya. Karena perutku sangat lapar.
"Kamu makan kok kayak Bebek, nyosor aja" kata Rino memprotes cara makanku.
"Brisik aja, makan aja punyamu" kataku sambil mengunyah makananku.
"Punyaku?"
???...
"Ayo, aku mau maen air" kataku setelah selesai makan.
"Ya udah, ayo" kata Rino.
Aku bermain air dengan suka cita, tertawa dan lempar-lempar pasir dengan Rino. Rino pun mengejarku. Tanpa kusadari tiba-tiba Rino hilang, namun aku tidak peduli, tak berapa lama ia muncul.
"Udahan mainnya, nih ganti baju" kata Rino menyodorkan satu set baju baru.
"Eh... terima kasih ya" ujarku dan menerima baju yang di beri Rino.
Aku segera berganti baju, dari jauh Rino melambaikan tangannya. Baru saja aku ingin mendekatinya, Rino di dekati oleh seorang perempuan dan perempuan itu marah-marah.
"Kamu kesini sama siapa? Aku melihat kamu membawa seorang perempuan, di mana perempuan itu" teriak perempuan tersebut bernama Mona.
"Ini di tempat ramai, apa yang kamu lakukan?" Tanya Rino menarik tangan Mona.
"Biar, biar semua orang tau kalau kamu selingkuh, cepat kamu keluar plakor" teriak Mona itu lagi.
"Mona, sejak kapan aku selingkuh, sedangkan kita tak pernah pacaran, di mananya aku selingkuh, kamu hanya teman sepermainan saja, aku tidak menganggapmu pasanganku" balas Rino.
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE DAN SARAN
__ADS_1