Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Pertengkaran Ayah dan Pak Kim


__ADS_3

Sesampainya di sana, aku dan Ayah turun dari mobil menuju arah yang di tunjuk oleh supir tadi.


"Bukankah ini restoran Riko, munkin teman Ayah membawa kami makan di sini." pikirku dalam hati.


Tiba-tiba pelayan menghampiri kami.


"Silakan ikut saya, Tuan kami sudah menunggu Anda di dalam" ujar pelayan itu sopan. Kami mengikuti pelayan tersebut.


"Sialankan Anda masuk, di sini ruangannya" kata pelayan itu mempersilakan.


"Terima kasih" jawab Ayah. Pelayan iti menundukkan kepalanya.


Ayah pun memegang gagang pintu.


Cklek.


Pintu pun terbuka.


Teman Ayah langsung berdiri menyambut kami.


Aku terkejut...


Ayah juga kaget...


"Laras" panggil Riko dan pak Kim secara bersamaan.


"Riko" panggil Ayah tak percaya.


"Kalian saling mengenal?" Tanya pak Kim kaget.


"Riko ini anakmu Kim?" tanya Ayah mulai gusar. Ia tidak peduli dengan pertanyaan Kim tadi.


"Iya Jhoni" kata pak Kim mengangguk.


"Jadi kamunyang sudah menampar Laras dan mengeluarkannya ia dari kampus dan tidak bisa masuk kampus manapun di kota ini?" Tanya Ayah dengan membentak pak Kim.


"Aku tidak tau jika Laras adalah anakmu Jhoni" kata pak Kim merasa bersalah.


Aku hanya bisa diam, sedangkan Ayah masih mengengam erat tanganku. Apa yang di lakukan Riko? Dia menatap wajahku sambil tersenyum. Aku memandang kearahnya, karena ia melihatku, langsung kualihkan pandanganku.


"Apa kamu tau? kau menamparnya sama juga menamparku." tukas Ayah yang mulai emosi, namun ia bisa menahannya untuk saat ini.


"Jhoni, aku melakukan itu agar tidak ada perempuan lain mendekati Riko" jelas pak Kim memelas.


"Apa ini cara dari seorang Kim yang terhormat kepada orang biasa?" Tanya Ayah gusar.


"Jhoni..." ujar pak Kim terputus, ia langsung tak bisa berkata-kata.


"Jika aku tidak pernah membantumu dari awal, mungkin bisa saja kau sudah mendepakku dari kota ini atas kekuasaanmu, karena hanya anakku menyukai anakmu, perasaan seseorang tak bisa kau paksakan dengan keegoanmu, jika anakku tidak menyukai anakmu, aku tidak akan memaksanya menikah dengan anakmu meskipun kamu kaya" jelas Ayah dengan nada tinggi.


Kim hanya diam menatap sayu Ayah.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku tidak sakit hati ketika kau tiba-tiba membatalkan makan malam kemaren? Yang kau bilang kejutan dan hadiah apapun itu, aku tak butuh semua itu, karena selama aku jualan bakso keliling, aku sanggup menghidupi keluargaku, sanggup aku menyekolahkan anakku. Laras adalah satu-satunya keluargaku, kau sakiti, apa aku terima begitu saja? Ya sudahlah sampai di sini saja perjodohannya, kau orang terhormat, sedangkan kami orang tak punya, kita berbeda kasta, carilah orang yang sederajat denganmu" sambung Ayah lagi dan menarik tanganku.


"Kau lihat inilah anak yang kau tampar dan kau putuskan harapannya, tapi kau malah tak sabar untuk menjadikan menantumu" ujar Ayah lagi yang masih emosi.


"Maaf Jhoni, seharusnya aku menyadarinya dari awal" kaat pak Kim merendahkan suaranya.


"Ya sudah nak kita tak layak untuk makan semeja dengan orang-orang terhormat ini" tukas Ayah sambil menarik tanganku dan membawaku pergi.


"Jhoni, jangan pergi dulu, aku ingin menyerahkan sesuatu untukmu" kata pak Kim memohon.


"Simpan saja untukmu" ujar Ayah dan langsung membawaku pergi, tanpa mengubris pangilan pak Kim lagi, aku hanya mengikuti langkah Ayah.


Tiba-tiba pengawal menghadang ku dan Ayah.


"Kim, apa ini caramu memperlakukanku dan anakku. Apa aku bagaikan lumpur di matamu sehingga bawahanmu memperlakukan kami seperti penjahat." teriak Ayah sambil menendang meja restoran itu hingga patah. Dan untungnya di restoran d tutup sehingga tidak ada pengunjung.


"Sudah Ayah, jangan marah lagi, jangan membuatku takut Ayah" tangisku sambil memeluk Ayah yang badannya gemetar karena emosi.


"Jangan halangi mereka, dan mulai sekarang mereka juga bagian keluargaku" kata pak Kim memberi perintah.


"Aku tidak butuh pengawal, karena aku bukan orang terhormat sepertimu" tukas Ayah dan membawaku keluar dari restoran.


Pak Kim hanya bisa terduduk lemas di meja restorannya. "Aku juga tak ingin jadi seperti ini Jhoni, aku benar-benar minta maaf" lirih pak Kim bersedih.


Riko mengejarku dan Ayah.


"Ayah, Laras tunggu, biar kuantar kalian pulang" kata Riko menawarkan.


"Aku mohon Ayah, biarkan ku mengantarkan Ayah dan Laras" ujarnya memohon.


"Sudahlah Riko, jangan ganggu kami lagi" tegas Ayah.


"Terserah Ayah, Ayah mau memukulku, memarahiku, memakiku, asalkan Ayah membiarkan aku bersama Laras" ujar Riko berlutut di depan Ayah.


" Apa kamu pikir, setelah aku memukulmu dan habis itu aku membiarkan Laras bersamamu?" Teriak Ayah.


"Tapi Ayah, aku benar-benar mencintai Laras," ujar Riko memohon.


"Riko, biarkan semua mereda dulu, barulah kita akan bicara lagi" ujarku.


Aku dan Ayah meninggalkan Riko yang masih berlutut. Aku memanggil taksi dan pergi.


"Laras aku mencintai mu" teriak Riko.


"Dia masih saja gila" kataku dalam hati sambil tersenyum.


***


Keesokan paginya, ketika Ayah membuka pintu, ia melihat Riko tidur di teras rumah.


"Ayah" Riko terbangun dan mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.

__ADS_1


"Kenapa kamu di sini?" Tanya Ayah dengan nada rendah.


"Main-main Ayah" jawab Riko mencari alasan.


"Apa ada orang main-main sepagi ini?" Tanya Ayah lagi menganggkat alisnya.


"Saya ingin bertemu Ayah dan Laras, karena sudah sekian lama saya di kurung" jawabnya jujur.


"Saya tidak mengizinkannya, kamu dan Ayahmu sama saja, sama-sama menyakiti anak saya" kata Ayah meyindir.


"Ayah, saya janji tidak akan menyakiti Laras, saya serius dengan Laras" kata Riko memelas.


"Apa kamu bilang? Serius? kuliah yang bener, jalani usaha yang tekun, baru kamu bilang serius" kata Ayah menasehati.


"Jadi Ayah setuju jika saya melakukan semua itu?" kata Riko dengan mata berbinar-binar.


"Apa saya ada bilang setuju?" Tanya Ayah menekukkan alisnya.


"Ayah saya mohon" kata Riko memohon untuk yang kesekian kalinya.


"Sudahlah Riko, pulanglah, biarkan Laras menentukan pilihannya sendiri" jawab Ayah menutup pintu.


"Ayahhhhh, aku sangat mencintai Laras" teriak Riko dari balik pintu.


"Dasar bocah gendeng" ujar Ayah.


"Ada apa Ayah?" Tanyaku yang terlambat menyaksikan Riko tidur di teras.


"Tidak ada apa-apa" ucap Ayah. Tidak ada apa-apa kenapa wajah Ayah sebel.


***


Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pengantar surat datang kerumah.


"Permisi, apa ini rumah pak Jhoni?" Tanya pengantar surat itu.


"Ya ada apa?" Tanyaku heran.


"Ini ada surat untuk Anda, silakan di tanda tangani" kata pak pengantar surat menyodorkan selembar kertas. Aku pun menanda tanganinya


"Baiklah terima kasih" ucap bapak itu dan pergi.


"Surat? dari siapa?" Tanyaku binggung.


Aku langsung membuka amplopnya, dan ternyata isinya adalah...


BERSAMBUNG


JANGAN LIKE DAN SARAN


__ADS_1


__ADS_2