Cinta Riko Dan Laras

Cinta Riko Dan Laras
Rencana


__ADS_3

Dia hanya diam.


"Ini benar-benar membuatku kesal," batinku.


Aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Memandanginya lekat-lekat dan memainkan rambut panjangnya.


"Aku tidak yakin jika aku tak bisa menyakitimu, lebih baik kamu jujur saja, atau kamu berakhir dengan menyedihkan," kataku pelan namun mengintimidasinya agar ia takut.


Putri dan Lusi medelik ngeri.


"Astaga, sejak kapan Laras jadi kejam seperti itu?" Tanya Putri berbisik.


"Apa jangan-jangan ini adalah sisi lain yang tidak kita ketahui?" Lusi balik bertanya.


"Lain kali hati-hati berbuat sesuatu dengan Laras," bisik Putri lagi.


"Iya," jawab Lusi.


Namun dia tetap diam.


Aku mengebrak meja dengan kencang. Menaikan kaki kiri ke atas meja lalu memegang dagunya dengan kuat.


"Lebih baik kamu jujur saja, untuk apa kamu melakukannya, apa keuntunganmu dan siapa yang menyuruhmu?" Tanyaku sambil menata lekat matanya. Lagi-lagi ia diam


"Baiklah jika mulutmu terkunci rapat, siksa dia," perintahku kepada pengawal Riko.


"Baik Nona," jawab pengawal tersebut memegang tangan perempuan tersebut.


"Baiklah baiklah, aku katakan," teriaknya ketakutan.


Aku tersenyum lalu membalikkan badan untuk mencari perekam suara.


"Oke! Katakan dengan jujur, atau aku tidak berbaik hati," ujarku pelan.


"Aku di suruh oleh seseorang," jawabnya.


"Siapa dia?" Tanyaku.


"Dia tidak boleh mengatakan identitasnya," jawab perempuan itu lagi.


"Katakan! Aku tidak suka orang bertele-tele," ujarku.


"Tidak bisa, jika aku mengatakannya aku takut jika aku mengalami suatu masalah," jawabnya sambil menundukan kepala.


"Katakan saja, mungkin jika kamu mengatakannya kami bisa membantumu menyelesaikan," ujarku.


"Apa kalian yakin bisa membantuku?" Tanyanya mendongakan kepalanya.


"Ya, yang tapi kamu benar-benar harus jujur," jawabku.


"Dia... Lisa," jawabnya pelan.


"Apa alasannya dia melakukan itu?" Tanyaku menekukkan alis.

__ADS_1


"Dia menyukai Riko, dia melakukan itu agar kalian berpisah dan ia mendapati Riko," jelasnya.


Aku menatap Riko. Dia cengengesan lalu mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Astaga, kenapa Riko kelihatan orang bodoh di depanku dan kelihatan macho jika di lihat orang lain.


"Oh dia menyukai Riko, Katakan saja pada Lisa, ambil saja Rikonya aku ngak mau," ujarku bercanda sembari menatap Riko. Perempuan itu bingung.


"Sayang... kamu kok tega ya memberiku kepada orang lain," kata Riko merengek seperti bayi.


"Baiklah, kamu tak perlu khawatir, kami akan membereskannya," ujarku tanpa peduli dengan rengekan Riko.


"Terima kasih," ucapnya.


"Lepaskan saja dia, dan antar dia pulang" perintahku.


"Baik Nona," jawab pengawal itu. Perempuan tersebut keluar dan pergi dari rumah Riko beserta pengawal lainnya.


"Wah... kamu benar-benar keren Laras," teriak Lusi.


"Hehehe... baru tau kalian," kataku menyunggingkan senyumku.


"Keren keren keren," puji Radit sambil bertepuk tangan.


"Ya sudah hari sudah larut, kita tidur saja, besok baru lanjut kita menemui Lisa," ujarku. Kami masuk kamar dan tidur.


xxx


"Mau makan apa Neng semua?" Tanya bibi ramah ketika melihat kami turun dari tangga.


"Sanwich aja Bi," jawabku.


"Aku...," Putri masih berfikir makanan apa yang mau ia makan.


"Alah... sama semuanya aja Bibi, ngak perlu Bibi repot-repot bikin yang lain," potongku.


"Kamu makin lama kok mirip pemimpin deh Laras," ujar Radit dari belakang.


"Oh ya," ujarku mengangkat alis. Kami duduk di meja makan sambil menyusun rencana sebelum bibi selesai membuat sarapan.


"Jadi bagaimana?" Tanya Lusi penasaran.


"Riko, kamu jadi umpannya," perintahku. Riko mengangkat alisnya.


"Kamu pancing dia agar dia bicara jujur, terserah pakai cara apa pun kalo perlu rayu dia,"


"Hah! Nanti kamu cemburu," katanya tak terima.


"Ini bukan saatnya cemburu dan bawa perekam, kami akan melihat kalian dari atas dan kamu juga bawa dia di suatu tempat yang akan kita tentukan," ujarku layaknya pemimpin.


"Baiklah baiklah, tapi apa hadiah untukku jika aku berhasil melakukannya?" Tanyanya meminta imbalan.


"Hadiahnya, aku akan memaafkanmu karena selama ini kamu sudah mengabaikanku," jawabku.

__ADS_1


"Hadiah macam apa itu?" Tanyanya mencibir.


"Itu adalah hadiah terindah dalam hidupmu," jawabku.


"Terima kasih sayang," ucapnya manyun.


"Ini sarapannya," kata bibi meletakkan piring sarapan kami di meja.


"Terima kasih Bi," ucapku.


"Makasih ya Bi," ucapa Lusi.


"Makasih Bi," ucap Putri.


Kami menyantap sarapan tersebut.


"Oke, Riko telpon kamu punya nomor telpon Lisa?" Tanyaku.


"Iya," jawab Riko.


"Kau bahkan menyimpan nomor telponnya," ujarku membelalaknya.


"Oke oke, aku hapus," jawabnya.


"Telpon dia," ujarku kembali datar.


"Perempuan emang ngak bisa di tebak," omel Riko.


Tuuut...


Tuuut...


Tuuut...


"Halo Riko," jawab Lisa manja. Aku membelalakan mata kearah Riko. Riko bergelik ngeri.


"Kamu di mana sekarang?" Tanya Riko.


"Di rumah ni, ada apa?" Lisa balik bertanya dengan suara lembutnya sedangkan aku terus memantau Riko.


"Kita bisa ketemuan?" Tanya Riko.


"Bisa banget," jawab Lisa senang.


"Oke, nanti aku share lokasinya, aku mau siap-siap dulu.


"Oke," jawabnya. Aku tebak Lisa pasti tersenyum senang itu.


"Ayo kita berangkat mencari tempat yang cocok," ajakku.


"Bagaimana jika di hotelku saja," usul Riko.


"Baiklah," kami pun berangkat.

__ADS_1


__ADS_2